Showing posts with label Usman Awang. Show all posts
Showing posts with label Usman Awang. Show all posts

24 July 2013

Sajak: Duri Dan Api - Usman Awang

Kawan-kawanku yang dikasihi
semalam kita bertemu kembali memadu
ketika matari tersangkut di bumbung Utusan
kita tidak menerima apa yang ada
yang dinyanyikan dari hati berani
dengan tangan erat pada keyakinan terpahat.

Lagu kita telah mulai terpancar
ah, anak-anak manisnya menjenguk keluar
di luar udara basah dalam matari bersinar
semua antara kita lagunya seluruh sedar.

Apakah ini derita diri dalam mimpi
atau kenyataan pahit menjepit
pada lena yang membunuh kehidupan manusia
sama-sama kita rangkul menguji diri.

Kawan-kawanku yang dikasihi
di belakang duri di depan api
kita tidak bisa undur lagi
duri dan api, tajam panasnya kita hadapi.

Semalam dan hari ini kita diukir sejarah
di mana air mata tidak akan menitik tumpah
sebab kebulatan ikrar tak akan berubah
apa saja kita tidak akan menyerah.

P/S - Apa yang saya faham mesej sajak ini adalah kekuatan dalam diri untuk terus berjuang. Di hadapan dan di belakang kita masih ada seteru sama ada jelas atau kabur, sama ada sebagai kawan atau memangnya lawan. 

Kita orang Melayu sudah tidak boleh ke mana-mana jika apa sekalipun yang terjadi dengan tanah ini. Kerana tanah ini tanah kita... TANAH MELAYU, jadi kita kena pertahankannya... kita tidak boleh menyerah, tidak patut menyerah.... biar tumpah darah merah mau pun darah putih... tetap di tanah ini.

16 June 2013

Sajak: Prosa Air mata - Usman Awang

Bahawasanya air mata
tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh…
tidak pula memilih waktu untuk menitis…

Air mata adalah kepunyaan bersyarikat…
dipunyai oleh orang-orang melarat yang tinggal
di dangau-dangau yang buruk oleh tukang sabit yang masuk
ke padang yang luas dan ke tebing yang curam,
dan juga oleh penghuni-penghuni gedung-gedung yang permai
dan istana-istana yang indah.

Bahkan di situ lebih banyak orang menelan ratap dan memulas tangis.
Luka di jiwa yang mereka hidapkan, dilingkung oleh tembok dinding
yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan
oleh orang luar atau yang mereka ketahui hanya
senyuman saja,
padahal senyum itu penuh dengan kepahitan

Mac 19, 2008

P/S - Adnee

Airmata bagiku menebus dosa kepada Allah
banyak dosaku Ya Rabb
Engkau ampunkan daku
Terima aku ke syurgamu

Airmata juga bagi aku tanda lemah
Cuba tidak ku titiskan kerana dunia, kerana jiwa

Kerna airmataku sebolehnya hanya untuk Dia
Ya Rabb Ya Allah Ya Rahman

08 June 2013

Sajak: Jiwa Hamba - Usman Awang


Termenung seketika sunyi sejenak
Kosong di jiwa tiada penghuni
Hidup terasa diperbudak-budak
Hanya suara melambung tinggi

Berpusing roda beralihlah masa
Pelbagai neka hidup di bumi
Selagi hidup berjiwa hamba
Pasti tetap terjajah abadi

Kalau hidup ingin merdeka
Tiada tercapai hanya berkata
Ke muka maju sekata, maju kita
Melemparkan jauh jiwa hamba

Ingatkan kembali kata sakti
Dari bahang kesedaran berapi
Di atas robohan Kota Melaka
Kita dirikan jiwa merdeka

1949

P/S - Adnee

Bagusnya Melayu berbahasakan diri sebagai hamba
Hamba bahasa lembut bersopan santun dan berbudi
Namun, hamba bukan sebarang hamba
Berbahasakan diri hamba sudah lama merdeka

Tunjukkan duhai bangsaku
Lama sudah kita berjiwa merdeka
Mengertikan bahasa... kalau kamu orang di tanah ini
jangan perlekehkan bahasa mengikut rasa hati sendiri

Jiwa merdeka di tanah merdeka ini
Tanah Melayu

02 June 2013

Sajak: Uda dan Dara - Usman Awang

Uda dan Dara
Bertemu wajah rasa
Burung-burung menyanyikannya
Gunung-gunung sungai sawah padi melindungi
Melindungi kasih sayang agung dan murni.

Uda dan Dara
Bersumpah keramat cinta
Kering lautan runtuh langit
Terbelah gunung gugur matahari
Berdua bersama berdua sehidup semati.

Uda dan Dara
Bersanding tak berpelamin
Berijabkabul malam bening
Pohon-pohon mewali laut malam saksi
Malam bersatu kiamatlah alam dua hati.

Disember 26, 2007


25 May 2013

Sajak: Korban Tanah Air ~ Usman Awang

Biar dia telah pergi
Atau gugur ke persada ibu
Yang…takkan kembali
Meninggalkan bakti dan jasa

Dia hanya seorang mata-mata
Atau perajurit yang berbakti
Meninggal bingkisan jasa
Pada bangsa dan ibu pertiwi

Dia gugur di medan perjuangan
Di tengah-tengah hutan belantara
Atas kuburnya ditabur kembangan
Disiram dengan air mata

Kekasih yang menuggu dia
Putus cinta…bisikan jiwa

Ogos 10, 2007

P/S by Adnee

Timbul kisah pencerobohan tanah air
Rasa berdosa jika tidak berindak
Demi agama, bangsa dan bumi bertuah
Mereka pergi bergalang darah bergalang tubuh
Tapi... sayang...
Ada yang perlekeh dan tertawakan mereka
Kata mereka "Elok mati kerana pangkat"

Kasihan perwiraku
Ada rakyat yang tidak berbudi
Ada pemimpin tidak berbahasa
Namun engkau pergi juga
Mengadap pencipta
Semoga engkau semua
Korban syahid hendaknya
Doaku semoga roh kalian dirahmatiya

21 May 2013

Sajak: Gadis Kecil - Usman Awang

Tubuh itu mengingatkan daku
sebatang pinang di desa sepi
kurus dan tinggi
ketika ribut besar
pohon sekitarnya rebah terkapar
dan pohon pinang tegak menanti
sinar mentari pagi

Demikianlah gadis kecil itu
kurus seperti sebatang pinang
bertahun berulang-alik melalui
penjara kawat duri menemui
ayahnya yang bertahun pula sendiri
menentang tiap penderitaan
tabah dan beriman.

Gadis kecil itu mengagumkan daku
tenang dan senyuman yang agung
dengan sopan menolak pemberianku
'saya tak perlu wang, pak cik,
cukuplah kertas dan buku.'

Usianya terlalu muda
Jiwanya didewasakan oleh pengalaman
tidak semua orang mencapai kekuatan demikian
ketabahan yang unik, mempesonakan.
Bila aku menyatakan simpati dan dukaku
rasa pilu terhadapnya
sekali lagi dia tersenyum dan berkata:
'jangan sedih, pak cik, tabahkan hati
banyak anak-anak seperti saya di dunia ini.'

Aku jadi terpaku
dia, si gadis kecil itu menenteramkan
mengawal ombak emosiku
jangan sedih melihat derita pahitnya.
Alangkah malunya hati seorang lelaki dewasa
yang mahu membela manusia derita terpenjara
menerima nasihat supaya tabah dan berani,
dari anak penghuni penjara sendiri?

Sepuluh anak seperti dia
akan menghapuskan erti seribu penjara.

P/S - By Adnee

Itulah adat resam kehidupan
Mencakar mencari sesuap nasi
untuk mengisi perut berkeroncong
kasihan siayah meringkuk
kasihan sianak menanggung rindu dan malu

Namun Allah tempat bersandar
memohon perlindungan dan rezeki
kini,
sianak dewasa berbakti
kepada negara tanah tumpah darah dan keturunannya
belajar kehidupan dari ketabahan

11 May 2013

Sajak: Kurang Ajar - Usman Awang

Sebuah perkataan yang paling ditakuti
Untuk bangsa kita yang pemalu.

Sekarang kata ini kuajarkan pada anakku;
Kau harus menjadi manusia kurang ajar
Untuk tidak mewarisi malu ayahmu.

Lihat petani-petani yang kurang ajar
Memiliki tanah dengan caranya
Sebelumnya mereka tak punya apa
Kerana ajaran malu dari bangsanya.

Suatu bangsa tidak menjadi besar
Tanpa memiliki sifat kurang ajar.


P/S - Adnee

Benarkah aku Melayu kerana kecil dan cukup ajarnya
Untuk menjadi besar...
Aku masih berfikir untuk belajar menjadi kurang ajar
Walau kekadang memang aku sudah mahir kurang ajar
Ada kalanya kena....  tetapi selalunya tersasar

Wahai tuan.. ada sekolah ke mengajar kurang ajar
untuk menyelamatkan agama dan bangsaku yang sudah hilang arah
Benarkah... betulkah.... halalkah.....
aduhai... aduhai... aduhai... 

09 May 2013

Sajak: Melayu - Usman Awang

Melayu itu orang yang bijaksana
Nakalnya bersulam jenaka
Budi bahasanya tidak terkira
Kurang ajarnya tetap santun
Jika menipu pun masih bersopan
Bila mengampu bijak beralas tangan.

Melayu itu berani jika bersalah
Kecut takut kerana benar,
Janji simpan di perut
Selalu pecah di mulut,
Biar mati adat
Jangan mati anak.

Melayu di tanah Semenanjung luas maknanya:
Jawa itu Melayu, Bugis itu Melayu
Banjar juga disebut Melayu,
Minangkabau memang Melayu,
Keturunan Acheh adalah Melayu,
Jakun dan Sakai asli Melayu,
Arab dan Pakistani, semua Melayu
Mamak dan Malbari serap ke Melayu
Malah mua'alaf bertakrif Melayu
(Setelah disunat anunya itu)

Dalam sejarahnya
Melayu itu pengembara lautan
Melorongkan jalur sejarah zaman
Begitu luas daerah sempadan
Sayangnya kini segala kehilangan

Melayu itu kaya falsafahnya
Kias kata bidal pusaka
Akar budi bersulamkan daya
Gedung akal laut bicara

Malangnya Melayu itu kuat bersorak
Terlalu ghairah pesta temasya
Sedangkan kampung telah tergadai
Sawah sejalur tinggal sejengkal
tanah sebidang mudah terjual

Meski telah memiliki telaga
Tangan masih memegang tali
Sedang orang mencapai timba.
Berbuahlah pisang tiga kali
Melayu itu masih bermimpi

Walaupun sudah mengenal universiti
Masih berdagang di rumah sendiri.
Berkelahi cara Melayu
Menikam dengan pantun
Menyanggah dengan senyum
Marahnya dengan diam
Merendah bukan menyembah
Meninggi bukan melonjak.

Watak Melayu menolak permusuhan
Setia dan sabar tiada sempadan
Tapi jika marah tak nampak telinga
Musuh dicari ke lubang cacing
Tak dapat tanduk telinga dijinjing
Maruah dan agama dihina jangan
Hebat amuknya tak kenal lawan

Berdamai cara Melayu indah sekali
Silaturrahim hati yang murni
Maaf diungkap senantiasa bersahut
Tangan diulur sentiasa bersambut
Luka pun tidak lagi berparut

Baiknya hati Melayu itu tak terbandingkan
Segala yang ada sanggup diberikan
Sehingga tercipta sebuah kiasan:
"Dagang lalu nasi ditanakkan
Suami pulang lapar tak makan
Kera di hutan disusu-susukan
Anak di pangkuan mati kebuluran"

Bagaimanakah Melayu abad dua puluh satu
Masihkan tunduk tersipu-sipu?
Jangan takut melanggar pantang
Jika pantang menghalang kemajuan;
Jangan segan menentang larangan
Jika yakin kepada kebenaran;
Jangan malu mengucapkan keyakinan
Jika percaya kepada keadilan.

Jadilah bangsa yang bijaksana
Memegang tali memegang timba
Memiliki ekonomi mencipta budaya
Menjadi tuan di negara Merdeka "

p/s Akulah Melayu itu yang sendiri dalam resah dan gelisah melihat bangsaku seperti tidak keruan, berpecah belah... hilang sudah sopan santunnya seperti hilangnya cahaya di wajahnya. Akulah Melayu itu yang berfikir sendiri "agaknya itulah peredaran zaman - menuju kejayaan, tidak mengapa hilang santun asal puas dalam hati". Akulah melayu itu yang berdiri sendiri tanpa teman danpa taulan... jauhku lihat mereka meninggalkan aku. Akukah Melayu itu ... bila tiada lagi Melayu di dunia ini. - Adnee