Showing posts with label Syafaat Rasulallah. Show all posts
Showing posts with label Syafaat Rasulallah. Show all posts

26 April 2012

I Love U Rasulallah saw


Kota Rasul di siang hari Tahun 2006
"Aku bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad Pesuruh Allah" itulah shahadah yang Muslimin ucapkan sekurang-kurang 9 kali sehari, itupun kalau solat fardu ditunaikan.

Baginda Rasulullah S.A.W merupakan rasul terakhir yang diutuskan oleh Allah untuk membimbing manusia sejagat dan baginda adalah insan orang yang paling dikasihi dan sangat hampir dengan Allah. Justeru itu, sebagai pemimpin agung yang dikasihi Allah, kita umat baginda wajib mencintai Rasulullah S.A.W sebagai cinta kedua selepas mencintai Allah seperti mana yang disebut dalam Al Quran yang bermaksud:

Kota Rasul di malam hari, 2006
Katakanlah: “Jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang". (Ali-’Imran:31).

Maksud Cinta Kepada Rasulullah S.A.W 

Imam Ibn Kathir ketika mentafsirkan ayat di atas menyatakan bahawa: “Ayat ini merupakan kayu ukur kepada sesiapa yang mendakwa mencintai Allah S.W.T tetapi tidak pula berada di atas jalan Nabi Muhammad, bahawa sesungguhnya dia berdusta dalam dakwaannya, sehinggalah dia mengikuti syariat Muhammad di dalam keseluruhan percakapan dan amalannya.”


Ya Habibi
Para sahabat baginda S.A.W merupakan generasi manusia terbaik yang paling mencintai Rasulullah S.A.W perkara ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al Qur’an dan hadis yang menceritakan akan keredaan Allah S.W.T terhadap para sahabat serta keutamaan mereka di sisi Allah S.W.T dan Rasulnya. Namun bagi kita yang berada jauh dari baginda (selepas kira-kira 1,400 tahun baginda meninggalkan kita) ada kewajaranya umat Islam mencintai baginda S.A.W saling tidak tumpah atau kurang sedikit pun sebagaimana para sahabat mencintai baginda S.A.W. Allah S.W.T berfirman yang bermaksud:


“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Nabi), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya [Al-Qur'an], mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raaf: 157)


Bagaimana Caranya Sewajarnya Mencintai rasulallah SAW


1.   Bagi saya untuk menjelaskan cara mencintainya Rasul adalah dengan menyebut namanya selalu dalam erti kata yang kain, perbanyakkanlah selawat ke atas namanya, doakan kesejahteraannya walaupun kita tahu bahawa Allah telah menyediakan tempat rehat bagainda yang paling baik dan sempurna. 


2.   Lakukan/ amalkan/ ikut/ tiru apa sahaja yang dilakukan oleh bagainda tanpa mengambil setengah-setengah yang selesa dengan kita. Memang ini adalah perkara yang paling sukar untuk dilaksanakan, walau bagaimanapun cubalah... Mencintai apa-apa yang dicintai Rasulullah S.A.W dan membenci apa-apa yang dibenci Rasulullah S.A.W.


3.   Baginda Rasul meninggalkan kita yang tidak pernah dikenalinya dengan rasa sedih dan bimbang akan keteguhan iman kita, jadi berjanjilah pada diri kita dan kepada baginda bahawa kita akan mengikut laluan yang telah disediakan, di samping kita meneruskan perjuangannya dengan menyampaikan ajarannya kepada sesiapa sahaja.


4.   Jika kita diberikan Allah rezeki dan masa, kunjungilah baginda di kotanya. Pasti apabila berada di sana dan merenung kubahnya membuatkan hati kita menjadi sangat dekat dengan baginda, berbuallah dengan baginda pasti baginda mendengarnya. Saya menceritakan pengalaman saya semasa mengunjungi baginda.


5.   Mengenali keperibadian Rasulullah S.A.W dan menghayati sejarah hidupnya, sekarang ini buku-buku menceritakan sirah Rasul terlalu banyak untuk kita pilih.  


6.   Yang paling utama pertahankan Rasulullah S.A.W, ahli keluarganya, sahabat-sahabatnya dan ajaran islam daripada dihina dan diperlekehkan musuh-musuh Islam.


Syafaat Rasulullah S.A.W


Sekiranya kita banyak menyebut nama baginda (berselawat) baginda akan mengenal kita nanti terutamanya semasa semua umat manusia berada di Padang Masyhar. Dalam kepanasan dan tidak keselesaan Allah S.W.T mengurniakan kepada kita syafaat baginda Rasul di mana ketika itu semua manusia hanya memikirkan akan diri sendiri. Dengan adalah Syafaat Agung baginda S.A.W akan membebaskan manusia terpilih daripada ketidakselesaan dan kegelisahan di mahsyar. (Riwayat Bukhari)


Apakah perjuangan kita di dunia ini... untuk kepentingan diri sendiri, negara atau agama? Fikirlah sendiri....


Walallahualam.....

10 January 2012

Syafaat Rasulullah S.A.W

“Dari Abu Hurairah r.a beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam bersabda, “Setiap Nabi alaihis salam memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyimpannya sebagai syafa’at bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafa’at tersebut Insya Allah akan didapati oleh setiap orang dari umatku yang wafat dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ta’ala dengan suatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syafaat berasal dari kata asy-syafa’ (ganda) yang merupakan lawan kata dari Al-witru (tunggal), yaitu menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda, seperti membagi satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan sebagainya. Ini pengertian secara bahasa.
Sedangkan secara istilah, syafaat berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak mudharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang itu atau menolak mudharatnya.

Syafaat terdiri dari dua macam:

Pertama, Syafaat yang didasarkan pada dalil yang kuat dan shahih, yaitu yang ditegaskan Allah Swt dalam Kitab-Nya, atau dijelaskan Rasulullah. Syafaat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas; karena Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu?” Beliau menjawab, “Orang yang mengatakan,’Laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas dalam hatinya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, kitab Al-Ilm, bab “Al-Hirsh ‘ala Al-Hadits.”

Syafaat mempunyai tiga syarat:

1. Allah meridhai orang yang memberi syafaat.
2. Allah meridhai orang yang diberi syafaat.
3. Allah mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat.

Syarat-syarat di atas secara global dijelaskan Allah dalam firman-Nya, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (An- Najm:26)

Kemudian firman Allah Ta’alah, :“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (Al- Baqarah:255)

Lalu firman Allah Ta’ala, :“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.”(Thahaa: 109)

Kemudian firman Allah Ta’alah, :“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada- Nya.” (Al-Anbiya: 28)

Agar syafaat seseorang diterima, maka harus memenuhi ketiga syarat di atas. Menurut penjelasan para ulama, syafaat yang diterima, dibagi menjadi dua macam:

1. Syafaat umum. Makna umum, Allah mengizinkan kepada salah seorang dari hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang diperkenankan untuk diberi syafaat. Syaaat ini diberikan kepada Nabi Muhammad saw, nabi-nabi lainnya, orang-orang jujur, para syuhada, dan orangorang shalih. Mereka memberikan syafaat kepada penghuni neraka dari kalangan orang-orang beriman yang berbuat maksiat agar mereka keluar dari neraka.

2. Syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad saw dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orangorang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi saw, lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan Allah di dalam firman-Nya : “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Israa’:79)

Di antara syafaat khusus yang diberikan kepada Rasulullah Saw adalah syafaatnya kepada penghuni syurga agar mereka segera masuk surga, karena penghuni surga ketika melewati jembatan, mereka diberhentikan di tengah jembatan yang ada di antara surga dan neraka. Hati sebagian mereka bertanya-tanya kepada sebagian lain, hingga akhirnya mereka bersih dari dosa. Kemudian mereka baru diizinkan masuk surga. Pintu surga itu bisa terbuka karena syafaat Nabi saw.

Kedua, Syafaat batil yang tidak berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memintakan syafaat kepada Allah.

Syafaat semacam ini tidak bermanfaat bagi mereka seperti yang difirmankan-Nya, “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Al-Mudatstsir : 48)

Demikian itu karena Allah tidak rela kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin Allah memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat kepada mereka; karena tidak ada syafaat kecuali bagi orang yang diridhai Allah. Allah tidak meridhai hamba-hamba-Nya yang kafir dan Allah tidak senang kepada kerusakan.Ketergantungan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan mereka dengan menyembahnya dan mengatakan, “Mereka adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”, (Yunus: 18), adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat. Bahkan demikian itu tidak menambah mereka kecuali semakin jauh, karena orang-orang musyrik itu meminta syafaat kepada berhala-berhala itu dengan cara yang batil, yaitu menyembahnya. Itulah kebodohan mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan mereka semakin jauh.

Sumber : Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji