Showing posts with label Bulan Syaaban. Show all posts
Showing posts with label Bulan Syaaban. Show all posts

24 June 2013

Kebidaahan Malam Nisfu Sya'ban - Part 2

..... sambungan ....

Dalam Kitab Al-La’ali dinyatakan, hadits: "Seratus rakaat pada malam nishu Sya’ban dengan ikhlash pahalanya sepuluh kali lipat", yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami adalah Maudhu dan mayoritas periwayatnya pada ketiga jalan hadis ini adalah orang-orang yang majhul dan dha’if. Kata Imam Syaukani: "Hadis yang menerangkan, dua belas rakaat dengan ikhlash pahalanya tiga puluh kali ganda dan hadis empat belas rakaat dan sebagainya, adalah Maudhu."

Di antara para Fuqaha (alhi fiqh) ada yang tertipu dengan hadits-hadits di atas, seperti pengarang Ihya ‘Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian ahli tafsir.

Al-Hafidz Al-Iraqi menyatakan: "Hadis yang menerangkan tentang shalat nishu Sya’ban adalah Maudhu dan pendustaan atas diri Rasullullah sallallahu ‘alahi wa sallam.

Dalam Kitab Al-Majmu’, Imam An-Nawawi menyatakan: "Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib yang berjumlah dua belas rakaat dan dikerjakan antara maghrib dan isya pada malam jumat pertama bulan Rajab, serta shalat malam nishu sya’ban yang berjumlah seratus rakaat adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh
seseorang terperdaya oleh karena kedua shalat itu disebut dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin, atau karena berdasarkan hadits yang disebutkan pada kedua kitab tersebut, sebab semuanya adalah bathil. Tidak boleh seseorang terperdaya oleh ulah sebagian tokoh, yang belum jelas baginya hukum kedua shalat ini, lalu mengarang dalam beberapa lembar kertas untuk menganjurkannya. Ini adalah tindakan menipu."

Masih banyak ucapan para ulama dalam hal ini. Kalau kita mau menukil semua tentu akan panjang sekali. Semoga apa yang kami sebutkan diatas cukup memuaskan bagi pencari kebenaran.

Dari beberapa ayat Al-Qur’an, hadits dan pernyataan para ulama di atas, jelaslah bagi pencari kebenaran bahwa peringatan malam nishfu Sya’ban dengan shalat atau amalan lainnya, serta pengkhususan siang harinya dengan puasa itu semua adalah bid’ah yang mungkar menurut jumhur ulama, tidak ada dasar sandarannya dalam syari’at Islam, bahkan merupakan perbuatan yang diada-adakan, cukuplah bagi pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah lainnya firman Allah:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu…" (Al-Maidah: 3)

Andaikata malam nishfu Sya’ban dikhususkan dengan acara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam memberikan petunjuk pada umatnya, atau beliau sendiri yang mengerjakannya. Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscara telah disampaikan oleh para sahabar kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang paling tulus setelah para nabi. Maka jelaslah, memeringati malam nisfu Sya’ban adalah bid’ah.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada sunnah dan menetapinya, serta mewaspadai hal-hal yang bertentangan dengannya. Sungguh dia Maha Mulia dan Maha Pemberi.

Wallahu a’lam.

Kebidaahan Malam Nisfu Sya'ban - Part 1

Hukum Bid'ah : Perayaan/ Peringatan Malam Nisfu Sya'ban. Artikel ini saya perolehi dari seorang penulis dari negara jiran kita, Indonesia. Bersama-sama ini suka saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada beliau atas perkongsian ini.

Sebagian umat Islam ada yang memperingati malam nisfu Sya’ban (malam ke-15 bulan Sya’ban) dengan cara menyelenggarakan berbagai macam acara dan ibadah pada malam tersebut. Untuk mendapatkan keterangan yang jelas mengenai hal ini, maka edisi Al-Hujjah akan menengahkan sebuah ringkasan tulisan seorang ulama besar, Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz, ketua kibarul ulama dan panitia tetap riset dan fatwa Arab Saudi, yang kepadanyalah mayoritas ulama konteporer merujuk dalam berbagai persoalan pelik. Selamat mengikuti.

Segala puji hanyalah milik Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya kepada kita. Selawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa sallam, penyeru kepada pintu tauhid dan pembawa rahmat.

Amma ba’du.

Allah berfirman: "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu dan telah Kucukupkan nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu sebagai agama bagimu" (Al-Maidah: 3).

Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik jalan hidup adalah jalan hidup Muhammad, dan seburuk-buruk perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat" (HR. Muslim).

Dan masih banyak lagi ayat dan hadits senada yang menunjukkan bahwa Allah telah menyempurnakan Agama ini. Dia tidak mewafatkan Nabinya sallallahu ‘alahi wa sallam kecuali sesudah beliau telah menyampaikan risalah dan menjelaskan kepada ummat seluruh syari’at Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Beliau juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diada-adakan oleh orang sepeninggalnya (dalam masalah agama) dan dinisbatkan kepada ajaran Islam, baik berupa ucapan maupun perbuatan, semua adalah bid’ah yang tertolak, meskipun orang yang mengada-adakannya berniat baik.

Para sahabat Rasullullah sallallahu ‘alahi wa sallam dan ulama’ yang datang setelah mereka mengetahui hal ini. Maka mereka mengingkari segala macam bid’ah dan memperingati kita agar menjauhinya.

Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid’ah peringatan malam nishfu Sya’ban sedang pengkhususan puasa pada hari tersebut.

Padahal tidak ada satu dalilpun yang dapat dijadikan sandaran. Ada hadis-hadis tentang fadhilah (keutamaan) malan ini, akan tetapi dhaif (lemah), tidak boleh dijadikan sandaran. Sedangkan hadis-hadis yang berkenaan dengan keutamaan sholat pada malam ini adalah maudhu’ (palsu).

Memang ada beberapa riwayat tentang malam nisfu Sya’ban yang berasal dari sebagian salaf (pendahulu) penduduk Syan dan lainnya, tetapi pendapat yang dianut jumhur (mayoritas) ulama’ ialah peringatan malam nishfu Sya’ban adalah bid’ah dan hadis-hadis yang berkenaan dengan keutamaannya semua dhaif (lemah) dan sebagian lagi maudhu’ (palsu). Diantara ulama yang memperingatinya hal tersebut adalah Al-Hafizh Ibn Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’aif dan ulama-ulama lainnya.

Hadits-hadits dho’if hanya bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh dalil yang shohih. Adapun peringatan malam nishfu Sya’ban tidak ada hadits shohih yang mendasarinya, sehingga hadits-hadits dho’if itu tidak dapat dijadikan sebagai pendukungnya.

Para ulama telah sepakat, bahwa wajib mengembalikan segala permasalahan yang diperselisihkan kepada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh kedua sumber ini atau salah satu darinya, maka wajib diikuti, dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus
ditinggalkan . Sedang apapun ibadah yang tidak disebut oleh keduanya adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan, apalagi mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya. (QS. 4:59, 42:10, 3:31, 4:65).

Tentang masalah nishfu Sya’ban Ibn Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif mengatakan: "Para tabi’in dari ahli Syam (sekarang Syiria. red) seperti Kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam nishfu Sya’ban, kemudian orang-orang
berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka. Dikatakan pula, bahwa mereka melakukan perbuatan demikian karena adanya cerita-cerita isra’illyat.

Tatkala masalah ini menyebar ke berbagai negeri, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya. Golongan yang menerima adalah para ahli ibadah dari Bashrah dan kota lainnya. Sedangkan golongan yang mengingkarinya yaitu sebagian besar ulama’ hijaz, seperti Atha’ Ibn Abi Malaikah dan –menurut penukilan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam- para fuqoha’ (ahli fiqih) Madinah, in juga merupakan para pengikut Imam Malik dan lainnya. Menurut mereka, semua perbuatan ini adalah bid’ah.

Ibn Rajab selajutnya berkata, tidak ada suatu ketetapan apapun tentang masalah nishfu Sya’ban ini baik dari sallallahu ‘alahi wa sallam maupun dari para sahabat. Adapun pendapat imam Al-Auza’i tentang (dianjurkan) sholat malam nishfu Sya’ban, maka hal ini aneh dan lemah. Karena segala perbuatan, bila tidak ada dalil syar’i yang menetapkannya, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakannya, baik itu dikerjakan secara individu maupun kolektif (berjama’ah), secara sembunyi maupun terang-terangan. Berdasarkan keumuman hadits Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam: "Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu tertolak." (HR. Muslim) serta dalil-dalil lainnya yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.

Imam Abu Bakar Ath-Thurthusyi rahimahullah dalam kitabnya Al-Hawadits wal Bida’ mengatakan: "Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari Zaid bin Aslam, katanya: "Kami tidak menjumpai seorangpun dari guru kamu dan ahli fiqih kami yang memperingati malam Nishfu Sya’ban, ataupun mengindahkan hadits Makhul.

Merekapun tidak memandang adanya keutamaan pada tersebut dari malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwa Zaid An-Numairi menyatakan: "Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam nishfu Sya’ban menyamai pahala Lailatul Qadar. "Beliau serta menjawab: "Seandainya saya mendengarnya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul. Ziad adalah seorang pendongeng." Al-Allamah Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid Al-Majmu’ah berkata. Hadits "Wahai Ali siapa yang melakukan shalat pada malam nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, pada setiap rakaat ia membaca Al-Faatihah dan Qu huwallahu ahad sebanyak sepuluh kali, pada Allah memenuhi segala hajatnya…dst." Hadits ini adalah Maudhu. Lafadznya yang menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya tidak diragukan lagi kelemahannya bagi orang yang berakal. Sanadnya pun Majhul (tidak dikenal).

Telah diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, tetapi semuanya Maudhu, dan para periwayatnya adalah orang-orang yang tidak dikenal."

Dalam Kitab Al-Mukhtashar, Asy-Syaukani menyatakan: "Hadits yang menerangkan Shalat nishfu Sya’ban adalah bathil. Sedangkan hadits: "Jika datang malam nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang nya" yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Ali adalah Dhaif."

....... bersambung .....

21 June 2013

Amalan Pada Malam Nisfu Syaaban

Berikut adalah beberapa amalan yang boleh dilakukan pada hari/ malam nisfu syaaban. Kata Imam Syahrurazi, Sohiba (Awariful Maarif). Apabila telah selesai solat maghrib hendaklah mebaca surh Yasin dengan diniatkan mohon panjangkan umurnya dalam mentaati Allah, seterusnya dibacakan doanya.

Kemudian dibacakan pula Yasin dengan diniatkan diluaskan Allah rezkinya yang halal dan diberkatinya, kemudian lalu dibacakan doanya.

Kemudian dibacakan pula Yasin serta diniatkan minta dimatikan dalam iman, kemudian dibacakan doanya.

Pada malam Nisfu Syaaban sangat baik dibanyakkan beristighfar dan taubat dari segala dosa-dosa besar dan kecil, dan meminta diampunkan Allah dosa-dosa ibubapa kita dan keluarga kita. Amat baik sekali dibacakan penghulu Istighfar. Mohon keampunan dua ibubapa. (seberapa banyak yang boleh) Mohon keampunan dan taubat diri. (70/100 kali pagi petang) Membaca al-Quran.

Membaca Tasbih. (seratus kali)

Membaca Solawat atas Nabi. (10 atau 100 kali pagi dan petang) Membaca Zikrullah. (seratus kali selepas solat subuh dan selepas solat asar).

Solat-solat sunat : Sunat Mutlaq, Sunat Isyraq, Sunat Dhuha, Sunat mengiringi Fardhu, Sunat Awwabin, Sunat Tahajjud, Sunat Tasbih, Sunat Witir dan Sunat Hajat. (Solat Sunat Hajat ditengah malam sebaik- baiknya memohon hajat sesuatu).

Hendaklah kita sentiasa menyegerakan amal taat, dan jangan sekali- kali menangguhkannya ke masa yang lain, kerana dalam menangguh- nangguh amal taat itu mengandungi bahaya.

Sabda Rasulullah S.A.W. Rebutlah peluang lima sebelum lima:

Masa muda sebelum tiba masa tua.

Masa sihat sebelum tiba masa sakit.

Masa lapang sebelum tiba masa sibuk.

Masa kaya sebelum tiba masa papa dan

Masa hidup sebelum tiba mati.

Sabdanya lagi yang bermaksud: "Segerakanlah mengerjakan amal-amal soleh sebelum kamu sibuk, dan adakanlah perhubungan di antara kamu dengan Tuhan kamu dengan memperbanyakkan zikir (ingatan) kepadaNya."

Akhirnya beramallah menurut keimanan masing-masing. Kalau tidak dapat semua janganlah ditinggalkan semua. Lebihan atau sisa umur kita yang masih tinggal sedikit lagi, hampir sampai ke hujungnya. Rebutlah amal sebanyak-banyak yang boleh, bertaubatlah kepada Allah dosa-dosa yang banyak, dengan segala kesungguhan untuk bekal kita di akhirat, yang akan pergi tidak akan pulang-pulang lagi. Semoga dalam keredhaan Allah S.W.T. InsyaAllah. Wallahualam.

17 June 2013

Amalan & Kelebihan Bulan Syaaban

Sabda Nabi s.a.w. :-
'Apabila masuk bulan Syaaban, baikkanlah niatmu padanya, kerana kelebihan Syaaban atas segala bulan seperti kelebihanku atas kamu.'

Barangsiapa berpuasa sehari pada bulan Syaaban, diharamkan Allah tubuhnya dari api neraka. Dia akan menjadi taulan Nabi Allah Yusuf di dalam syurga.Diberi pahala oleh Allah seperti pahala Nabi Allah Ayub dan Nabi Daud.

Jika dia sempurnakan puasanya sebulan bulan Syaaban, dimudahkan Allah atasnya Sakrotulmaut dan ditolakkan (terlepas) daripadanya kegelapan di dalam kubur, dilepaskan daripada huru-hara Munkar dan Nakir, ditutup Allah keaibannya di hari qiamat, dan diwajibkan syurga baginya.

Barang siapa berpuasa pada awal hari khamis pada bulan Syaaban dan akhir khamis daripada Syaaban, dimasukkan dia ke dalam syurga.

Berkata Siti Aisyah r.a.: 'Bulan yang lebih dikasihi oleh Rasulullah S.A.W. ialah bulan Syaaban.'

Sabda Nabi S.A.W. :-
'Syaaban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. Syaaban ialah mengkifaratkan dosa dan Ramadhan ialah menyucikan dosa (jasmani rohani).'

Sabda Nabi S.A.W. : 'Bahawa puasa Syaaban kerana membesarkan Ramadhan, siapa berpuasa tiga hari daripada bulan Syaaban, kemudian dia bersolawat atasku beberapa kali sebelum berbuka puasa, maka diampunkan oleh Allah dosanya yang telah lalu,diberkatkan rezkinya baginya. Bahawa Allah membukakan pada bulan itu tiga ratus pintu rahmat.'

Sabda Nabi S.A.W :-
'Dinamakan Syaaban kerana padanya terdapat kebajikan yang amat banyak, dan puasa yang lebih afdhal sesudah Ramadhan ialah puasa bulan Syaaban.'

Sabda Nabi S.A.W : 'Bahawa kelebihan Rejab atas bulan-bulan yang lainnya seperti kelebihan Quran atas segala kalam. Kelebihan Syaaban atas bulan-bulan yang lainnya seperti kelebihanku atas segala Anbia'. Kelebihan Ramadhan atas bulan- bulan yang lain seperti kelebihan Allah atas sekelian makhlukNya.'

Bulan Syaaban - keagungan malamnya dengan Nisfu Syaaban seperti keagungan Rejab dengan malam Isra' Mikrajnya, dan keagungan Ramadhan dengan Lailatul Qadarnya. Maka pada malam Nisfu Syaaban telah datang Jibril kepada Rasulullah S.A.W. lalu katanya :- 'Angkat kepalamu ke langit, itulah malam yang dibukakan Allah padanya tiga ratus rahmat dan diampunkan Allah sekelian orang yang tiada syirik denganNya sesuatu, kecuali tukang nujum, kekal dalam zina, kekal minum arak dan derhaka terhadap ibubapa.'

Sabda Nabi S.A.W. : 'Allah menilik kepada hambaNya pada malam Nisfu Syaaban maka diampunkan dosa segala makhlukNya melainkan orang syirik dan orang yang tiada bertutur dengan saudaranya.

Sabdanya lagi : 'Apabila pada malam Nisfu Syaaban maka berjagalah kamu pada malamnya bersembahyang, beribadat, dan puasa kamu pada siangnya. Allah berfirman, Adakah orang yang meminta ampun maka aku ampunkannya, adakah orang yang ditimpa bala Aku afiatkannya. Adakah orang yang meminta rezki maka Aku rezkikannya, demikianlah pertanyaan lainnya sehingga keluar fajar subuh.

Tersebut dalam kitab Al-Barokah, bahawa jin, burung, binatang- binatang buas,ikan di laut berpuasa mereka pada hari Nisfu Syaaban.

Tersebut di dalam kitab Iqna', bahawa Jibril bersungguh-sungguh pada malam Nisfu Syaaban menunaikan segala hajat. Maka datanglah Jibril kepada Rasulullah S.A.W. kali keduanya, katanya :- 'Ya Muhammad, gembirakanlah kamu bahawa Allah telah mengampunkan segala umatmu orang yang tiada mensyirikkanNya sesuatu, angkatkan kepalamu, lalu Rasulullah mengangkatkan kepalanya, tiba-tiba terbuka segala pintu syurga.'

Kata Syeikh Abdul Qadir Al-Kilani di dalam Ghaniah :- 'Bahawa malam Nisfu Syaaban adalah hariraya malaikat, begitu juga pada malam Lailatul Qadar mereka tidak tidur, dipenuhi dengan amal dan ibadat sepanjang-panjang malamnya. Dan bagi anak-anak Adam berhariraya padanyapada siang hari dengan berpuasa dan ibadat, kerana mereka tidur pada malamnya.

Allah tidak akan mengampunkan dosa pada malam Nisfu Syaaban kepada enam orang :-

Orang yang kekal minum arak.
Orang yang derhaka dua ibubapanya.
Orang yang kekal dalam zina.
Orang yang banyak berkelahi.
Orang yang melakukan perjualannya dengan sumpah yang dusta.
Orang yang memperlagakan orang supaya berkelahi.

Sesiapa sembahyang pada malam Nisfu Syaaban daripada umat Muhammad S.A.W. terlebih afdal daripada ibadatnya 400 tahun. Demikian Allah memberitahu kepada Nabi Isa lalu Nabi Isa pun berdoa kepada Tuhan, 'Mudah-mudahan aku  daripada umat Muhammad S.A.W.'

10 June 2013

Bulan Syaaban

Sebahagian ahli hikmah menyatakan bahawa sesungguhnya bulan Rejab adalah kesempatan untuk meminta ampun dari segala dosa, pada bulan Syaaban adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dari segala macam cela dan pada bulan Ramadhan adalah masa untuk menerangkan hati dan jiwa.

Syaaban ertinya berpecah atau bercerai-berai. Dinamakan demikian kerana orang-orang Arab pada bulan tersebut bertempiaran ke mana-mana tempat untuk mencari air, setengahnya mengatakan bahawa mereka mencari air itu di gua-gua.

Sebahagiannya pula mengatakan sebab diertikan demikian kerana ia sebagai pemisah iaitu memisahkan di antara bulan Rejab dan Ramadhan.

Keutamaan Bulan Syaaban

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim daripada Sayidatina Aisyah Radhiallahuanha, dia telah berkata yang maksudnya :

"Adalah Rasulullah SAW sering berpuasa hingga kami menyangka bahawa Baginda berpuasa berterusan dan Baginda sering berbuka sehingga kami menyangka bahawa Rasulullah akan berbuka seterusnya. Aku tidak pernah melihat Baginda berpuasas ebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Baginda berpuasa sunat dalam sebulan yang lebih banyak dari puasanya di bulan Syaaban." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas dapatlah difahami bahawa ini menunjukkan kelebihan bulan Syaaban dari bulan-bulan yang lain dari segi pemilihan bulan untuk beramal ibadat selain dari bulan Ramadhan.

Selain dari itu, Rasulullah SAW pernah mengumpamakan keutamaan bulan ini dengan keutamaan diri Baginda sendiri ke atas nabi-nabi yang lain. Sabda Baginda yang maksudnya :

"Keutamaan bulan Syaaban ke atas bulan-bulan yang lain adalah seperti keutamaan saya di atas semua nabi-nabi yang lain, sedangkan keutamaan bulan Ramadhan ke atas semua bulan yang lain adalah seperti keutamaan Allah Taala ke atas makhluk-Nya."

Amalan-amalan di bulan Syaaban

Di antara amalan-amalan yang digalakkan pada bulan Syaaban adalah :

1. Memperbanyakkan puasa sunat

Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu bahawa RAsulullah SAW lebih gemar untuk berpuasa sunat dalam bulan Syaaban berbanding dengan bulan-bulan yang lain. Justeru itu adalah patut bagi kita selaku umat Baginda mencontohinya dalam memperbanyakkan puasa sunat bagi menyemarak dan mengagungkan bulan Syaaban ini.

Di dalam kitab Durratun Nasihin ada menyebut sebuah hadis yang menyatakan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya :

"Barangsiapa berpuasa tiga hari pada permulaan Syaaban dan tiga hari pada pertengahan Syaaban dan tiga hari pada akhir Syaaban, maka Allah Taala mencatat untuknya pahala seperti pahala tujuh puluh nabi dan seperti orang-orang yang beribadat kepada Allah Taala selama tujuh puluh tahun dan apabila dia mati pada tahun itu maka dia seperti orang yang mati syahid."

2. Memperbanyak doa, zikir dan membaca selawat kepada Rasulullah SAW.

Sabda Rasulullah SAW : "Barangsiapa yang mengagunkan bulan Syaaban, bertaqwa kepada Allah, taat kepada-Nya serta menahan diri dari perbuatan maksiat, maka Allah Taala mengampuni semua dosanya dan menyelamatkannya di dalam tahun itu dari segala macam bencana dan penyakit." (Dipetik dari kitab Zubdatul Wa'izhin)

3. Bertaubat

Diriwayatkan dari Umamah Al Bahili Radiallahuanhu, dia berkata :
Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya : "Manakala masuk bulan Syaaban, sukacitalah dirimu dan perbaiki niatmu."

Sebahagian ahli hikmah menyatakan bahawa sesungguhnya bulan Rejab adalah kesempatan untuk meminta ampun dari segala dosa, pada bulan Syaaban adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dari segala macam cela dan pada bulan Ramadhan adalah masa untuk menerangkan hati dan jiwa.

Malam Nisfu Syaaban

Malam 15 Syaaban atau lebih dikenali sebagai malam Nisfu Syaaban adalah satu malam yang sunat dirayakan dalam syariat Islam kerana ia merupakan malam yang paling mustajab dan penuh rahmat.

Malam nisfu Syaaban ini sayugialah kita hidupkan dengan membaca Surah Yaasiin tiga kali selepas sembahyan fardhu Maghrib. Dan setiap kali lepas membaca Yaasiin akan dibaca doa. Pada bacaan Yaasiin pertama diniatkan dengan memohon panjang umur, pada bacaan kali kedua diniatkan dengan memohon agar dijauhkan dari bala dan pada bacaan ketiga diniatkan memohon murah rezeki yang halal. Cara lain ialah menghidupkan malam nisfu Syaaban dengan berhimpun membaca zikir dan Al Quran.