Perkataan Imam-Imam di Dalam Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Perkataan Yang Bertentangan Dengannya.
Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebahagian perkataan mereka, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain mereka yang lebih rendah darjatnya dari taklid buta, dan bagi orang yang berpegang teguh kepada mazhab- mazhab dan perkataan-perkataan mereka, sebagaimana kalau mazhab- mazhab dan perkataan-perkataan itu turun dari langit. Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berfirman:
"Ikutilah apa yang diturunkan kepada mu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)". (QS. Al-'Araf :3)
I. ABU HANIFAH
Yang pertama-tama di antara mereka adalah Imam Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan darinya, yang semuanya melahirkan satu kesimpulan, Iaitu kewajipan untuk berpegang teguh kepada hadis dan meninggalkan pendapat para imam yang bertentangan dengannya.
"Apabila hadis itu shahih, maka hadis itu adalah mazhab ku." (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)
"Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqa'u fi Fadha 'ilits Tsalatsatil A'immatil Fuqaha'I, hal. 145)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: "Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasan ku untuk memberikan fatwa dengan perkataan ku". Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: "sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari".
"Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah salallahu 'alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah perkataanku". (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)
2. MALIK BIN ANAS
Imam Malik berkata:
"Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapat ku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah, tinggalkanlah". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami', 2/32)
"Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Salallhu 'Alaihi Wasallam". (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)
Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahawa Malik ditanya tentang menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: 'Al-Laits bin Sa'ad dan Ibnu Lahi'ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Ma'afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepada ku dengan kelingkingnya apa yang ada di antara jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, "sesungguhnya hadis ini adalah Hasan, 'aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta'dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)
3. ASY-SYAFI'I
Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafi'i di dalam hal ini lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkannya. Di antaranya:
"Tidak ada seorang pun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapan ku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Inilah ucapan ku." (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)
"Kaum Muslimin telah sepakat bahawa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang." (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)
"Apabila kamu mendapatkan di dalam kitab ku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan sunnah rasulullah Salallahu 'alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan." Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)
"Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku." (An-Nawawi di dalam Al-Majmu', Asy-Sya'rani, 10/57)
"kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari pada ku tentang hadis dan orang-orangnya (Rijalu 'l-Hadits). Apabila hadis itu shahih, maka ajarkanlah ia kepada ku apa pun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah mahu pun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermazhab dengannya." ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi'I, 8/1)
"Setiap masalah yang di dalamnya khabar dari Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidup ku dan setelah aku mati." (Al-Harawi, 47/1)
"Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadis Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermazhab dengannya." (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu'addab)
Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi salallahu 'alaihi wa sallam terdapat hadis shahih yang bertentangan dengan perkataan ku, maka hadis nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu mengikutiku." (Aibnu Asakir, 15/9/2)
4. AHMAD BIN HAMBAL
Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu') dan pendapat Oleh karena itu ia berkata:
"Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi'i, Auza'i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil." (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I'lam, 2/302)
"Pendapat Auza'I, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagi ku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar." (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami', 2/149)
"Barang siapa yang menolak hadis Rasulullah Salallahu 'alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran." (Ibnul Jauzi, 182).
Allah berfirman: "Maka demi Tuhan mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya" (An-Nisa:65), dan firman-Nya: "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." (An-Nur:63).
Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata:
"Adalah menjadi kewajipan bagi setiap orang yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wa Sallam dan mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasihati mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal itu bertentangan dengan pendapat orang besar di antara umat, maka sesungguhnya perintah Rasulullah salallahu 'alaihi wa Sallam itu lebih berhak untuk disebarkan dan diikuti dibandingkan pendapat orang besar mana pun yang telah bertentangan dengan perintahnya di dalam sebahagian perkara secara salah. Dan dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka telah menolak setiap orang yang menentang sunnah yang sahih, dan barangkali mereka telah berlaku keras dalam penolakan ini. Namun demikian, mereka tidak membencinya, bahkan dia dicintai dan diagungkan di dalam hati mereka.
Akan tetapi, Rasulullah Salallahu 'alaihi wa Sallam adalah lebih dicintai oleh mereka dan perintahnya melebihi setiap makhluk lainnya. Oleh karena itu, apabila perintah rasul itu bertentangan dengan perintah selainnya, maka perintah rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan diikuti. Hal ini tidak dihalang-halangi oleh pengagungan terhadap orang yang bertentangan dengan perintahnya, walaupun orang itu mendapat ampunan. Orang yang bertentangan itu tidak membenci apabila perintahnya itu diingkari apabila memang ternyata perintah Rasulullah itu bertentangan dengannya. Bagaimana mungkin mereka akan membenci hal itu, sedangkan mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya, dan mereka telah mewajibkan mereka untuk meninggalkan perkataan-perkataan yang bertentangan dengan sunnah."
(Di sadur dari Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii SAW, karya Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah).
Catatan pengalaman, pendapat dan curahan hati untuk dijadikan bacaan ringan sanak saudara dan kawan-kawan - tiada rahsia. Semua dijemput.
04 February 2011
03 February 2011
Selepas 53 tahun...
Ini adalah gambar emak saya dengan 3 orang adik-adiknya. Dari kanan adalah emak saya, sebelahnya adalah Mak Lang, Mak Ngah dan hujung kiri adalaj Mok Teh. Gambar ini diambil di Singapura baru-baru ini di rumah adiknya Mak Ngah saya. Yang tiada dalam gambar ini adalah Acik dan Pak Usu saya. Masing-masing berada di Melaka dan Singapura.
Gambar ini kalau tak silap, kata emak saya diambil semasa emak berusia 19 tahun. Masa ini emak masih belum berkahwin dengan ayah. Gambar ini diambil di Singapura,yang pada masa itu merupakan negara keluarga emak. Emak saya yang duduk, di sebelahnya Pak Usu, berdiri dari kanan Mok Teh, Mak Ngah, Mak Lang dan berdiri depan kiri adalah Acik.
Beli Lauk
Pada keesokan harinya, selepas ke pusara ayah, kami ke Pasar Nyalas untuk beli barang-barang basah seperti udang, sayur dan sebagainya. Foto atas, mak baru keluar dari pasar dengan menjinjit 2 beg plastik penuh dengan barang-barangan. Gambar sebelah, emak baru mengalihkan anak kucing yang duduk di hadapan kereta kami.
Majlis Reunion Anjuran Hajah Noor Ainee
Hajah Noor Ainee, seorang sahabat kami yang baru bersara telah menghubungi Hajah Fabilah menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan beberapa orang sahabat yang masih lagi bertugas di Kementerian Pertahanan. Tempat yang dipilih oleh beliau adalah di Felda Villa, tak jauh dari ibu pejabat Kementerian Pertahanan. Dengan susah payah beliau memandu darikampong beliau di Negeri Sembilan ke Kuala Lumpur.
02 February 2011
Mencari Akar Keturunan
Setiap kali saya balik ke kampong di Melaka, saya pasti teruja untuk mencari semula akar keturunan saya. Siapakah mereka?, dari mana asal mereka? dan bagaimana budaya dan anutan mereka. Dari dengar-dengar cakap dan cerita mak serta saudara-saudara, keturunan saya berasal dari pelbagai bangsa dan agama. Ini adalah proses asimilasi yang berlaku di Melaka dulu-dulu, apabila Melaka menjadi pelabuhan penting dalam peta dunia pada masa itu. Di sini bermulanya proses pertembungan budaya, pertukaran ideologi dan perkembangan budaya melalui proses perkahwinan. Agaknya itu yang berlaku kepada asal keturunan saya.Yang sangat pasti keturunan sebelah emak saya berasal dari dua buah negara yang sangat asing, iaitu ayah emak (atuk saya - Haji Mamood bin Omar) dari keturunan Cina dari negeri China, mereka menganut agama/ bangsa tionghua, Bapa atuk saya [Moyang Omar adalah seorang Cina dan memeluk Islam serta berkahwin dengan Moyang Sakdi yang juga dipercayai seorang Cina Islam (keturunan moyang Sakdi tidak dapat dikesan)]. Lim adalah nama pangkal keturunan Cina moyang lelaki saya.
Semasa kecil saya pernah ke rumah nenek saudara yang bukan Islam di Simpang Pajak dan pastinya dalam rumahnya ada gambar tuhan Cina dengan misai dan janggut yang panjang. Di hadapan gambar itu diletakkan sepiring buah limau yang saya suka ambil dan makan. Kalau tak salah saya di belakang rumahnya ada sepasang kubur Islam yang selalu dikunjungi oleh mereka dengan mengadakan kenduri. Maklumlah saya tak faham apa-apa masa itu sebab masih kanak-kanak, apa lagi makan je la.
Keturunan sebelah atuk saya ini masih lagi ada di Kesang Pajak, Jasin Melaka dan masih ramai lagi di Bukit Rambai. Beberapa kali saya cuba untuk cari tapi tak berani sebab tak tahu nak dimulai dari mana.
Sebelah emak, emak saya (nenek saya Chik binti Manap) adalah bangsa Jawa, keturunan inilah yang membuka kampung Kesang Tua, Jasin Melaka. Itulah sebabnya boleh dikatakan satu kampong ini adalah saudara mara kami. Sayangnya nenek saya ini meninggal dunia dalam usianya yang sangat muda iaitu 32 tahun semasa melahirkan anak bungsunya yang juga meninggal dunia.
Asal keturunan sebelah ayah juga macam sebelah emak, di mana terdapat 2 bangsa, iaitu Melayu dan Cina. Bapa ayah saya (Haji Lesut bin Muslim) juga berketurunan Cina, tetapi asal keturunan mereka telah memeluk Islam agak lama jika dibandingkan dengan sebelah atuk emak. Ayah saya adalah anak tunggal dari perkahwinan atuk saya dengan nenek saya (Nenek Munab binti Raidin). Kebanyakan kaum kerabat Nenek Munab (dalam gambar Nenek Munap adalah sebelah kiri) berada di Kampong Kemengkang Jasin, seperti juga kaum kerabat di Kesang begitu jugalah dengan di sini, boleh dikatakan seluruh kampong adalah saudara mara kami. Yang sebenarnya masih ramai lagi cabang dan ranting keluarga yang perlu dilukis...... tapi..... apakan daya tiada tenaga....
Dah banyak kali saya cuba bangunkan family tree, tapi susah nak cari roots. Jadi projek itu masih terbengkalai, kalau ada keturunan selepas ini yang sanggup untuk meneruskannya. Selamat mencuba.
Kisah Mazhab Hanafi
Pada suatu ketika, kota Baghdad didatangi oleh seorang pendakyah Yahudi bernama Dahri. Kedatangannya mencetuskan kegemparan di kalangan umat Islam. Dahri cuba merosakkan pegangan umat Islam dengan membahaskan soal-soal yang berhubung kait dengan ketuhanan. Dicabarnya para ulama Baghdad untuk berdebat dengannya. Setiap kali cabarannya disahut, hujah-hujah Dahri tidak pernah dapat dipatahkan sehingga akhirnya tidak ada lagi ulama Baghdad dan ulama-ulama di sekitarnya yang sanggup berhadapan dengannya. Dari kejadiannya ini, tahulah Khalifah bahawa Baghdad sudah ketiadaan ulama yang benar-benar berwibawa dan tinggi ketaqwaannya.
Lalu Khalifah memerintahkan beberapa orang menteri meninjau ke daerah lain, kalau-kalau masih ada ulama yang boleh dibawa berdepan dengan Dahri. Akhirnya wakil Khalifah menemui Imam Hammad bin Abi Sulaiman Al-Asyari, seorang ulama yang tidak kurang juga ketokohannya. Khalifah memerintahkan supaya hari perdebatan antara Imam Hammad dan Dahri disegerakan.
Majlis bersejarah itu mesti dibuat di Masjid Jamek di tengah-tengah kota Baghdad. Sehari sebelum pertemuan itu lagi, Masjid Jamek telah penuh sesak dengan orang ramai. Masing-masing menaruh harapan agar Imam Hammad berjaya menumbangkan Dahri kerana beliaulah satu-satunya ulama yang diharapkan. "Subhanallah.... Subhanallah .... Walauhaulawala quwwata illa billahi aliyyil azim....!" Lidah Imam Hammad terus melafazkan kalimat mensucikan segala tohmahan yang tidak layak bagi Zat yang Maha Agung. Dia beristighfar terus. Rasanya dah tidak sanggup telinganya menadah bermacam-macam tohmahan yang dilemparkan oleh Dahri yang biadab dan materialis itu.
Mempertikaikan KeEsaan Allah SWT bukanlah perkara kecil dalam Islam. Ini
kes berat! Hatinya cukup pedih. Roh ketauhidannya bergelora. Mahu rasanya dipenggal leher si Dahri yang angkuh itu di depan ribuan mata yang turut hadir dalam majlis itu.
Keesokannya, pagi-pagi lagi muncul Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang paling rapat dan yang paling disayanginya. Namanya yang sebenar ialah Nu' man, yang ketika itu usianya masih lagi remaja. Bila ternampak keadaan gurunya itu, Abu Hanifah pun bertanya untuk mendapat kepastian. Lalu Imam Hammad menceritakan keadaan yang sebenar. Dalam pada itu teringat Hammad akan mimpinya malam tadi, lalu dikhabarkan kepada muridnya itu. Abu Hanifah mendengarnya dengan penuh khusyuk.
"...Aku bermimpi ada sebuah dusun yang amat luas lagi indah. Di sana ku lihat ada sepohon kayu yang rendang dan lebat buahnya. Tiba-tiba, di situ keluar seekor khinzir dari hujung sebuah kampung. Lalu habis dimakannya buah-buahan yang masak ranum dari pokok itu. Hingga ke daun dan dahan-dahannya habis ditutuh. Yang tinggal cuma batangnya sahaja. Dalam pada itu juga keluar seekor harimau daripada umbi pohon rendang tadi lalu menerkam khinzir itu dengan gigi dan kukunya yang tajam. Lalu,khinzir tadi mati di situ juga."
Hammad termenung seketika. Kekalutan pemikiran yang telah dicetuskan Dahri, yang boleh menggugat pegangan akidah umat ini, tidak boleh di biarkan. Mesti dihapuskan segera. Wajahnya yang tenang bagai air sungai yang mengalir jernih, masih nampak bercahaya walau di saat sebegitu genting. Satu kelebihan Abu Hanifah ialah beliau juga dikurniakan Allah ilmu mentadbir mimpi, sebagai mana Nabi Allah Yusuf. Pada pengamatannya juga, mimpi tersebut akan memberi petanda baik bahawa si Dahri pasti akan menerima padahnya nanti. Dan setelah mendapat keizinan gurunya, dia pun cuba mentafsirnya: " Apa yang tuan lihat dalam mimpi tuan sebagai dusun yang luas lagi indah itu adalah tamsilan kepada agama Islam kita. Pokok yang berbuah lebat itu adalah tamsilan kepada sekalian ulamannya. Manakala sepohon kayu yang masih tinggal itu adalah tuan sendiri. Dan khinzir yang tiba-tiba muncul dan merosakkan pohon tersebut ialah si Dahri. Manakala harimau yang keluar lalu membunuh khinzir tadi... adalah saya..." jelas Abu Hanifah.
Beliau juga memohon izin untuk membantu gurunya berdepan dengan si Dahri. Betapa gembiranya hati Iman Hammad bila tercetusnya hasrat itu dari hati muridnya sendiri. Maka berangkatlah ilmuan budak itu bersama gurunya untuk pergi ke Masjid Jamek di mana majlis dialog akan diadakan yang dihadiri oleh orang ramai dan Khalifah.
Seperti biasanya, sebelum menyampaikan dakyahnya, Dahri akan mencabar dan memperleceh-lecehkan ulama dengan bersuara lantang dari atas pentas. " Hai Dahri, apalah yang digusarkan. Orang yang mengetahuinya pasti menjawabnya!" Tiba-tiba suara Abu Hanifah memeranjatkan Dahri dan menyentakkan kaum Muslimin yang hadir. Dahri sendiri terkejut. Matanya memandang tajam mata Abu Hanifah.
" Siapa kamu hai anak muda? Berani sungguh menyahut cabaran ku. Sedangkan ulama yang hebat-hebat, yang berserban dan berjubah labuh telah ku kalahkan...!" Lantang suara Dahri membidas Abu Hanifah. " Wahai Dahri," balas Abu Hanifah," sesungguhnya Allah tidak mengurniakan kemuliaan dan kebesaran itu pada serban atau jubah yang labuh. Tetapi Allah mengurniakan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dan bertakwa." Abu Hanifah lalu membacakan sebuah firman Allah SWT yang bermaksud:
" Allah telah meninggikan darjat orang beriman dan berilmu antara kamu beberapa darjat." Al-Mujadalah : 11 )
Geram rasanya hati Dahri mendengarnya kepetahan lidah pemuda ini berhujah. Maka berlangsunglah majlis dialog. Perdebatan antara Abu Hanifah dengan tokoh Ad-Dahriayyah, yang terkenal dengan pemikiran materialisme dan ateisnya itu, berlangsung dengan mendebarkan.
"Benarkah Allah itu wujud?," soal Dahri memulakan majlis dialognya.
"Bahkan Allah memang wujud," tegas Abu Hanifah.
"Kalau Allah maujud (wujud), di manakah tempatnya..??" Suara Dahri semakin meninggi.
"Allah tetap wujud tetapi dia tidak bertempat!" jelas Abu Hanifah.
"Hairan, kau kata Allah itu wujud, tetapi tidak bertempat pula...?" bantah Dahri sambil melemparkan senyuman sinisnya kepada hadirin.
"Ah, itu senang sahaja wahai Dahri. Cuba kau lihat pada dirimu sendiri. Bukankah pada dirimu itu ada nyawa..." Abu Hanifah mula berhujah.
Orang ramai mula memerhatikan gaya ilmuan muda ini berpidato dengan penuh minat.
"Bahkan, memang aku ada nyawa, dan memang setiap makhluk yang bernafas itu ada nyawa...!" sahut Dahri.
"Tetapi adakah kau tahu di manakah letaknya nyawa atau rohmu itu...? Dikepalakah, diperutkah atau adakah dihujung tapak kakimu..?" Kata Abu Hanifah,
Terserentak Dahri seketika. Orang ramai mula berbisik-bisik sesama sendiri. Setelah itu Abu Hanifah mengambil pula segelas susu lalu ditunjukkan pada Dahri, seraya berkata: " Adakah dalam air susu ini ada terkandung lemak...?"
Pantas Dahri menjawab, "Ya, bahkan!"
Abu Hanifah bertanya lagi, "Kalau begitu di manakah lemak itu berada? Di bahagian atasnyakah atau di bawahkah...?"
Sekali lagi Dahri terserentak, tidak mampu menjawab pertanyaan Abu Hanifah yang petah itu.
"Untuk mencari di manakah beradanya roh dalam jasad dan tersisip di manakah kandungan lemak dalam air susu ini pun kita tidak upaya, masakan pula kita dapat menjangkau di manakah beradanya Zat Allah SWT di alam maya ini? Zat yang telah mencipta dan mentadbir seluruh alam ini termasuk roh dan akal dangkal kita ini, pun ciptaanNya, yang tunduk dan patuh di bawah urusan tadbir kerajaanNya Yang Maha Agung...!"
Suasana menjadi agak bingar. Dahri terpaku di kerusi. Terbungkam lidahnya. Merah mukanya. Kesabarannya mula terburai. Bila keadaan agak reda, Dahri membentangkan soalan.
"Hai anak muda! Apakah yang wujud sebelum Allah. Dan apa pula yang muncul selepas Dia nanti..." Semua mata tertumpu pada Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang pintar ini.
"Wahai Dahri! Tidak ada suatu pun yang wujud sebelum Allah Taala dan tidak ada sesuatu jua yang akan muncul selepasNya. Allah SWT tetap Qadim dan Azali. Dialah yang Awal dan Dialah yang Akhir", tegas Abu Hanifah, ringkas tapi padat.
"Pelik sungguh! Mana mungkin begitu....Tuhan Wujud tanpa ada permulaanNya? Dan mana mungkin Dia pula yang terakhir tanpa ada lagi yang selepasNya....?" Dahri cuba berdalih dengan minda logiknya.
Dengan tersenyum Abu Hanifah menjelaskan, "Ya! Dalilnya ada pada diri kamu sendiri. Cuba kau lihat pada ibu jari mu itu. Jari apakah yang kau nampak berada sebelum jari ini..?" Sambil menuding ibu jarinya ke langit. Dan beberapa hadirin turut berbuat demikian. "Dan pada jari manis kau itu, ada lagikah jari yang selepasnya..." Dahri membelek-belek jarinya. Tidak terfikir dia persoalan yang sekecil itu yang diambil oleh Abu Hanifah.
"Jadi...! Kalaulah pada jari kita yang kecil ini pun, tidak mampu kita fikir, apatah lagi Allah SWT Zat Yang Maha Agung itu, yang tiada suatu pun yang mendahuluiNya dan tiada sesuatu yang kemudian selepasNya."
Sekali lagi Dahri tercenggang. Bungkam. Namun masih tidak berputus asa untuk mematahkan hujah anak muda yang telah memalukannya di khalayak ramai. Khalifah memerhatikan sahaja gelagat Dahri dengan penuh tanda tanya. Dahri berfikir seketika, mencari jalan, mencari idea. Semacam suatu ilham baru telah menyuntik mindanya, ia pun tersenyum. Hati Dahri bergelodak bagai air tengah menggelegak. "Ini soalan yang terakhir buat mu, hai.. budak mentah!" Sengaja Dahri mengeraskan suaranya agar rasa malunya itu terperosok. "Allah itu ada, kata mu. Ha! apakah pekerjaan Tuhan mu ketika ini ?"
Soalan tersebut membuat Abu Hanifah tersenyum riang. "Ini soalan yang sungguh menarik. Jadi kenalah dijawab dari tempat yang tinggi supaya dapat didengar oleh semua orang," Katanya. Pemuda ideologi Ad- Dahriyyun yang sedari tadi mentalitinya dicabar terus, berjalan turun meninggalkan mimbar masjid Jamek, memberi tempat untuk Abu Hanifah:
"Wahai sekalian manusia. Ketahuilah bahawa kerja Allah ketika ini ialah menggugurkan yang batil sebagaimana Dahri yang berada di atas mimbar, diturunkan Allah ke bawah mimbar. Dan Allah juga telah menaikkan yang hak sebagaimana aku, yang berada di sana, telah dinaikkan ke atas mimbar Masjid Jamek ini... !"
Bagai halilintar, hujah Abu Hanifah menerjah ke dua-dua pipi Dahri. Seiring dengan itu bergemalah pekikan takbir dari orang ramai. Mereka memuji-muji kewibawaan Abu Hanifah yang telah berjaya menyelamatkan maruah Islam dari lidah Dahri yang sesat lagi menyesatkan itu. Sehingga ke hari ini, nama Imam Abu Hanifah terus dikenali ke serata dunia sebagai seorang
Fuqaha dan salah seorang daripada Imam Mujtahid Mutlak yang empat. Kemunculan Mazhab Hanafi dalam fiqh Syar'iyyah, juga mengambil sempena nama ulama ini.
Lalu Khalifah memerintahkan beberapa orang menteri meninjau ke daerah lain, kalau-kalau masih ada ulama yang boleh dibawa berdepan dengan Dahri. Akhirnya wakil Khalifah menemui Imam Hammad bin Abi Sulaiman Al-Asyari, seorang ulama yang tidak kurang juga ketokohannya. Khalifah memerintahkan supaya hari perdebatan antara Imam Hammad dan Dahri disegerakan.
Majlis bersejarah itu mesti dibuat di Masjid Jamek di tengah-tengah kota Baghdad. Sehari sebelum pertemuan itu lagi, Masjid Jamek telah penuh sesak dengan orang ramai. Masing-masing menaruh harapan agar Imam Hammad berjaya menumbangkan Dahri kerana beliaulah satu-satunya ulama yang diharapkan. "Subhanallah.... Subhanallah .... Walauhaulawala quwwata illa billahi aliyyil azim....!" Lidah Imam Hammad terus melafazkan kalimat mensucikan segala tohmahan yang tidak layak bagi Zat yang Maha Agung. Dia beristighfar terus. Rasanya dah tidak sanggup telinganya menadah bermacam-macam tohmahan yang dilemparkan oleh Dahri yang biadab dan materialis itu.
Mempertikaikan KeEsaan Allah SWT bukanlah perkara kecil dalam Islam. Ini
kes berat! Hatinya cukup pedih. Roh ketauhidannya bergelora. Mahu rasanya dipenggal leher si Dahri yang angkuh itu di depan ribuan mata yang turut hadir dalam majlis itu.
Keesokannya, pagi-pagi lagi muncul Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang paling rapat dan yang paling disayanginya. Namanya yang sebenar ialah Nu' man, yang ketika itu usianya masih lagi remaja. Bila ternampak keadaan gurunya itu, Abu Hanifah pun bertanya untuk mendapat kepastian. Lalu Imam Hammad menceritakan keadaan yang sebenar. Dalam pada itu teringat Hammad akan mimpinya malam tadi, lalu dikhabarkan kepada muridnya itu. Abu Hanifah mendengarnya dengan penuh khusyuk.
"...Aku bermimpi ada sebuah dusun yang amat luas lagi indah. Di sana ku lihat ada sepohon kayu yang rendang dan lebat buahnya. Tiba-tiba, di situ keluar seekor khinzir dari hujung sebuah kampung. Lalu habis dimakannya buah-buahan yang masak ranum dari pokok itu. Hingga ke daun dan dahan-dahannya habis ditutuh. Yang tinggal cuma batangnya sahaja. Dalam pada itu juga keluar seekor harimau daripada umbi pohon rendang tadi lalu menerkam khinzir itu dengan gigi dan kukunya yang tajam. Lalu,khinzir tadi mati di situ juga."
Hammad termenung seketika. Kekalutan pemikiran yang telah dicetuskan Dahri, yang boleh menggugat pegangan akidah umat ini, tidak boleh di biarkan. Mesti dihapuskan segera. Wajahnya yang tenang bagai air sungai yang mengalir jernih, masih nampak bercahaya walau di saat sebegitu genting. Satu kelebihan Abu Hanifah ialah beliau juga dikurniakan Allah ilmu mentadbir mimpi, sebagai mana Nabi Allah Yusuf. Pada pengamatannya juga, mimpi tersebut akan memberi petanda baik bahawa si Dahri pasti akan menerima padahnya nanti. Dan setelah mendapat keizinan gurunya, dia pun cuba mentafsirnya: " Apa yang tuan lihat dalam mimpi tuan sebagai dusun yang luas lagi indah itu adalah tamsilan kepada agama Islam kita. Pokok yang berbuah lebat itu adalah tamsilan kepada sekalian ulamannya. Manakala sepohon kayu yang masih tinggal itu adalah tuan sendiri. Dan khinzir yang tiba-tiba muncul dan merosakkan pohon tersebut ialah si Dahri. Manakala harimau yang keluar lalu membunuh khinzir tadi... adalah saya..." jelas Abu Hanifah.
Beliau juga memohon izin untuk membantu gurunya berdepan dengan si Dahri. Betapa gembiranya hati Iman Hammad bila tercetusnya hasrat itu dari hati muridnya sendiri. Maka berangkatlah ilmuan budak itu bersama gurunya untuk pergi ke Masjid Jamek di mana majlis dialog akan diadakan yang dihadiri oleh orang ramai dan Khalifah.
Seperti biasanya, sebelum menyampaikan dakyahnya, Dahri akan mencabar dan memperleceh-lecehkan ulama dengan bersuara lantang dari atas pentas. " Hai Dahri, apalah yang digusarkan. Orang yang mengetahuinya pasti menjawabnya!" Tiba-tiba suara Abu Hanifah memeranjatkan Dahri dan menyentakkan kaum Muslimin yang hadir. Dahri sendiri terkejut. Matanya memandang tajam mata Abu Hanifah.
" Siapa kamu hai anak muda? Berani sungguh menyahut cabaran ku. Sedangkan ulama yang hebat-hebat, yang berserban dan berjubah labuh telah ku kalahkan...!" Lantang suara Dahri membidas Abu Hanifah. " Wahai Dahri," balas Abu Hanifah," sesungguhnya Allah tidak mengurniakan kemuliaan dan kebesaran itu pada serban atau jubah yang labuh. Tetapi Allah mengurniakan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dan bertakwa." Abu Hanifah lalu membacakan sebuah firman Allah SWT yang bermaksud:
" Allah telah meninggikan darjat orang beriman dan berilmu antara kamu beberapa darjat." Al-Mujadalah : 11 )
Geram rasanya hati Dahri mendengarnya kepetahan lidah pemuda ini berhujah. Maka berlangsunglah majlis dialog. Perdebatan antara Abu Hanifah dengan tokoh Ad-Dahriayyah, yang terkenal dengan pemikiran materialisme dan ateisnya itu, berlangsung dengan mendebarkan.
"Benarkah Allah itu wujud?," soal Dahri memulakan majlis dialognya.
"Bahkan Allah memang wujud," tegas Abu Hanifah.
"Kalau Allah maujud (wujud), di manakah tempatnya..??" Suara Dahri semakin meninggi.
"Allah tetap wujud tetapi dia tidak bertempat!" jelas Abu Hanifah.
"Hairan, kau kata Allah itu wujud, tetapi tidak bertempat pula...?" bantah Dahri sambil melemparkan senyuman sinisnya kepada hadirin.
"Ah, itu senang sahaja wahai Dahri. Cuba kau lihat pada dirimu sendiri. Bukankah pada dirimu itu ada nyawa..." Abu Hanifah mula berhujah.
Orang ramai mula memerhatikan gaya ilmuan muda ini berpidato dengan penuh minat.
"Bahkan, memang aku ada nyawa, dan memang setiap makhluk yang bernafas itu ada nyawa...!" sahut Dahri.
"Tetapi adakah kau tahu di manakah letaknya nyawa atau rohmu itu...? Dikepalakah, diperutkah atau adakah dihujung tapak kakimu..?" Kata Abu Hanifah,
Terserentak Dahri seketika. Orang ramai mula berbisik-bisik sesama sendiri. Setelah itu Abu Hanifah mengambil pula segelas susu lalu ditunjukkan pada Dahri, seraya berkata: " Adakah dalam air susu ini ada terkandung lemak...?"
Pantas Dahri menjawab, "Ya, bahkan!"
Abu Hanifah bertanya lagi, "Kalau begitu di manakah lemak itu berada? Di bahagian atasnyakah atau di bawahkah...?"
Sekali lagi Dahri terserentak, tidak mampu menjawab pertanyaan Abu Hanifah yang petah itu.
"Untuk mencari di manakah beradanya roh dalam jasad dan tersisip di manakah kandungan lemak dalam air susu ini pun kita tidak upaya, masakan pula kita dapat menjangkau di manakah beradanya Zat Allah SWT di alam maya ini? Zat yang telah mencipta dan mentadbir seluruh alam ini termasuk roh dan akal dangkal kita ini, pun ciptaanNya, yang tunduk dan patuh di bawah urusan tadbir kerajaanNya Yang Maha Agung...!"
Suasana menjadi agak bingar. Dahri terpaku di kerusi. Terbungkam lidahnya. Merah mukanya. Kesabarannya mula terburai. Bila keadaan agak reda, Dahri membentangkan soalan.
"Hai anak muda! Apakah yang wujud sebelum Allah. Dan apa pula yang muncul selepas Dia nanti..." Semua mata tertumpu pada Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang pintar ini.
"Wahai Dahri! Tidak ada suatu pun yang wujud sebelum Allah Taala dan tidak ada sesuatu jua yang akan muncul selepasNya. Allah SWT tetap Qadim dan Azali. Dialah yang Awal dan Dialah yang Akhir", tegas Abu Hanifah, ringkas tapi padat.
"Pelik sungguh! Mana mungkin begitu....Tuhan Wujud tanpa ada permulaanNya? Dan mana mungkin Dia pula yang terakhir tanpa ada lagi yang selepasNya....?" Dahri cuba berdalih dengan minda logiknya.
Dengan tersenyum Abu Hanifah menjelaskan, "Ya! Dalilnya ada pada diri kamu sendiri. Cuba kau lihat pada ibu jari mu itu. Jari apakah yang kau nampak berada sebelum jari ini..?" Sambil menuding ibu jarinya ke langit. Dan beberapa hadirin turut berbuat demikian. "Dan pada jari manis kau itu, ada lagikah jari yang selepasnya..." Dahri membelek-belek jarinya. Tidak terfikir dia persoalan yang sekecil itu yang diambil oleh Abu Hanifah.
"Jadi...! Kalaulah pada jari kita yang kecil ini pun, tidak mampu kita fikir, apatah lagi Allah SWT Zat Yang Maha Agung itu, yang tiada suatu pun yang mendahuluiNya dan tiada sesuatu yang kemudian selepasNya."
Sekali lagi Dahri tercenggang. Bungkam. Namun masih tidak berputus asa untuk mematahkan hujah anak muda yang telah memalukannya di khalayak ramai. Khalifah memerhatikan sahaja gelagat Dahri dengan penuh tanda tanya. Dahri berfikir seketika, mencari jalan, mencari idea. Semacam suatu ilham baru telah menyuntik mindanya, ia pun tersenyum. Hati Dahri bergelodak bagai air tengah menggelegak. "Ini soalan yang terakhir buat mu, hai.. budak mentah!" Sengaja Dahri mengeraskan suaranya agar rasa malunya itu terperosok. "Allah itu ada, kata mu. Ha! apakah pekerjaan Tuhan mu ketika ini ?"
Soalan tersebut membuat Abu Hanifah tersenyum riang. "Ini soalan yang sungguh menarik. Jadi kenalah dijawab dari tempat yang tinggi supaya dapat didengar oleh semua orang," Katanya. Pemuda ideologi Ad- Dahriyyun yang sedari tadi mentalitinya dicabar terus, berjalan turun meninggalkan mimbar masjid Jamek, memberi tempat untuk Abu Hanifah:
"Wahai sekalian manusia. Ketahuilah bahawa kerja Allah ketika ini ialah menggugurkan yang batil sebagaimana Dahri yang berada di atas mimbar, diturunkan Allah ke bawah mimbar. Dan Allah juga telah menaikkan yang hak sebagaimana aku, yang berada di sana, telah dinaikkan ke atas mimbar Masjid Jamek ini... !"
Bagai halilintar, hujah Abu Hanifah menerjah ke dua-dua pipi Dahri. Seiring dengan itu bergemalah pekikan takbir dari orang ramai. Mereka memuji-muji kewibawaan Abu Hanifah yang telah berjaya menyelamatkan maruah Islam dari lidah Dahri yang sesat lagi menyesatkan itu. Sehingga ke hari ini, nama Imam Abu Hanifah terus dikenali ke serata dunia sebagai seorang
Fuqaha dan salah seorang daripada Imam Mujtahid Mutlak yang empat. Kemunculan Mazhab Hanafi dalam fiqh Syar'iyyah, juga mengambil sempena nama ulama ini.
01 February 2011
Pesanan Imam Al- Ghazali
Beberapa panduan Imam Al- Ghazali supaya kita tidak bersifat sombong dan angkuh
1. Jika berjumpa dengan kanak-kanak, anggaplah kanak-kanak itu lebih mulia daripada kita, kerana kanak-kanak ini belum banyak melakukan dosa daripada kita.
2. Apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah dia lebih mulia daripada kita kerana dia sudah lama beribadat.
3. Jika berjumpa dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita kerana banyak ilmu yang telah mereka pelajari dan ketahui.
4. Apabila melihat orang jahil, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita kerana mereka membuat dosa dalam kejahilan, sedangkan kita membuat dosa dalam keadaan mengetahui..
5. Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia kerana mungkin satu hari nanti dia akan insaf dan bertaubat atas kesalahannya.
6. Apabila bertemu dengan orang kafir, katakan di dalam hati bahawa mungkin pada suatu hari nanti mereka akan diberi hidayah oleh Allah dan akan memeluk Islam, maka segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah.
1. Jika berjumpa dengan kanak-kanak, anggaplah kanak-kanak itu lebih mulia daripada kita, kerana kanak-kanak ini belum banyak melakukan dosa daripada kita.
2. Apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah dia lebih mulia daripada kita kerana dia sudah lama beribadat.
3. Jika berjumpa dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita kerana banyak ilmu yang telah mereka pelajari dan ketahui.
4. Apabila melihat orang jahil, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita kerana mereka membuat dosa dalam kejahilan, sedangkan kita membuat dosa dalam keadaan mengetahui..
5. Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia kerana mungkin satu hari nanti dia akan insaf dan bertaubat atas kesalahannya.
6. Apabila bertemu dengan orang kafir, katakan di dalam hati bahawa mungkin pada suatu hari nanti mereka akan diberi hidayah oleh Allah dan akan memeluk Islam, maka segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah.
31 January 2011
40 Nasihat Saiyidina Ali Ibn Abi Talib
40 nasihat Saiyidina Ali Ibn Abi Talib sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Nahjul Balagh oleh Saiyidina Ali Ibn Abi Talib dan kitab Al Bayan Wattabyeen oleh Al Imam Abu Othman Amru Ibn Bahr Al Jaahidh r.a.
1. Pendapat seorang tua adalah lebiih baik daripada tenaga seorang muda.
2. Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.
3. Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah hanya sekeping daging.
4. Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin.
5. Jagailah ibubapamu, nescaya anak anakmu akan menjagai kamu.
6. Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah s.w.t.
7. Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil daripada seseorang bakhil.
8. Seorang arif adalah lebih baik daripada arif. Seorang jahat adalah lebih baik dari kejahatan.
9. Ilmu adalah lebih baik daripada kekayaan kerana kekayaan harus dijagai, sedangkan ilmu menjaga kamu.
10. Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahanmu dengan mendirikan solat.
11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam.
12. Mengajar adalah belajar.
13. Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah menjadikan keluargamu hina dalam kemiskinan.
14. Insan terbahagi kepada 3 : mereka yang mengenal Allah, mereka yang mencari kebenaran dan mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran. Golongan terakhir inilah yang paling rendah dan tidak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing.
15. Insan tidak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu' dan lemah.
16. Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah.
17. Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat daripada mencari kesilapan orang lain.
18. Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.
19. Manusia sebenarnyasedang tidur tetapi akan bangun apabila ia mati.
20. Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia rahsia kebenaran itu.
21. Allah s.w.t merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batasnya.
22. Sifat seseorang itu tersembunyi disebalik lidahnya.
23. Seseorang yang membantu adalah sayapnya seseorang yang meminta.
24. Insan tidur diatas kematian anaknya tetapi tidak tidur diatas kehilangan hartanya.
25. Barangsiapa yang mencari qpq yqng tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya.
26. Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat.
27. Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran.
28. Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba.
29. Orang yang dengki, marah kepada orang yang tidak berdosa.
30. Putus harapan adalah satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan.
31. Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan.
32. Seorang akan mendapat teladan diatas apa yang ia lihat.
33. Taat kepada perempuan (selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar.
34. Kejahatan itu mengumpulkan kecelakaan yang memalukan.
35. Jika berharta, berniagalah dengan Allah dengan bersedekah.
36. Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihatlah apa yang dikatakannya.
37. Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura pura.
38. Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan.
39. Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya.
40. Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerapa perbuatan itu adalah syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.
1. Pendapat seorang tua adalah lebiih baik daripada tenaga seorang muda.
2. Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.
3. Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah hanya sekeping daging.
4. Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin.
5. Jagailah ibubapamu, nescaya anak anakmu akan menjagai kamu.
6. Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah s.w.t.
7. Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil daripada seseorang bakhil.
8. Seorang arif adalah lebih baik daripada arif. Seorang jahat adalah lebih baik dari kejahatan.
9. Ilmu adalah lebih baik daripada kekayaan kerana kekayaan harus dijagai, sedangkan ilmu menjaga kamu.
10. Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahanmu dengan mendirikan solat.
11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam.
12. Mengajar adalah belajar.
13. Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah menjadikan keluargamu hina dalam kemiskinan.
14. Insan terbahagi kepada 3 : mereka yang mengenal Allah, mereka yang mencari kebenaran dan mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran. Golongan terakhir inilah yang paling rendah dan tidak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing.
15. Insan tidak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu' dan lemah.
16. Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah.
17. Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat daripada mencari kesilapan orang lain.
18. Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.
19. Manusia sebenarnyasedang tidur tetapi akan bangun apabila ia mati.
20. Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia rahsia kebenaran itu.
21. Allah s.w.t merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batasnya.
22. Sifat seseorang itu tersembunyi disebalik lidahnya.
23. Seseorang yang membantu adalah sayapnya seseorang yang meminta.
24. Insan tidur diatas kematian anaknya tetapi tidak tidur diatas kehilangan hartanya.
25. Barangsiapa yang mencari qpq yqng tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya.
26. Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat.
27. Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran.
28. Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba.
29. Orang yang dengki, marah kepada orang yang tidak berdosa.
30. Putus harapan adalah satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan.
31. Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan.
32. Seorang akan mendapat teladan diatas apa yang ia lihat.
33. Taat kepada perempuan (selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar.
34. Kejahatan itu mengumpulkan kecelakaan yang memalukan.
35. Jika berharta, berniagalah dengan Allah dengan bersedekah.
36. Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihatlah apa yang dikatakannya.
37. Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura pura.
38. Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan.
39. Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya.
40. Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerapa perbuatan itu adalah syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.
Subscribe to:
Posts (Atom)