Showing posts with label Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri. Show all posts
Showing posts with label Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri. Show all posts

09 January 2012

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 20

Bahagian 20:

Ke esokkan harinya, Eliza baru saja pulang kerja, setiba di rumah, ia melihat Irwan sedang duduk di teras rumah. ”Sedang apa Irwan ?” Gumamnya dalam hati. Irwan tersenyum manis, Eliza merasa ada yang aneh dengan Irwan, tidak seperti biasa Irwan tersenyum manis dengannya. ”Kakak.” Sapa Irwan. ”Iya dedeku sayang.” ”Sini Irwan bawakan tasnya kakak.” ”Nggak usah, kakak bisa bawa sendiri kok.” ”Irwan kan mau nolong kakak, kasihan kakak bawa sendiri, kakak pasti lelah kan?” Eliza tersenyum dgn tatapan heran.

”Um, boleh juga nih sekalian bawa helm kakak juga ya!” Tas dan helm Eliza kini sedang diginting Irwan,
tapiii…. ? Irwan terasa berat untuk melangkah. ”Tapi apa?” ”Ini kak, um.. berat.” ”Hahaha, katamya tadi mau bawain.” ”Kirain Irwan nggak berat kak.” ”Hihihi, dede…dede… yang sabar ya? melangkah saja pelan-pelan, pasti bisa kok.” Canda Eliza.

”Huw, tapi kak bagaimana cara bawanya ? tas kakak saja berat, helm kakak juga” Keluh Irwan.
”Kok muka si ndut merah gitu ? hihihi.” Tanya Mini yang baru saja hadir di teras. ”Tau tuh.”
Sahut Eliza senyum, pura-pura nggak tahu. Irwan cemberut. ”Kakak.” Keluh Irwan. Mini memperhatikan Irwan, perlahan-lahan Mini mengerti keadaan Irwan. ”Berat ya? kasihan banget si ndut, hihihi.” ”Ya sudah sini kakak bawa tasnya, kamu bawakan saja helmnya kakak.”
Kenapa nggak dari tadi sih Eliza? Kasihan kan si ndut, hoho.. ^_^

Pada malam harinya, Indra menelpon Eliza. Beberapa menit kemudian setelah Indra mengakhiri pembicaraan di telpon, Eliza tersenyum seraya heran. ”Benar nggak sih?” Gumam Eliza dalam hati.

Hoho, Eliza tadi Indra bilang apa? Penasaran nih.” ^ o ^ Beberapa Menit kemudian. ”Assalamu’alaikum.” Eliza kaget melihat keberadaan Indra yang kini sedang berdiri di depan pintu rumahnya, mengenakan kemeja hitam serta celana hitam panjang. Hoho, hitam-hitam, siapa takut, xixixi ^_^

---> To Be Continued

Pesanan Penulis "Maaf saya baru bisa lanjutin lagi ceritanya, kemarin saya ujian, selesai ujian saya istirahat dulu, soalnya kondisi juga kurang sehat" by: Lya Asyifah Qolby

07 January 2012

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 19

Bahagian 19:

Tiga minggu kemudian. Dirumah,,, Eliza, Mini, dan Irwan sedang asyik menonton televisi, hari ini adalah hari minggu. ”Kakak, Irwan mau seperti kakak.” Kata Irwan, yang sudah ga cadel lagi kalau ngomong, kini usia Irwan 6 tahun, walaupun Irwan sudah gede, tapi pipinya tetap chubby, xixixi ^_^ Eliza heran dan tersenyum. ”Yang bagaimana maksutnya kamu dede ?” Tanya Eliza. ”Irwan suka lihat kakak pakai jilbab, irwan juga nanti kalau udah gede kayak kakak mau pakai jilbab.”

”Hihihi… Iya pakai jilbab aja kamu dede pasti cantik deh” Sahut Mini cengengesan. Eliza tersenyum panjang. ”Dede, mana ada cowok yang pakai jilbab sayang.” Kata Eliza senyum seraya mengelus-elus pipi adiknya dengan lembut. ”Tapi kak, Irwan suka lihat kakak pakai jilbab, irwan juga mau kelihatan selalu rapi dengan jilbab.” Eliza dan Mini kaget bersamaan. Mini menggigit jari telunjuk kanannya seraya menatap Irwan dengan tatapan heran. ”Subhanallah dede.” Kata Eliza tersenyum. ”Kepala Irwan kejedot kali tadi kak, mangkanya omongannya rada-rada aneh gitu.” Celetuk Mini tiba-tiba saja seraya cekikikan. Irwan cemberut seraya melirik ke Mini dengan lirikkan sinis. ”Emmmuuuaaacch.” Eliza mencium pipinya Irwan. ”Dede sayang, laki-laki tetap bisa kelihatan rapi kok walaupun tanpa jilbab.” Kata Eliza. ”Hm, tul banget tuh.” Celetuk Mini. Irwan masih saja tetap cemberut setelah mendengar Mini ngomong. ”Kakak sok tahu ah.” Kata Irwan ke Mini. ”Beneran nduuuut, caranya kalau kamu mau rambut kamu senantiasa rapi, kantongin terus tuh sisir setiap hari, xixixi.” Saran Mini sambil cekikikan, dia paling suka melihat Irwan kalau sedang marah, lucu. ”Kakak saja yang kayak gitu.” Irwan marah, pipinya semakin merah merona. ”Hoho, sayaaang, emmuacch.” Mini mencium pipinya Irwan. Eliza tersenyum melihat tingkahnya Mini dan Irwan.

Di mana keberadaannya Afdhal sekarang yah ?? Mungkin ada teman-teman yang mempertanyakan soal itu ** Afdhal keluarga beserta istrinya telah pindah kerumah nya yang baru, yang jelas bukan rumah kontrakakkan lagi. ** Eliza berusaha untuk ikhlas menerima kenyataan, biarlah keinginannya ia kubur bersama rasa cintanya yang pernah hadir dulu. ”Teroma enggak ya Eliza jatuh cinta dengan orang yang ganteng ?” (-_-“ ) ”Upzzz….” ** ”Eliza sekarang pasrah dengan kenyataan, ia yakin jodohnya kelak ialah lelaki yang sederhana, ia tidak pantas mendapatkan jodoh lelaki yang tampan, ia bercermin dengan apa yang ia alami kemarin.” ** Yuk… kita bantu Eliza mengubur perasaan cintanya ke Afdhal, teman-teman jangan pelit sumbang tanah ya ? satu kilo, dua kilo, satu truk juga enggak apa-apa, xixixi. ** Satu tahun sudah, Eliza tanpa sengaja bertemu dengan Indra di acara pernikahan Hafiza. ”Hei, Eliza.” Eliza kaget, ia melihat Indra sekarang semakin dewasa. ** ”Kayak bapak-bapak kali yah ?” xixixi ^_^ ** Eliza tersenyum. ”Sudah lama nih enggak pernah dengar kabar dari kamu “ Kata Indra seraya tersenyum. ”Iya, kamu juga.” ”Takut aja mau hubungi kamu duluan entar ganggu kamu lagi, katanya Erin kamu sering sibuk terus.” Eliza tersenyum. ”Erin lebay tuh, enggak juga kok.” ”Hehehe, kamu kapan nikahnya Eliza ? Nyusul Hafiza, tunggu apa lagi ?” Tanya Indra seraya tersenyum. ”Um, mau sih tapi belum ketemu.” ”Ketemu apanya ?” Canda Indra. ”Ketemu jodohnya lah.” Kata Eliza seraya tersenyum.

---> To Be Continued

05 January 2012

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 18

Bahagian 18:

Satu Minggu kemudian, orang tuanya Afdhal ingin berangkat ke kota tempat tinggal Ilyas untuk sementara waktu, sekalian meminta Ilyas untuk hadir di hari pernikahannya Afdhal yang akan di adakan tgl 2 bulan depan nanti, Nana keponakannya Afdhal juga ikut berangkat bersama orang tuanya Afdhal. Afdhal kini tinggal sendiri di rumah kontrakannya, malam itu dia pulang jam 8 malam, Afdhal sangat lelah dan lapar, ia ingin makan tetapi tidak ada menu yang tersedia di meja makan, mamanya Afdhal yang biasanya selalu memasak makanan di rumah, Afdhal tidak perlu susah-susah jajan di luar lagi. Tapi kali ini keadaan memaksa untuk ia jajan diluar.

Saat ia pulang dari warung makan, ia kemudian memasuki kamarnya dan berniat untuk tidur, setelah ia membuka pintu kamarnya, ia tercengang seketika setelah melihat baju kerja yang ingin dia pakai besok belum disetrika, mamanya juga yang biasa menyetrikakan pakaian kerja Afdhal selama ini. Afdhal merasa sangat mengantuk, tidak sanggup rasanya untuk menyetrika pakaian kerjanya terlebih dahulu. Afdhal berniat untuk pergi beli minuman kaleng di toko depan, ia sengaja berharap rasa kantuknya bisa tertahan, tanpa disengaja Afdhal bertemu dengan Eliza dan Irwan yang pada saat itu sedang membeli es krim di toko tersebut. ”Kak dal.” Sapa Irwan. ”Hei, si jagoan, beli apa dek ?” ”beli es klim.” Eliza sama sekali tidak tersenyum, Afdhal yang duluan melemparkan senyuman ke Eliza namun Eliza pun membalasnya hanya dengan senyuman tipis yang seketika saja. Afdhal sempat heran kenapa Eliza terlihat cuek, biasanya Eliza tidak seperti itu.

Ke esokkan harinya Afdhal pergi kerja dengan pakaian yang kumal, tidak disetrika sepertinya, padahal memang tidak disetrika… xixixi ^__^ ** Mini yang pada saat itu sedang menunggu angkot untuk berangkat kesekolah. ”Mini, sini kakak yang hantar ke sekolah.” Kata Afdhal. ”Um, nggak apa-apa ya kak ? Ntar kakak telat ke kantornya” ”Nggak kok masih sempat.” Mini pun dengan senang hati menerima ajakkan Afdhal. ** Saat di perjanan. ”Eliza sudah berangkat ke kantornya ya ?” ”Belum kak, kak Eliza minta izin sama bosnya sebentar tadi, paling jam 10 ntar kak Eliza berangkat kerjanya.” ”Loh emangnya kenapa ?” ”Kak Eliza jagain Irwan, bunda pergi ke pasar tadi.” ”Loh kan ada nenek.” ”Nenek kan lagi sakit kak.” ”Oh, kapan nenek sakit ?” ”Kemarin.” ”Oh iya deh, entar sore InsyaAllah kakak kerumah jenguk nenek.:” ** Mini heran setelah menyadari bajunya Afdhal terlihat kumal. ”Kak, bajunya kok kumal ?” ”Iya dek semalam kakak kecapean, terus ketiduran enggak sempat menyetrika lagi.” ”Oh pantesan, ntar biar aku saja kak yang bantuin nyetrika bajunya kakak.” Kata Mini seraya tersenyum. ”Yang benar dek ?” ”Iya kak beneran, tapi Mini nyetrikanya dirumah Mini aja ya kak ? kakak ntar anterin aja bajunya kakak kerumah, ok ?” ”Ok deh kalau gitu, nggak nyusahin kamu dek ?” ”Enggak lah kak.”

Sore hari. Tok…tok.. terdengar ada yang mengetok pintu rumah dari luar. ”Assalamu’alaikum.” Eliza yang pada saat itu baru saja pulang kerja, kaget melihat Afdhal sedang berada di teras rumahnya dengan membawa baju kemeja dua lembar beserta dua gantungan baju. ”Wa’alaikumsalam.” Eliza menjawab salamnya Afdhal. ”Eh dek, baru pulang kerja ya ?” ”Iya kak, ada apa kak ?” ”Ini kakak mau minta tolong sama Mini untuk nyetrikain baju kerjanya kakak sekalian mau jenguk nenek.” Tiba-tiba Mini membuka pintu rumahnya, ”Eh kak Afdhal, mari silahkan masuk kak.” ”Iya.” ”Maaf kak tadi emang sengaja ditutup pintunya, karena takut Irwan main diluar rumah.” ”Oh iya enggak apa-apa.” ”Irwan mana ?” ”Lagi tidur kak, oh iya ini ya kak bajunya yang mau disetrika ?” ”Iya dek tolong ya ?” ”Siip lah kak.”

Pada malam hari seperti biasa Mini dan Eliza menyetrika pakaian yang ingin mereka pakai beraktifitas untuk esok hari, Eliza menyetrika pakaian kerjanya sedangkan Mini menyetrika pakaian sekolahnya, tapi malam ini Mini juga menyetrika bajunya Afdhal. Eliza dulu yang menyetrika baju kerjanya, kemudian Mini, setelah Mini menyetrika pakaian sekolahnya ia kemudian menyetrika baju kemejanya Afdhal. 5 Menit kemudian. Dari tadi Mini kesusahan menyetrika bajunya Afdhal. ”Ih kok nggak mau rapi-rapi.” Mini mengeluh. ”Kenapa Mini ?” Tanya bunda yang sedang menonton televisi. ”Ini bunda, susah banget nyetrika bajunya kak Afdhal, nggak mau rapi-rapi dari tadi, bingung Mini, apa bajunya terlalu gede ya ?” Bunda tersenyum. ”Eliza kamu bantuin adiknya kamu tuh !” Eliza menghampiri Mini. ”Coba kakak lihat.” ”Nih kak, masih kumal kan ? Mini nggak tahu ah pusing gimana mau ngerapiinnya” Eliza dengan ikhlas meneruskan hal yang sebenarnya Mini lakukan, karena Mini yang janji ingin menyetrika kan bajunya Afdhal. 6 menit kemudian, Alhamdulillah Eliza telah selesai menyetrika 2 baju kemejanya Afdhal. Mini heran. ”Wah akhirnya rapi juga, makasih ya kak ?” ”Iya sama-sama.” Jawab Eliza.

--- > To Be Continued

03 January 2012

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 17

Bahagian 17:

Saat di kampus, Eliza hanya diam ia tidak seperti biasanya, biasanya Eliza lebih senang mengobrol dan bercanda bareng temannya, tp kali ini Eliza lebih sering diam. Sepertinya ada yang sedang Eliza pikirkan. ”Eliza..Eliza..” Erin memanggil Eliza. ”Eliza sedang asyik membaca buku pada saat itu.” ”Eliza, Erin panggil kamu.” Kata Hafiza. Eliza kemudian menoleh kearah Erin. ”Kenapa ?” ”Indra ga turun, katanya dia lagi enggak enak badan.” Bisik Erin. ”Oh iya semalam ada juga dia kasih tahu aku lewat sms.”

Sekilas info, Indra adalah teman sekelas Eliza, cowok cool, lumayan cakep n selalu berpakaian rapi. Indra senang berteman dengan Eliza, karena menurut Indra, Eliza gadis yang baik, humoris dan juga ramah. Eliza juga kadang enggak mengerti dengan sikapnya Indra, menurut Eliza, Indra cowok yang baik, hanya saja menurut penilaian Eliza ,Indra suka akan dirinya, Indra memang enggak pernah menyatakan cintanya ke Eliza, hanya saja perhatian Indra kadang membuat Eliza sedikit bingung. Indra dari awal sudah tahu kalau Eliza enggak punya pacar, dan enggak mau pacaran sebelum nikah.

Indra hanya meminta Eliza untuk mau jadi sahabatnya, Eliza sedikit heran baru kali ini ada cowok yang bilang ke dia “mau enggak bersahabat dengan aku ?” begitulah salah satu isi smsnya Indra ke Eliza, karena Eliza kadang mendapat tawaran dari cowok itu seperti ini, ”Mau enggak jadi pacar aku ?” atau “Mau enggak ta’arufan sama aku ?”, tapi semenjak Eliza berjilbab ia selalu menolak kalau ada yang ingin jadi pacarnya, tapi kalau ta’arufan, sempat beberapa kali hanya saja Eliza kurang suka dengan watak cowok yang pernah mengajaknya ta’arufan, sedikit genit menurut Eliza meskipun cowok tersebut sangat mengerti akan pengetahuan tentang agama islam.

Saat mengenal cowok seperti itu, Eliza mengerti ternyata orang yang mengerti akan pengetahuan tentang agama islam, sering sholat, mengaji dan selalu mengkaji Al-Qur’an belum tentu sifat dan sikapnya juga baik, belum tentu juga orangnya sopan bisa menghargai orang lain. Masih mending orang yang masih sedikit pengetahuannya tentang agama islam, tapi mereka sopan dan bisa menghargai orang lain, soal belajar itu kembali dari diri sendiri, InsyaAllah kalau ada keinginan untuk belajar sedikit demi sedikit kemudian bisa di amalkan InsyaAllah bisa, belum bisa karena belum biasa, bisa karena sudah biasa. ** Eliza tidak menolak permintaan Indra untuk jadi sahabatnya Eliza, karena bagi Eliza, apa salahnya kalau ingin bersahabat, Eliza juga senang dengan sikapnya Indra, menurut Eliza, Indra orangnya baik dan sopan, tapi semakin hari Indra selalu duluan mengirim sms dengan Eliza bahkan terkadang menelpon Eliza, Eliza juga terhibur sebenarnya, pernah ada niat untuk menanyakan ke Indra. ”Kenapa sih kamu selalu sms aku dan perhatian sama aku, apa kamu suka sama aku ?”. Tapi cepat niat itu Eliza tepiskan, dia malu untuk menanyakan soalan itu.

Setelah sampai di rumah, Eliza masuk dalam kamarnya, kemudian ia merebahkan tubuhnya di pembaringan, tiba-tiba ada Irwan membuka pintu kamar Eliza. Irwan tersenyum manis tidak seperti biasa, Eliza juga tersenyum, ia merasa senyumnya Irwan mencurigakan. ** ”Kenapa dede ?” Tanya Eliza seraya tersenyum. Awalnya Irwan hanya menampakkan kepalanya saja, ia takut Eliza marah kalau dia masuk ke dalam kamarnya Eliza. Hati Irwan lega setelah ia melihat Eliza tersenyum kepadanya, kemudian pelan-pelan ia masuk kedalam kamarnya Eliza. ”Kakak lagi apa ?” ”Lagi mau bobo sayang, kenapa ?” ”Kakak kita ke toko depan yuk ?” ”Um, kakak cape dede, kakak mau istirahat sayang.” ”Sebentar saja kak.” ”Mau ngapain sih ?” ”Mau jalan-jalan saja.” ”Uw, dedeku sayang mau jalan ke toko pasti ada maunya kan ?” ”Enggak kak, cuma jalan-jalan saja.” ”Hm, kamu enggak bisa bohong sama kakak dede, mau beli apa sih ?” ”Jalan-jalan saja kak.” ”Ya sudah sebentar ya ?” Irwan mengangguk senang. ** Setelah Eliza merapikan jilbabnya. ”Yuk kita jalan !” ”Tapi kak.” ”Tapi pa ?” ”Kok kakak enggak bawa dompet ?” ”Enggak perlu, kan Cuma mau jalan-jalan saja, bukan mau belanja kan.” Kata Eliza dengan mimik wajah yang sedikit serius, padahal ia hanya bercanda, Eliza mengerti apa maunya Irwan. Ada uang yang memang sengaja Eliza sisipkan dikantong roknya. ”Ayooo.” Irwan dengan perasaan sedih mengikuti ajakan Eliza.

Beberapa menit kemudian sampai juga di toko depan rumah. Irwan hanya menundukkan kepalanya sambil berjalan, tangan Irwan sebelah kanan di pegang oleh Eliza sepertinya Irwan ingin menangis karena Eliza tidak membawa dompet. ** ”Dede mau es krim yang mana ?” Tanya Eliza tiba-tiba seraya tersenyum. Irwan tersenyum. ”Mau yang warna cokelat tiga sama yang warna ungu dua ya kakak ?” ”Ya ampun sayang banyak amat.” ”Ya kakak, mau ya ?” Irwan merengek. Eliza tersenyum bercampur geregettan melihat tingkah adiknya. ”Ya sudah, tapi Irwan bayar sendiri ya ?” Irwan cemberut. ”Jelek ah mukanya begitu, ya sudah, tunggu sini ya ? kakak mau bayar dulu.” Kata Eliza dengan tawanya. ”Iya kakak.” Kata Irwan seraya tersenyum manis.

---> To Be Continued

01 January 2012

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 16

Bahagian 16:

Pada saat kak Afdhal dan keluarganya sudah pulang. Malam pun semakin larut, Eliza masuk kedalam kamarnya kemudian menutup rapat pintu kamarnya. Eliza duduk di depan cermin sambil berfetaertanya pada diri. "Hm, ternyata kak Afdhal sudah punya pacar, loh ehmm kok aku merasa sedikit kecewa seperti ini ya ? seharusnya aku biasa-biasa saja, kan kak Afdhal sudah aku anggap sebagai kakak kandung aku, kak afdhal juga begitu, dia sama seperti dulu tetap anggap aku sebagai adik, enggak salah donk kalau dia punya pacar ?"

Eliza kemudian rebahkan tubuhnya di kasur, ia gelisah seketika mengingat Afdhal terus, ia masih belum menyangka ternyata Afdhal sudah punya pacar. ** Eliza kemudian mengambil secarik kertas yang berisi lirik lagu kemudian menyanyikannya dengan pelan. "Haram-haramkah aku Bila hatiku jatuh cinta Tuhan pegangi hatiku Biar aku tak jadi melanggar Aku cinta pada dirinya Cinta pada pandang pertama Sifat manusia ada padaku Aku bukan Tuhan * Haram-haramkah aku Bila aku terus menantinya Biar waktu berakhir Bumi dan langit berantakan ** Aku tetap ingin dirinya Tak mungkin aku berdusta Hanya Tuhan yang bisa jadikan Yang tak mungkin menjadi mungkin ** Aku hanya ingin cinta yang halal Di mata dunia juga akhirat Biar aku sepi aku hampa aku basi Tuhan sayang aku Aku hanya ingin cinta yang halal Dengan dia tentu atas ijinNya Ketika cinta bertasbih Tuhan beri aku cinta Ku menanti cinta… Melly G - Haramkah ** "Lirik lagu ini pas banget buat aku, tapi aku jatuh cinta sama kak Afdhal bukan pada pandangan pertama, dan juga aku masih bingung aku cinta enggak ya sama kak Afdhal atau sekedar suka ?" Tanya Eliza pada dirinya sendiri. "Hmm.. mau di apain lagi kalau bukan jodoh, sudahlah, lebih baik aku tidur saja, besok ada jam kuliah pagi."

---> To Be Continued

30 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 15

Bahagian 15:

Besok sorenya, setelah Eliza selesai makan, ia berniat untuk menyuci piring. Hapenya ia lupa di atas televisi, Mini yang sedang menonton siaran televisi pada saat itu tiba-tiba melihat hapenya Eliza. ** Setelah Mini mengotak-atik hapenya Eliza, ia kagetsetelah melihat fotonya Afdhal. ”Loh kok fotonya kak Afdhal bisa ada sama kak Eliza?” Gumam Mini dalam hati. Mini menghampiri Eliza. ”Kak, kok bisa ada fotonya kak Afdhal di hape kakak?” Eliza serentak kaget setelah ia melihat hapenya ada di tangan Mini sekarang. ”Eh, sini hapenya kakak!” Mini pun menuruti perintah Eliza. ”Jangan bilang sama siapa-siapa ya ? kakak ambil fotonya kak Afdhal enggak ada maksut apa-apa kok.” ”Iya kak.” ** ”Hm, jangan-jangan kak Eliza suka lagi sama kak Afdhal.” Gumam Mini dalam hati.

Saat malam tiba, Afdhal sekeluarga silaturahmi ke rumah Eliza. Beberapa menit kemudian Afdhal duduk diteras rumah Eliza, Eliza dan Mini menemani Afdhal sambil ngobrol. ** ”Kak Afdhal di sana pergaulannya rata-rata bebas enggak?” Tanya Mini. ”Iya, tergantung kitanya lagi yang bagaimana dek, kita boleh berteman sama siapa saja, tapi harus bisa jaga diri.” Jawab Afdhal. ”Teman-teman kakak ada yang pakai narkoba dan minum minuman keras enggak kak?” Tanya Eliza. ”Ada, kakak berteman sama siapa aja dek, tapi kalau mereka ngajak kakak minum, merokok atau pakai narkoba gitu, kakak sering nolak, kakak bilang aja“ maaf aku enggak biasa seperti itu “, kalau mereka maksa atau mereka marah kakak nolak terus, ya sudah kakak tinggalin saja, toh masih banyak teman yang lain kan?

”Wah bagus kak, jarang ada cowok yang seperti kakak, biasanya kan cowok-cowok di luar sana meski tidak biasa dan sudah menolak, tapi biasanya karena ingin menghargai perasaan teman mereka ikut saja apa kata temannya dari pada berantem.” Kata Mini. ”Jadi bagaimana kakak bisa dapat tawaran kerja di perusahaan yang bagus ?” Tanya Mini. ”Enggak sembarangan dek, kita harus ikut tes dulu.” Jawab Afdhal. ”Tes apa saja kak?” Tanya Mini lagi. ”Tes wawancara, psikotes, kesehatan dan kita harus bisa menjawab soal-soal yang di kasih, wah kemarin itu sempat juga merasa gugup waktu tes wawancara.” ”Loh emangnya kenapa kak?” Tanya Eliza. ”Iya, itu yang mewawancarai kita dia tahu apa yang sedang kita pikirkan dan dia juga tahu sifat kita itu seperti apa, padahal belum pernah ketemu sebelumnya, kayak paranormal gitu dianya.” Jawab Afdhal. ”Wah berat donk?” Tanya Mini dengan tawa kecilnya. ”Apalagi.” Jawab Afdhal yang juga tertawa. Eliza juga ikut teratawa pada saat itu. ”Berapa yang lulus tes kak?” Tanya Eliza. ”Yang lulus tes 85 orang.” Jawa Afdhal. ”Wah banyak juga.” Sahut Mini. ”Iya dek, tapi yang mendaftar lebih banyak lagi.” Jawab Afdhal. ”Berapa emangnya kak ?” Tanya Mini ”1960 orang sedangkan yang diterima cuma 85 orang.” Jawab Afdhal. ”Wah, jadi yang enggak terima pasti merasa kecewa ya kak ?” Tanya Mini lagi. ”Bukan hanya kecewa, ada juga yang sampai menangis.” ”Ckckck., kasihannya.” ”Iya banyak sekali yang enggak lulus, padahal mereka itu banyak yang ingin lulus, bahkan sebelumnya mereka rela main sogok gitu, dengan puluhan juta bahkan ratusan juta.” ”Wow.” Sahut Mini heran. ”Iya banyak juga yang enggak lulus karena kesehatan mereka kurang baik.” ”Loh kok bisa kak ?” Tanya Eliza. ”Iya kalau darahnya di cek, kan ketahuan yang selalu merokok dan mengonsumsi obat-obattan itu darahnya seperti apa.” Jawab Afdhal. ”Wah untung saja kakak enggak seperti mereka ya kak?” Tanya Mini. ”Iya alhamdulillah, kan kakak enggak suka seperti itu, selain merusak kesehatan, kakak juga mikir orang tua kakak, orang tua kakak kan jauh, kakak enggak mau membuat mereka khawatir kalau mendengar kabar kakak yang kurang baik terlibat pergaulan bebas.” ”Ya Allah apakah aku pantas untuknya? dia lelaki yang nyaris sempurna dan dia pantas mendapat gadis yang nyaris sempurna juga.” Gumam Eliza dalam hati. ** ”Wah kakak hebat, aku salut sama kakak.” Kata Mini. Afdhal tersenyum. ”Itu semua tergantung dari diri kita dek yang jalaninya gimana, kalau kita ingin bisa sukses, kita harus bisa jaga diri dan belajar yang benar.”

Tiba-tiba saja ada seorang cewek yang stop motornya di depan rumah Eliza. ”Itu siapa ?” Tanya Mini. ”Enggak tahu, bukan teman kamu Mini ?” Tanya Eliza balik. ”Bukan kak.” Jawab Mini. ”Oh.” Afdhal tersenyum kemudian beranjak dari tempat duduknya. ”Itu temannya kakak ?” Tanya Mini. ”Itu pacarku.” Jawab Afdhal senyum seraya berjalan kearah gadis itu. ** O… tidaaakkkk… xixixi ^__^ Ada yang kecewa sepertinya, siapakah dia ??

---- > To Be Continued

28 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 14

Bahagian 14:

"Iya tante." Eliza kemudian duduk. "Irwan mana ya ?" Tanya Eliza. "Tuh Irwan lagi asyik main sama Nana." Eliza tersenyum manis melihat Irwan yang sedang asyik bermain. ** "Ini di minum dulu airnya !" Kata tante Eliza santun. "Iya tante makasih, enggak usah repot-repot." ** Eliza sedikit malu melihat Mini yang sedang lahap menyantap kue roti yang di hidangkan, sedangkan Mini hanya cuek, yang penting makan, xixixi. Perlu di ketahui, prinsipnya Mini kalau di tawarin makanan, ambil saja, enggak pakai jaim, kalau jaim katanya enggak kenyang, xixixi. ** "Kamu dari mana Eliza ?" "Baru saja pulang kuliah tante, tadi bunda minta tolong panggil Irwan, Irwan mau dikasih tidur siang sama bunda." Jawab Eliza seraya tersenyum.

Eliza sms ke hapenya Mini, isi smsnya seperti ini : Eliza : Mini, pelan-pelan saja makannya, jangan di habissin kuenya. Mini pun membalas smsnya Eliza. Mini : Nanggung kak kalau enggak di habissin. ** Beberapa saat kemudian, Eliza dan Mini pamit pulang, oh iya Irwan juga di bawa pulang, hampir saja ketinggalan si chubby. ^_^ Saat mereka di pintu, terlihat sosok Afdhal yang baru saja keluar dari kamarnya. Mini tersenyum manis melihat Afdhal. "Kak pulang dulu ya ?" Afdhal tersenyum. "Iya." Afdhal mengelus-elus kepalanya Irwan. "Ini si jagoan mau pulang juga ya ?" Tanya Afdhal seraya tersenyum. "Iya mau dikasih tidur siang dulu kak, kalau enggak tidur kerjanya makan mulu, xixixi." Jawab Mini seraya tersenyum. Irwan tertawa. "Bo'ong kak, kak Mini tuh yang kuat makan." Afdhal dan mamanya tersenyum, Afdhal kemudian melihat Eliza. "Dari mana Eliza?" "Baru saja pulang kuliah kak." "Oh iya." ** "Pulang dulu yah tante, kak pulang dulu." Kata Eliza seraya tersenyum. "Iya." Kata Afdhal dan mamanya bersamaan. ** Saat Eliza, Mini dan Irwan masuk kedalam rumahnya. ** "Mama senang sama Eliza, dia itu gadis yang baik, sopan dan santun." Afdhal terdiam sejenak.

---> To Be Continued

26 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 13

Bahagian 13:

Eliza dalam diam, mengagumi dan mulai menyukai Afdhal, tapi apakah cintanya akan terbalas? Entahlah… Bagaimana dengan Afdhal? Entahlah… ** Saat Eliza ingin duduk di teras. ”Eliza, kamu lagi ngapain nak ?” Tanya bundanya yang baru saja selesai sholat. ”Um, lagi duduk-duduk aja kok bunda.” ”Bikin susunya Irwan dulu ya? bunda mau ke warung dulu, mau layani pembeli.” ”Oh iya bunda.”

Setelah Eliza selesai membuat susunya Irwan, Eliza sempat melamun sebentar. ”Aku sangat malu dengan perasaanku seperti ini.” Gumam Eliza dalam hati. Ia merasa Afdhal tidak menyukainya, ia merasa perasaan Afdhal masih seperti dulu yang menganggapnya hanya sebagai adek saja, tidak lebih. Bertepuk sebelah tangan ? (-_-) huw sedih, gak bunyi donk kalo bertepuk sebelah tangan.. xixixi ** Lamunan Eliza buyar ketika. ”Kakak, susunya Ilwan mana ?” ”Oh iya sayang, ini kakak baru selesai bikinnya.” Irwan cemberut. ”Um, kok lama banget sih kak ?” Eliza mengelus-elus rambutnya Irwan. ”Maaf dedeku sayang, yuk sekarang kita masuk kamar, dedenya kakak bobo ya?”

Ke esokkan harinya saat Eliza ingin berangkat ke kampus, seperti biasa Eliza duduk diruang tamu menunggu jemputtan Hafiza, Hafiza adalah sahabatnya. Beberapa saat kemudian. ”Assalamu’alaikum.” ”Wa’alaikumsalam.” Jawab Eliza seraya tersenyum. Ternyata Hafiza yang datang. ** Sore hari, tepatnya jam 4. Eliza pulang dari kampus. Terdengar suara bunda teriak dari dapur memanggil-manggil Mini. Eliza menghampiri bunda. ”Ada apa bunda?” ”Mini mana?” ”Eliza enggak tahu bunda.” ”Coba kamu panggil Mini disebelah !” Perintah bunda. ”Disebelah mana maksutnya bunda?” ”Di rumah tante Yuli.” ”Loh kok bisa Mini ada disitu?” ”Iya katanya Mini tadi mau bawa Irwan main kerumah tante Yuli sebentar, bunda pikir mereka sudah pulang, bunda mau kasih tidur siang Irwan dulu, kamu tolong panggilkan mereka ya ? Sebenarnya Eliza malu, ia malu dengan Afdhal. Tapi Eliza berusaha menepiskan rasa malunya, ia mencoba memberanikan diri.

”Assalamu’alaikum.” Kata Eliza saat ia memasuki rumah kontrakan tante Yuli. ”Wa’alaikumsalam, eh Eliza sini masuk.” Mini dan Irwan sedang asyik menikmati roti cokelat, yang tante Yuli hidangkan di atas meja. Huuu…. Nyumi… ^__^ Bagi dooonkk.. ^_^ 1 aja Eliza, para pembaca gak usah sudah kenyang mereka… xixixi ^__^

---> To Be Continued

24 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 12

Bahagian 12:

Ke esokkan harinya, setelah Eliza pulang dari kampus, ia bergegas masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kemudian duduk di depan cermin, menatap cermin seraya tersenyum manis, senang sepertinya. ”Kenapa ya ? Ada yang tahu kenapa enggak ? xixixi…” ^__^ Eliza lagi kebelet, kebelet melihat fhoto seseorang maksutnya, sudah tahu kan fhotonya siapa ? xixixi ^__^ ”Hush, diam2 yah… !! xixixi” Beberapa detik kemudian hapenya Eliza tiba-tiba mati, seperti apa yang sempat terjadi kemarin. ”Kenapa ya setiap aku melihat fhotonya kak Afdhal yang ada di hapeku, pasti saja hapeku selalu tiba-tiba mati?.”

Kata Eliza. ”Pemirsa ada yang tahu enggak kenapa ? xixixi..” ^_^ ** Setelah Eliza berhasil menghidupkan kembali hapenya, ia melihat lagi fhotonya Afdhal dan senyum-senyum sendiri tampak jelas dari wajahnya. Eliza tiba-tiba mengingat kata mutiara yang sering orang-orang katakan dan hal itu juga pernah ia dengar. Kata mutiaranya berbunyi seperti ini, ”Apabila ada kemiripan antara si perempuan dan si laki-laki biasanya mereka jodoh.” Eliza mencoba tersenyum, ia mencoba mengecek senyumnya dan di bandingkan dengan senyumnya Afdhal yg terlihat dari foto yang sekarang Eliza lihat. ”Sama atau enggak ya?” Gumam Eliza dalam hati Ia kaget tiba-tiba. ”Wah kayaknya ada kemiripan antara aku dan kak Afdhal, ternyata kalau aku senyum, manis juga, enggak jauh beda dengan senyumnya kak Afdhal, jangan-jangan benar nih kak Afdhal jualah nanti yang menjadi jodohku, xixixi.” ** Setelah 1 minggu lebih, kehadiran Afdhal yang di nanti kini telah hadir. Eliza sedang mengerjakan tugas kuliahnya di kamar pada saat itu, tiba-tiba saja ia heran setelah mendengar suara orang yang sepertinya lagi ramai berbicara di ruang tengah, Eliza memilih beranjak dari tempat tidurnya kemudian membuka pintu kamarnya.

Dan setelah Eliza menuju keruang tengah, apa yang terjadi saudara-saudara, hatinya Eliza seperti berbunga-bunga, xixixi, itu sih kalau bahasa lebaynya… Yang jelas hati Eliza benar-benar senang. ”Hei Eliza, kamu sekarang kuliah dimana ?” Tanya Afdhal seraya tersenyum. Eliza sedikit kaget ia tidak menyangka kalau Afdhal yang duluan menegurnya. ”Kuliah di kota sini aja kak.” Jawab Eliza seraya terlihat senyum manis di bibirnya. ”Baguslah, yang penting kamu kuliah.” ** Saat malam tiba, ingin rasanya Eliza keluar duduk di teras berharap Afdhal juga sekarang lagi berada di teras rumah kontrakannya, selain rumah mereka bersebelahan jaraknya juga sangat dekat. Tidak seperti biasanya Eliza ingin duduk di teras rumahnya, biasanya ia memilih untuk menonton televisi, atau istirahat di kamar atau membantu ibu yang sedang berjualan di warung.

---> To Be Continued

22 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 11

Bahagian11:

"Eliza, sudah belum? kok lama amat ?” "Sebentar tante, ini masih proses." 15 menit kemudian. "Nih tante." Kata Eliza. Tante Feni melihat kembali foto-fotonya Nana, dan tante Feni juga sempat melihat fotonya Afdhal, Eliza yang pada saat itu sedang duduk disebelah tante Feni.. "Kak Yuli ini foto Afdhal yang sekarang kan ?" Tanya tante Feni. "Iya, itu foto Afdhal yang sekarang." "Afdhal ganteng banget, pintar lagi, wajar saja kalau Afdhal menjadi idola gadis-gadis." Kata tante Feni. Tante Yuli hanya tersenyum. "Nih Eliza, Afdhal gantengkan ?" Eliza hanya tersenyum. "Kalau soal itu dari dulu aku sudah tahu tante." Gumam Eliza dalam hatinya. ** (Wah untung saja enggak ada yang dengar kata hati Eliza, xixixi ^__^) ** "Kamu sama Afdhal saja entar nikahnya, beruntung loh kalau kamu nikah sama Afdhal."

Kata tante Feni yang setengah serius setengah bercanda. Eliza kaget, ia tidak pernah menyangka sebelumnya kenapa tante Feni berani berbicara seperti itu di hadapan orang tuanya Afdhal. Tante Yuli tersenyum. "Siapa tahu kalau jodohkan Eliza?” Tanya tante Yuli. ”Iya, siapa tahu.” Sahut tante Feni. Eliza tak berani berkata apa-apa ia hanya bisa tersenyum, ia yang sangat malu pada saat itu berusaha untuk mencari topik pembicaraan yang lain. ”Coba lihat anak kecil ini, imut kan tante?” Tanya Eliza cepat seraya menunjukkan foto yang ada di hape tante Yuli. ”Iya, rambutnya lurus, cantik.” Jawab tante Feni. ”Yang mana ?” Tanya tante Yuli. ”Yang ini.” Jawab Eliza ”Itu anaknya Ilyas dari istri keduanya.” ”Lucu.” Kata Eliza. ”Iya, sama seperti Nana juga lucunya.” Sahut tante Feni. Tante Yuli tersenyum. ”Jadi Afdhal kapan ke sini kak.” Tanya tante Feni. ”Nanti setelah dia selesai bekerja di perusahaan yang ada di sana untuk sementara waktu.” ”Berapa lama kak ?” Tanya tante Feni lagi. ”2 Minggu, setelah itu Afdhal ke sini, dan bekerja di salah satu perusahaan yang ada disini.” ”Alhamdulillah, aku bersyukur kepadaMu ya Allah, kehadiran seseorang yang aku nanti akan segera hadir, semoga aku selalu bisa sabar menanti.” Pinta Eliza dalam hati. Eliza heran dengan kata hatinya, ia tidak pernah menyangka kalau hatinya menanti seseorang, apakah dirinya juga demikian ? ”Aku harap para pembaca bisa sabar menanti jawabannya, xixixi…” ^_^.

2 Jam kemudian, Eliza masuk dalam kamarnya. Ia rebahkan tubuhnya dipembaringan, ia pencet-pencet hapenya mencari-cari fotonya Afdhal yang telah ia Bluetooth tadi, beberapa saat kemudian,. Eng ing eng… Apa yang terjadi saudara-saudara, ternyata baru beberapa detik saja melihat fotonya Afdhal, hapenya Eliza tiba-tiba mati. ”Kok bisa ?” Mungkin itu yang menjadi pertanyaan di benak kita, xixi..^__^ Eliza juga enggak mengerti kenapa hapenya bisa tiba-tiba saja mati, baterai hapenya juga enggak low. ”Mungkin Allah melarang aku terlalu banyak senyum-senyum sendiri saat melihat foto kak Afdhal, atau mungkin Allah melarang aku untuk terlalu larut dalam perasaan.” Gumam Eliza dalam hati. Eliza mencoba menghidupkan hapenya, tapi masih saja tidak bisa hidup, tapi setelah Eliza membuka baterai hapenya, kemudian memasang baterai hapenya kembali, hapenya baru bisa hidup. ”Um, mungkin begini nih kalau ambil foto secara sembunyi-sembunyi.” Kata Eliza pelan dengan tawa kecilnya. Lagi donk foto-fotonya si nana.” ”Sebentar donk tante, aku masih Bluetooth nih.” Jawab Eliza seraya tersenyum. ”Tante penasaran Eliza, pengen lihat semuanya, kamu download apa sih? lama banget.” ”Ini download fotonya si Nana,.”

--- > To Be Continued

20 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 10

Bahagian10:

Setelah 3 hari kemudian, mama, ayah n keponakannya Afdhal tiba di kota Eliza, mereka juga menginap di rumah Eliza. Eliza heran keberadaan Afdhal yang ia sedikit nantikan kok tidak kunjung hadir. Sedikit aja kok enggak banyak, xixixi.. Keponakannya Afdhal, Nana namanya, Nana ini memiliki pipi yang chubby , gendut, ngegemessin deh pokoknya, Nala yang saat ini masih berusia 3 tahun. Nana adalah anaknya Ilyas dari istri pertamanya.

Pada saat itu Eliza baru saja pulang dari kuliah, ia kaget setelah melihat keberadaan orang tuanya Afdhal dan keponakan Afdhal, yang pada saat itu sedang ngobrol dengan nenek dan bundanya di ruang tengah. ”Eh, kapan datangnya om dan tante ? Ih ada Nana juga.” Kata Eliza ramah dengan senyum. ”Baru saja.” Kata tante Yuli dan suaminya bersamaan. ”Kamu dari mana ? Tanya tante Yuli. ”Baru saja pulang kuliah.” Jawab Eliza dengan senyum.

Pada malam hari Eliza mencoba memberanikan diri menanyakan tentang keberadaan Afdhal. ”Sekarang Afdhal lagi kerja disalah satu perusahaan yang ada disana.” Eliza kaget dan tiba-tiba saja ia merasa sedih. ”Yaa, kok bukan disini ? padahalkan aku menanti juga kedatangangan kak Afdhal, ehm, mungkin bukan jodoh.” Gumam Eliza dalam hati. Pernyataan seperti itu tiba-tiba saja hadir dalam hatinya, Eliza juga heran kenapa demikian. ”Apakah aku mulai suka dengan kak Afdhal ?” Gumam Eliza lagi di dalam hatinya. Keesokkan harinya, tante Feni berkunjung ke rumah Eliza. Tante Feni orangnya humoris juga, ia juga sangat geregettan dengan Nana keponakannya Afdhal, si Nana yang chubby. Nana pada saat itu yang sedang melamun sambil melihat ke layar televisi, dengan posisi duduk dan bantal di pangkuannya, ekspresi nya seperti orang yang tidur sambil melek, xixixi. ( Bingung enggak bayangin gimana posisinya Nana ? xixixi) (Bayangin sendiri aja deh ^_^) Eliza, keluarga Eliza, Nana dan orang tuanya Afdhal sedang bersantai ria di ruang tengah.

Sambil mengobrol dan menonton acara di televisi ”Eliza, coba deh lihat si Nana !” Kata tante Feni. ”Kenapa ?” ”Tuh lagi melamun.” Tante Feni tertawa kecil. Eliza tersenyum manis. ”Eliza, coba deh foto si Nana !” Setelah Eliza mengambil foto Nana, tante Yuli mengambil hapenya dari dalam tas kemudian ia memperlihatkan foto-foto Nana yang lain, kemudian tante Feni meminjam hape tante Yuli, melihat foto-foto si Nana yang lucu-lucu. Eliza pun segera duduk di dekat tante Feni, ia juga ingin melihat foto Nana. ”Ih, lucunya.” Kata Eliza. ”Iya coba lihat gayanya.” ”Iya, aku pinjam donk tante, aku mau bluetooth di hape aku.” ”Ya bagus kamu simpan juga foto-foto si Nana yang lucu ini di hape kamu, buat kenang-kenangan.” ”Iya tante, aku mau banget, pinjam bentar ya ?” Tante Feni meminjamkan hape tante Yuli ke Eliza. Ternyata dan ternyata, lama banget prosesnya sewaktu Eliza bluetooth fotonya si Nana, baru aja 1%, Eliza membatalkan bluetoothnya, ia memilih untuk mencari-cari fotonya kak Afdhal, dan ia ingin mendownload foto Afdhal secara sembunyi-sembunyi, alhamdulillah enggak ada yang tahu juga pada saat itu. ( Kalian juga ya para pembaca, jangan kasih tahu sama siapa-siapa ! xixixi ) Wisshh, cepat banget prosesnya waktu mendownload foto Afdhal. Setelah Eliza melihat hasil mendownload foto Afdhal di hapenya, Eliza senyam-senyum sendiri, senang banget… xixixi Seperti itu lah perasaan Eliza. ^_^ Beberapa menit kemudian tante Feni meminjam kembali hape mamanya Afdhal yang sekarang lagi ada di tangan Eliza. ”Tante lihat lagi donk foto-fotonya si nana.” ”Sebentar donk tante, aku masih Bluetooth nih.” Jawab Eliza seraya tersenyum. ”Tante penasaran Eliza, pengen lihat semuanya, kamu download apa sih ? lama banget.” ”Ini download fotonya si Nana,.”

Ti dak seperti dulu, sebelum ia mengenakan jilbab, ia termasuk pemilih orangnya, yang bisa jadi pacarnya harus lulus tes dulu.. xixixi.. kayak apa aja... :) Tetapi sekarang bicara tentang tipe lelaki idaman Eliza, bukan sesuatu yang bikin kepala mumet, karena Eliza hanya mengharapkan yang terbaik , bukan dari pandangannya tapi dari pandangan Allah, karena ia yakin jodoh tidak lari kemana.

---> To Be Continued

18 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 9

Bahagian 9:

Eliza, memang bukan seorang gadis yang angkuh. Bicara tentang tipe lelaki idaman Eliza, bukan sesuatu yang bikin kepala mumet, karena Eliza hanya mengharapkan yang terbaik , bukan dari pandangannya tapi pandangan Allah. Eliza bukannya seorang gadis yang tidak pernah pacaran sebelumnya, pernah, tetapi Eliza selalu saja merasa jenuh dengan pacar-pacarnya, ia juga selalu risih apabilah bersentuhan dengan pacarnya, ia merasa selalu di awasi dan selalu saja ia merasa gelisah apalagi berdua-duaan dengan lelaki yang bukan mahramnya, tetapi kesucian Eliza selalu ia jaga, ia tidak ingin melakukan sebelum ia menikah.

Belajar dari kesalahan, selalu benar sekarang bukan berarti tidak pernah salah sebelumnya, kini ia menyadari siapa sebenarnya yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya kalau bukan Allah SWT, keinginannya berjilbab memang sudah lama, hanya saja dulu ia selalu merasa kurang percaya diri dan enggak berani untuk menghadapi perubahan. Sesuatu yang biasa jadi masalah kaum hawa jaman sekarang, Eliza pernah mengalami dilema itu, selalu merasa bersalah apabila melihat keluarga atau teman-temannya yang lain mengenakan jilbab. "Ya Allah cantiknya." Kata itu yang Eliza selalu ucapkan dalam hati, ataupun tanpa ia sadari kata itu kadang terucap dari bibirnya. Pernah ia ngobrol dengan seorang wanita berjilbab, wanita itu adalah temannya. "Enggak panas ya pakai jilbab ?" "Awalnya sih iya, tapi kalau kita sudah terbiasa, insyaAllah tidak lagi." Jawab temannya. "Apa enaknya sih berjilbab ?" "Kita lebih dihargai dan aurat kita terjaga, kamu kenapa enggak pakai jilbab ?" Kata temannya lagi. "Um, belum ketemu dengan jilbab yang cocok." "Kamu sudah mencoba ?" "Sudah pernah tapi aku enggak mengerti cara pakainya." "Kenapa enggak coba terus sampai bisa ?" "Um, entarlah tunggu hatiku benar-benar mantap mengenakan jilbab." "Kenapa ? "Aku juga takut sih dengan komentar orang entar, yang heran melihat aku tiba-tiba berjilbab."

Temannya Eliza tersenyum manis. "Sampai kapan kamu mau terus-terussan sembunyi di balik rasa takutmu itu ? Lagian semua orang memang selalu berkomentarkan ? Baik itu hal yang buruk ataupun yang baik." "Iya juga sih, tapi aku takut dan enggak suka banget dengar omongan orang seperti itu." "Eliza, semua manusia berhak untuk memiliki keinginannya, beranilah melangkah, omongan orang yang pedas cukup kita jadikan cambukan buat diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, kita harus bisa buktikan ke mereka, kita bisa, kita mampu menerima perubahan yang lebih baik dan tentunya dijalan yang benar." Eliza merasa lidahnya kaku untuk berbicara, hatinya sangat tersentuh setelah mendengar pernyataan temannya, Eliza yang pada saat itu hanya mampu melihat wajah dan senyum manis dari bibir temannya.

Eliza pernah tegaskan dalam dirinya, sewaktu ia memulai mengenakan jilbab 2 tahun yang lalu. "Aku harus bisa, aku harus yakin, Allah selalu mengawasi aku, aku seharusnya takut sama penilaian Allah terhadap diriku, bukan dengan komentar manusia yang kadang menyesatkan aku." Semenjak Eliza mengenakan jilbab, ia tidak pernah mau lagi pacaran sebelum nikah, yang ia inginkan adalah pacaran setelah menikah. ** "Ya Allah, apakah kak Afdhal jodohku nanti ? Ya Allah aku pasrah kan kepada-Mu soal jodohku, hanya engkau yang tahu apa yang terbaik untukku, iringi setiap langkahku ya Robb, jangan biarkan aku melangkah tanpa petunjukMu. Aamiin Pinta Eliza doanya. Tipe pria idaman Eliza bukanlah sesuatu yang ribet, ia tidak seperti dulu, sebelum ia mengenakan jilbab, ia termasuk pemilih orangnya, yang bisa jadi pacarnya harus lulus tes dulu.. xixixi.. kayak apa aja... :) Tetapi sekarang bicara tentang tipe lelaki idaman Eliza, bukan sesuatu yang bikin kepala mumet, karena Eliza hanya mengharapkan yang terbaik , bukan dari pandangannya tapi dari pandangan Allah, karena ia yakin jodoh tidak lari kemana.

---> To Be Continued

16 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 8

Bahagian 8:

”Um.” Setelah melihat fotonya Afdhal, Eliza berpikir sejenak. ”Kok aku jadi pengen lihat fotonya terus ya?” Gumam Eliza dalam hati. ** Beberapa minggu kemudian, setelah Afdhal selesai wisuda, Afdhal menerima tawaran kerja di salah satu perusahaan dengan gaji yang lumayan besar. ”Bunda, jadi beneran ya kak Afdhal entar kerjanya dikota sini ?” ”Iya.” “Terus tinggalnya dimana?” ”Di rumah kontrakan.” ”Rumah kontrakan yang ada dimana bunda?” ”Itu yang ada di sebelah rumah kita.” Eliza kaget. Loh kenapa kak Afdhal enggak cari rumah kontrakan yang lebih bagus bunda ?” ”Kan rumah kontrakan disebelah rumah kita selain bagus juga murah, kata mamanya, Afdhal mau hemat supaya dia bisa kumpulin uang gajinya nanti buat bangun rumah.” Eliza mengangguk tanda mengerti. ”Bagus juga ya bunda keinginan kak Afdhal ?” ”Iya masa depan Afdhal juga jelas, selain dapat tawaran kerja di perusahaan yang bagus dengan gaji yang tinggi, mau membangun rumah lagi, nanti kalau dia sudah punya istri dia enggak perlu susah-susah ngontrak rumah lagi.” ”Iya, bunda benar enggak sih tante Yuli pernah bilang mau jodohin Eliza sama kak Afdhal ?” Bunda tersenyum. ”Siapa yang kasih tahu kamu ? ”Tante Feni, benar enggak sih bunda ? Eliza kurang yakin.” ”Iya benar.” Eliza kaget. ”Tapi kok tante Yuli bisa bilang begitu sih bunda ?” ”Tante Yuli kamu senang sama kamu.” ”Tante Feni juga bilang begitu, dengan alasan karena aku enggak suka keluyuran di luar rumah kan bunda ?” Bunda senyum seraya mengangguk pelan. ”Kan masih banyak gadis yang seperti Eliza, enggak cuma Eliza aja.” ”Iya, tapi katanya jarang jaman sekarang gadis seperti kamu.” ”Tapi bunda.” ”Kenapa ?” ”Eliza enggak pernah kepikiran sebelumnya.” Bunda meleretkan senyuman panjang. ”Bunda enggak maksa Eliza kan ?” Tanya Eliza. ”Enggak lah, kalau bunda suka, terus kamunya enggak suka, masa bunda harus maksa ?” Eliza menghela nafas seketika setelah mendengar omongan bundanya. ”Kak Afdhal itu terlalu sempurna buat Eliza, walaupun Eliza suka sama kak Afdhal, tapi kak Afdhalnya kan belum tentu suka sama Eliza, iya enggak bunda ?.” Bunda hanya tersenyum. ”Lagian dari kecil kak Afdhal sudah Eliza anggap seperti kakak Eliza sendiri, tapi bunda kalau sudah jodoh kan kita enggak tahu ?” Kata Eliza lagi. ”Iya, kan lebih bagus.” Kata bunda seraya tersenyum. Eliza menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Eliza bingung bunda. Sudah adzan isya, Eliza sholat dulu ya bunda ?” Bunda mengangguk pelan seraya tersenyum.

I rwan yang lagi kesal juga pada saat itu ia mengingat kisah kemarin saat Eliza mencubit pipinya yang mirip bakpau. "Xixixi, maaf deh dedeku sayang, lain kali jangan begitu lagi yah." Kata Eliza dgn tawanya seraya mengelu-elus pipinya Irwan, adeknya. "Sayang dulu donk." Ucap Eliza lagi seraya menyodorkan pipinya ke Irwan. "Enggak mau." "Dikit aja." "Enggak." "Beneran nih? besok kakak mau beli es krim ah, mau makan sendiri aja." "Ilwan juga kakak." "magkanya, sayang dulu donk." Irwan memeluk Eliza. "Kiss kakak donk !" "Emmuach." Bunda hanya tersenyum bahagia melihat kedua anaknya akur dan saling menyayangi.

----> To Be Continued

14 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 7

Bahagian 7 :

Saat di kampus. ”Dzaki, pacarnya Afdhal sekarang siapa?” Tanya seorang gadis, teman pacarnya Dzaki. ”Lagi sendiri kayaknya, emangnya kenapa? mau daftar ya?” Gadis itu tersenyum. ”Yee, enggak lah aku cuma nanya doank kok.” ”Sudahlah ngaku saja.” ”Um, tau ah.” ”Jangan jual mahal, entar enggak laku-laku loh, xixixi.” ”Salam aja deh sama Afdhal.” ”Sip, entar ku sampaikan.” ** Di rumah Eliza. ”Bunda, kak Eliza mana ?” Tanya Irwan sambil mengunyah roti di mulutnya. ”Kuliah sayang, kenapa ?” ”Enggak apa-apa kok bunda.”

Saat Eliza pulang kampus, ia segera ke kamar dan setelah itu ia menuju ke teras belakang rumahnya. Eliza kelihatannya sedang kebingungan, Eliza menghampiri bundanya yang sedang memasak di dapur. ”Bunda, lihat handuk mandi Eliza enggak ?” ”Tadi pagi kamu taruh dimana?” ”Di jemuran teras belakang, tapi kok enggak ada ya ?” ”Bunda enggak lihat, coba kamu tanya sama Mini!” ** Eliza menuju ke kamar Mini dan mengetuk pintu kamar Mini.” ”Mini, lihat handuk kakak enggak ?” Mini membuka pintu kamarnya. ”Handuk mandi kakak ya ?” ”Iya, kamu lihat enggak ?” ”Tadi di bawa sama Irwan.” ”Hah, serius kamu ?” ”Iya, handuk kakak warna biru kan ?” ”Iya, mana Irwan ?” ”Ada di ruang tengah kayaknya.” ** Eliza buru-buru menuju ke ruang tengah, dan ia kaget setelah melihat Irwan asyik mengelap-elap air kencingnya menggunakan handuk Eliza. ”Irwan, itukan handuknya kakak.” Irwan tertawa dan memasang wajah seperti orang yang tidak bersalah. ”Pinjam sebental ya kakak.” ”Itu air apa ?” ”Ail pipisya Ilwan.” Kata Irwan dengan polosnya. ”Loh, kamu kok.” Eliza heran dan sepertinya ia geregettan melihat tingkah Irwan yang nakal. Irwan segera berlari sekencang-kencangnya menuju kedapur dimana bundanya berada, Eliza enggak mau kalah iapun berlari mengejar Irwan. ** ”Bunda, kak Eliza mau cubit Ilwan.” Irwan mengadu kepada bunda. ”Bunda, masa Irwan pakai handuknya Eliza buat ngelap air kencingnya.” Ucap Eliza kesal. ”Benar itu Irwan ?” ”Kan Ilwan cuma pinjam.” ”Kan bisa pakai lap yang lain, enggak harus pakai handuknya kakak dong.” Eliza mendengus kesal. Irwan cemberut. ”Ilwan mau balas dendam cama kakak.” Ucap Irwan dengan polosnya. ”Dendam apa ?” ”Kemarin kakak cubit pipinya Ilwan kan ? cakit loh kakak.” Eliza yang tadinya marah tiba-tiba ketawa setelah mendengar omongannya Irwan. ”Tapi kenapa harus handuknya kakak sih dek ? katanya kemarin mau gigit bantalnya kakak.” ”Iya, gimana mau gigit bantalnya kakak, tadi Ilwan mau macuk ke kamalnya kakak tapi kamalnya kakak tekunci.” Ucap Irwan dengan polosnya, Irwan yang lagi kesal juga pada saat itu ia mengingat kisah kemarin saat Eliza mencubit pipinya yang mirip bakpau. "Xixixi, maaf deh dedeku sayang, lain kali jangan begitu lagi yah." Kata Eliza dgn tawanya seraya mengelu-elus pipinya Irwan, adeknya. "Sayang dulu donk." Ucap Eliza lagi seraya menyodorkan pipinya ke Irwan. "Enggak mau." "Dikit aja." "Enggak." "Beneran nih ? besok kakak mau beli es krim ah, mau makan sendiri aja." "Ilwan juga kakak." "magkanya, sayang dulu donk." Irwan memeluk Eliza. "Kiss kakak donk !" "Emmuach." Bunda hanya tersenyum bahagia melihat kedua anaknya akur dan saling menyayangi.

---->> To Be Continued

12 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 6

Bahagian 6:

Bagi Eliza mamanya Afdhal terlalu pemilih orangnya dalam menilai gadis untuk anaknya, pernah mamanya Afdhal cerita tentang istri adeknya Afdhal, adeknya Afdhal, Ilyas namanya mempunyai 2 istri, mamanya Afdhal pernah cerita sama Eliza, istri pertama Ilyas lebih cantik dari pada istri kedua Ilyas. Mamanya Afdhal juga pernah bilang kalau Afdhal tidak ingin memiliki istri yang bodoh, Afdhal ingin memiliki istri yang pintar. ”Mama pemilih, si anak juga, wah berat, xixixi.” Gumam Eliza dalam hati. Terakhir Eliza pernah ketemu Afdhal 10 bulan yang lalu, Afdhal waktu itu agak kurus dan kulitnya agak hitam.

Mamanya Afdhal juga sempat cerita ke Eliza, kalau Afdhal sempat sedih banget waktu pacarnya menikah dengan cowok lain. Eliza selalu menjadi pendengar setia cerita mamanya Afdhal. xixixi.. ^_^ Bagi mamanya Afdhal, Eliza dewasa anaknya, dan nyambung diajak ngobrol. Eliza anak pertama dari 3 bersaudara, Eliza masih memiliki 2 adek, Mini dan Irwan, Mini masih duduk dibangku SMP, sedangkan Irwan masih berusia 3 tahun lebih. Sore hari, saat di ruang tengah. ”Bundaaa, kak Eliza cubit pipinya Ilwan.” Teriak Irwan dengan polosnya. ”Enggak ada bunda.” Eliza juga ikut teriak. Saat itu bunda dan mamanya Afdhal sedang duduk di teras. ”Iya bunda, cakit pipinya Ilwan.” ”Enggak ada bunda.” Eliza memang selalu usil, mengganggu adeknya Irwan adalah salah satu hobbynya, apalagi mencubit pipinya Irwan yang chubby, kira-kira wajah Irwan seperti gambar di atas. xixixi.. ”Bundaaa, tolooong.” Teriak Irwan yang sedang kesakitan. ”Enggak usah bundaaa.” Irwan semakin emosi dengan pipinya yang kini merah merona, karena cubitan Eliza yang bertubi-tubi. Irwan, memegang tangan Eliza dgn kuat, kemudian ia mulai melebarkan mulutnya siap untuk menyantap tangannya Eliza. Sayang, Irwan lagi-lagi gagal, gerak Eliza yg gesit membuat Irwan gagal menyantap tangan mulus Eliza. ”kakak, nanti Ilwan gigit bantal kakak.” Kata Irwan emosinya memuncak. Eliza tertawa geli mendengar omongan adeknya. ”Silahkan sayang, kalau perlu ganggang pintu kamar kakak sekalian ya.” Muka Irwan semakin merah merona, kelihatan seperti muka pemain sumo yang sedang terbakar panasnya matahari. xixixi

------> To Be Continued

10 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 5

Bahagian 5 :

Saat di kampus Eliza. ”Turun kuliah bareng siapa?” Tanya seorang teman, Erin namanya. ”Hafiza.” ”Tugas kamu sudah selesai?” "Tugas yang mana ya?” ”Tugas hari selasa kemarin.” ”Oh.” ”Kok cuman oh?” ”Memangnya kenapa?” ”Lihat donk.” ”Kerja sendiri donk.” Kata Eliza seraya tersenyum. ”Aku enggak mengerti caranya, pusing, lihat donk !” ”Mmm.” Sejenak Eliza pura-pura berpikir. ”Eliza, kok sama teman pelit sih?” ”Takut aja.” ”Takut apa?” ”Entar kalau kamu nyontek jawaban aku, terus dosen periksa, dan ternyata jawabannya aku salah, entar kamu salahin aku lagi, kerja sendiri aja ya?” ”Enggak bakal aku salahin kamu kok, lihat donk Eliz.” Pinta Erin lagi. ”Begini aja aku bantu kamu cari penyelesaiannya aja ya?” ”Yaa, kelamaan.” ”Ya sudah kalau enggak mau.” ”Aku nyontek saja ya.” ”No..no..no…” ”Ya deh, bantu aku cari penyelesaiannya aja.” ”Ok.”

Saat di kantin kampus Afdhal. ”Kak Afdhal ya?” Tanya seorang gadis. ”Saya yang namanya Afdhal.” Kata Dzaki seraya merapikan rambutnya, Dzaki yang pada saat itu juga berada di kantin. Gadis itu manyun. Afdhal hanya tersenyum melihat gayanya Dzaki yang sedang asyik tebar pesona. ”Jangan percaya sama tukang bohong.” Kata Fahmi seraya tertawa. ”Kak Afdhal aku Nisa, boleh minta nomor hapenya enggak?” Kata gadis itu lagi seraya tersenyum manis ke Afdhal. ”Nomor hape aku aja, aku ikhlas kok.” Sahut Dzaki dengan senyum manisnya. ”Di catat ya 085678990555.” Kata Dzaki lagi. ”Kepedean amat sih.” Kata Fahmi dengan tawanya.

---- > To Be Continued

08 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 4

Bahagian 4 :

1 bulan kemudian. Saat sarapan, Mira mondar mandir ke kamar mandi. ”Miraaa..” Teriak tante Ririn. ”Iya ma.” Jawab Mira saat ia berada di kamar mandi. ”Kamu kenapa ?” ”Enggak tahu ma, bawaannya pengen muntah mulu.” Mata tante Ririn terbelalak. Toeng.. (^_^) Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. Tante Ririn beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri Mira. ”Ayo kita segera pergi periksa ke Rumah Sakit.” ”Tapi ma.” ”Enggak ada tapi-tapi.”

** Setelah Mira diperiksa. ”Bagaimana dok, ada apa dengan anak saya?” ”Anak ibu positif hamil.” ”Apa?” Tante Ririn kaget. ** Saat di rumah. ”Sini kamu.” Kata tante Ririn seraya menarik tangannya Mira. ”Ma, sakit.” ”Kamu duduk sini.” Mira tiba-tiba menangis ia takut di marahi. ”Kenapa kamu enggak bisa jaga kepercayaan mama ? mama malu Mira, kenapa kamu sama saja seperti anak-anak remaja yang lain ?” ”Mira, khilaf ma.” ”Khilaf ? Oh. Katanya kamu sudah besar tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.” Mira hanya menangis. ”Mira kamu tuh ya memang susah di kasih tahu, mama mau bilang apa sama Afdhal nanti ? mama malu Mira.” ”Maafin Mira ma.” ”Sekarang sudah terlambat Mira, mama benar-benar kecewa sama kamu.” ”Ma, maafin Mira.”

** 1 Minggu kemudian, tante Mira terpaksa menikahkan Mira dengan pria yang telah menghamili Mira. ** “Bagaimana nak? ”Afdhal enggak apa-apa ma.” ”Tante Ririn kamu benar-benar minta maaf sama kamu.” ”Iya ma, Afdhal enggak marah kok, baguslah kalau memang Mira menikah dengan pria pilihannya.”

** 5 bulan berlalu. Tahu enggak teman-teman, Afdhal semakin apa ? (^_^) Semakin-semakin aja loh, xixixi :D ** Mamanya Afdhal berangkat ke kota yang dekat dengan kota tempat Afdhal kuliah, mamanya Afdhal menginap salah satu rumah kenalan lamanya. ** ”Tante, kapan datangnya?” Tanya seorang gadis. Gadis itu adalah anak dari kenalan lamanya. ”Baru saja, kamu mau kemana ?” ”Mau berangkat kuliah dulu tante.” ** Saat malam tiba. ”Jadi kak Afdhal sudah mau wisuda yah tante?” ”Iya insyaAllah bulan depan.” ** Gadis berjilbab ini sudah lama juga kenal Afdhal, bahkan semenjak mereka masih kecil lagi. Eliza namanya, Eliza bukan gadis yang suka dengan dunia malam, ia juga bukan gadis yang modern, penampilan yang sederhana dan rapi itu menjadi ciri khas Eliza. (^__^)

--- >>To Be Continued

06 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 3

Bahagian 3 :

6 Bulan lagi Afdhal lulus kuliah. ** Tante Ririn sudah tidak sabar menunggu Afdhal untuk dinikahkan dengan anaknya. Diam-diam Mira sempat dekat dengan cowok lain. "Kamu dari mana Mira?” Tanya tante Ririn saat melihat Mira memasuki pagar rumahnya. ”Mira dari ini ma…em.. anu.. em..” Jawab Mira terbata-bata. ”Cepat masuk, terus mandi, setelah itu mama mau bicara sama kamu.” Bentak mamanya. Mira pun menuruti perintah mamanya.

** Setelah Mira selesai mandi dan berpakaian. Tante Ririn mengajak Mira ke ruang tengah. ”Cowok tadi itu siapa ? ”em…itu bukan siapa-siapa ma.” Mira gugup. ”Maksut kamu ?” ”Em.. dia temannya Mira ma.” ”Bagus ya, perginya di jemput sama Silvi, pulangnya sama cowok, kenapa bukan silvi yang nganterin kamu pulang ?” ”Em…anu ma, Silvi nganterin mamanya ke pasar tadi, iya ke pasar ma.” ”Jangan bohong kamu ya ? mama itu enggak mau kamu dekat-dekat sama cowok yang urak-urakkan.” ”Ma, mira lelah nuruti semua aturannya mama, Mira juga ingin menikmati masa remajanya Mira ma” ”Masa remaja anak-anak sekarang itu banyak yang salah gaul mira, mama enggak mau kamu seperti mereka.” ”Mira sudah gede ma, Mira tahu mana yang buruk dan mana yang baik, percaya sama Mira ma.” Tante Ririn menghela napas seketika. ”Tapi kamu ingat, mama mau jodohin kamu sama Afdhal, Afdhal itu pria yang baik, jangan sampai kamu mengecewakan Afdhal.” Mira mengangguk pelan. ”Iya ma, Mira ngerti.”

** 1 minggu kemudian, Tante Ririn menelpon Afdhal. ”Afdhal, ini nih Mira mau bicara sama kamu, kangen sama kamu katanya.” Tante Ririn sengaja berkata seperti itu, agar Afdhal percaya kalau Mira juga setia menanti kedatangannya. ”Mira, nih Afdhal.” Bisik tante Ririn ke Mira yang saat itu sedang asyik smsan sama pacarnya. ”Apa sih ma ?” ”Cepat ngomong sama Afdhal, bilang kalau kamu kangen sama dia.” Bisik mama lagi. Sebenarnya Mira malas menuruti kemauan mamanya, ia merasa Afdhal enggak ada feeling sama dia, karena sebelumnya Mira selalu sms Afdhal tapi Afdhal selalu telat balas smsnya, kalaupun dibalas paling Afdhal membalas smsnya Mira dengan singkat. Misalnya isi smsnya seperti ini : Mira : kak lagi ngapain ? sudah makan belum ? 2 menit kemudian. Afdhal : belajar, sudah. (hoho, terlalu sadis caramu (^__^) tapi masih mending kan di balas dari pada enggak.. hehe..) ”Hallo kak lagi ngapain ? ”Lagi baca buku.” ”Dimana kak ?” ”Di teras.” ”Kakak apa kabar ?” ”Baik.” ”Ya sudah kalau begitu kak, maaf ya kalau ganggu ?” ”Iya.” Mira kemudian mematikan telponnya. ** Mira manyun. ”Loh kok cepat amat ngobrolnya ?” Kata mama heran. ”Kak Afdhalnya lagi sibuk.”

---->> To Be Continued

04 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 2

Bahagian 2 :

Rista adalah gadis yang cantik dan juga pintar, memiliki calon istri yang cantik dan pintar adalah keinginan Afdhal, sedikit sombong ya kedengarannya? hehe, tapi itulah keinginan Afdhal. 2 bulan kemudian, Rista hamil, perasaan Afdhal enggak karuan ketika mendengar kabar tersebut. Rista terpaksa menuruti kemauan orang tuanya menikah dengan pria pilihan orang tuanya dan kini anak yang ada dalam kandungannya adalah anak dari suaminya.

** Saat malam tiba. Afdhal kurang konsentrasi mengerjakan tugasnya, ia selalu kepikiran Rista, Rista gadis yang ia sangat cintai. Terdengar suara hape Afdhal berdering. "Hallo." "Hallo, Afdhal kabar kamu bagaimana nak ?" Afdhal kaget ketika ia mendengar suara mamanya yang sedang berbicara di telpon. "Afdhal baik-baik saja ma." "Kamu enggak bohong nak ?" Suasana hening seketika. "Enggak ma, Afdhal baik-baik saja." "Kamu jangan kepikiran dengan Rista terus nak, kesehatan kamu lebih penting, mama enggak mau kalau konsentrasi belajar kamu menurun karena kepikiran Rista terus." "Iya ma." Sahut Afdhal pelan. ** Sebelumnya Afdhal memang pernah cerita sama mamanya yang ia kelak ingin menikah dengan Rista, Rista sebenarnya setia menanti, tetapi Orang tua Rista yang memaksa Rista untuk menikah. Afdhal juga sempat menangis ketika ia meluahkan perasaan sedihnya.

** 4 bulan kemudian. Rista berhenti kuliah, perutnya semakin membuncit, orang tua Rista melarang Rista untuk kuliah lagi, Rista harus banyak istirahat. Afdhal kembali seperti biasanya ia sekarang lebih tampan dari pada yang dulu, lebih semangat, kalau senyumnya, ehmmm tetap manis donk.. hehe "Afdhal, kamu apa kabar nak." "Afdhal alhamdulillah kabar baik ma, kalau kabar mama bagaimana ?" "Alhamdulillah baik juga nak ?" "Nak, apa kamu sekarang sudah punya pacar lagi ?" Kata mama tiba-tiba. "Belum ada ma, Afdhal masih teroma ." "Nak, tante Ririn kamu mau jodohin kamu sama anak gadisnya, si Mira." Afdhal diam seketika. " Kenapa Afdhal yang di pilih untuk jadi suami anaknya ma ? Mira kan sepupunya Afdhal." "Tante Ririn kamu salut sama kamu nak, ia percaya sama kamu, kalau Mira menikah sama kamu, Mira akan bahagia." Kata Ibu lagi. "Afdhal akan berusaha ma kalau dia setia menunggu Afdhal, Afdhal mau kelarin kuliah dan cari kerjaan dulu ma." "Ya sudah kalau itu yang kamu mau, nanti mama sampaikan sama tante Ririn dan Mira." Kata mama mengakhiri pembicaraan di telpon.

** Mira gadis yang cantik, ia gadis yang feminim. Mira sepupu satu kalinya Afdhal. Mira baru-baru saja lulus SMA. Tante Ririn sangat senang dengan Afdhal, karena baginya Afdhal pria yang pintar dan nyaris sempurna, Selain itu Afdhal bukanlah pria perokok, dan ia menginginkan Afdhal segera menikah dengan Mira, ia rela mengeluarkan biaya yang banyak untuk biaya pernikahan Mira nanti, dan bukan masalah baginya melamar Afdhal untuk anaknya, karena ia yakin Afdhal pria yang pantas untuk anaknya.

----->> To Be Continued

02 December 2011

Cerpen : Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri - Bhg 1

Selepas saya bersahabat maya dengan Nao Lisa, saya terjumpa cerpen hasil nukilan beliau. Setelah membaca beberapa siri, teringin pulak saya nak berkongsi dengan sahabat-sahabat. Setakat ini ceritanya ringkas tetapi dalam Bahasa Indonesia, numun begitu saya yakin kita boleh memahaminya. Tajuk cerpennya adalah Hati Bergetar Saat Sinarnya Cinta Menghampiri.

Jom baca sama-sama.

Bahagian 1:

"Maaf aku belum siap untuk menikah." "Bagaimana dengan aku ?" "Aku enggak bisa, aku harus kelmarin kuliah dan cari kerja dulu." Gadis itu menangis. "Maaf, aku harap kamu bisa mengerti." ** 1 bulan kemudian, gadis itu menikah dengan pria pilihan orang tuanya.

** Afdhal merasa sangat terpukul, ketika ia melihat mantan pacarnya jalan berduaan dengan seorang pria, yang ia tahu dari temannya itu suami Rista, mantan pacarnya. "Ya ampun, bodoh amat sih, Rista mau sama cowok itu." celetuk Fahmi salah satu temannya Afdhal. Afdhal ingin rasanya menjerit, meluahkan rasa kecewanya. "Gantengan Afdhal kemana-mana." Tambah Dzaki salah satu temannya Afdhal. ** Afdhal adalah mahasiswa yang sangat pintar, Afdhal bukanlah dari keluarga yang kaya raya, Afdhal dari keluarga yang sangat sederhana, ibu dan ayahnya bekerja keras menyekolahkan Afdhal, membayar kuliahnya Afdhal dan membiayai kebutuhan Afdhal sehari-hari, ayah dan ibu Afdhal punya harapan yang besar terhadap Afdhal, mereka ingin anak kedua dari empat bersaudara ini memiliki masa depan yang cerah, tidak seperti saudaranya yang lain, rata-rata saudara Afdhal memilih nikah muda dari pada konsentrasi dalam pelajaran.

Afdhal pria yang tampan, senyumnya selalu menarik simpati bagi siapa saja yang melihatnya, dosen Afdhal bangga dengan Afdhal, Afdhal selalu unggul dalam kelas, selalu memperoleh nilai terbaik adalah "makanan" sehari-harinya.. hehe.. Afdhal memiliki banyak teman, ia orangnya gampang sekali mencari relasi, Afdhal pria yang ramah. Afdhal memiliki sahabat dekat dua orang yaitu Fahmi dan Dzaki, Fahmi dan Dzaki orangnya lumayan tampan juga dan humoris, tetapi mereka memiliki perbedaan dalam menilai gadis yang mereka suka, Fahmi suka dengan gadis yang pendiam, enggak banyak omong, sedangkan Dzaki suka dengan gadis yang banyak omong, karena bagi Dzaki cewek seperti itu seru. Afdhal jarang sekali sholat, kadang saat adzan berkumandang ia tidak hiraukan, ia lebih milih konsentrasi dengan pelajarannya. Kalau ada tugas kelompok dari dosen, Afdhal selalu ditunjuk untuk jadi ketua kelompok, bagi Afdhal itu bukan hal yang luar biasa karena ia sudah terbiasa jadi ketua kelompok.

** Rista adalah mantan pacar Afdhal, Afdhal sangat menyayangi Rista dan sebaliknya Rista juga menyayangi Afdhal, tetapi orang tua Rista mendesak Rista untuk segera menikah, mereka tidak ingin Rista, anak semata wayangnya itu terlibat pergaulan bebas dan hamil di luar nikah. Rista sebenarnya tidak ingin menikah dengan pria pilihan keluarganya, ia ingin menikah dengan Afdhal, tetapi Afdhal menolak, saat ini ia belum siap untuk menikah ia tidak ingin menambah beban orang tuanya, Afdhal tidak ingin ia seperti saudaranya yang lain, meski saudaranya yang lain sudah menikah tetapi mereka selalu menyusahkan orang tuanya.

----->> To Be continued kata penulis