Kita sambung lagi kisah sahabat Rasulallah saw yang bernama Saad bin Muas...
Di saat menjelang perang Badar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan sahabat-sahabatnya dari golongan Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah menguruskan hal ehwal perang itu. Maka baginda dihadapkan wajahnya yang mulia ke arah orang-orang Anshar, seraya katanya: “Kemukakanlah buah fikiran kalian, wahai shahabat!”
Maka bangkitlah Sa’ad bin Mu’az tak ubah bagi bendera di atas tiangnya, katanva: -
“Wahai Rasulullah! Kami telah beriman kepada anda, kami percaya dan mengakui bahwa apa yang anda bawa itu adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan janji-janji kami. Maka laksanakanlah terus, ya Rasulallah apa yang anda inginkan, dan kami akan selalu bersama anda … ! Dan demi Allah yang telah mengutus anda membawa kebenaran! Seandainya anda menghadapkan kami ke lautan ini lalu anda menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan ikut mencebur, tak seorang pun yang akan mundur, dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi! Sungguh, kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan … ! Dan semoga Allah akan memperlihatkan kepada anda tindakan kami yang menyenangkan hati … ! Maka maulailah kita berangkat dengan berkah Allah Ta’ala… !”
Kata-kata Sa’ad itu muncul tak ubah bagai berita gembira, dan wajah Rasul pun bersinar-sinar dipenuhi rasa rela dan bangga serta bahagia, lalu katanya kepada Kaum Muslimin “Marilah hita berangkat dan besarkan hati kalian kerana Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan! … Demi Allah,… sungguh seolah-olah tampak olehku kehancuran orang-orang itu!” (al-Hadits)
Manakala semasa perang Uhud, ketika kedudukan dan semangat Kaum Muslimin telah jatuh disebabkan serangan mendadak dari tentara musyrikin, namun kedudukan Sa’ad bin Mu’adz tetap begitu kukuh di mana kedua kakinya seolah-olah telah dipakukannya ke bumi berhampiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mempertahankan dan membela baginda bermati-matian, inilah sikapnya yang agung, terpancar dari sikap hidupnya ….
Sementara itu semasa di perang Khandak, Sa’ad ibn Muas benar-benar menunjukkan kepahlawanan dan kesetiaanny. Seperti yang anda tahu bahawa perang Khandak ini merupakan bukti nyata atas persekongkolan dan siasat licik yang dilancarkan kepada Kaum Muslimin oleh kafir yang tidak pernah kenal erti perjanjian atau keadilan.
Maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat hidup dengan sejahtera di Madinah dengan mengabdikan diri kepada Allah swt, saling nasihat-menasihati agar mentaati-Nya serta mengharap agar orang-orang Quraisy menghentikan serangan dan peperangan, tetapi terdapat segolongan pemimpin Yahudi secara diam-diam pergi ke Mekah lalu menghasut orang-orang Quraisy untuk menyerang Rasulullah saw sambil memberikan janji dan ikrar akan berdiri di samping Quraisy bila terjadinya peperangan itu nanti.
Pendeknya mereka telah membuat perjanjian dengan orang-orang musyrik itu, dan bersama-sama telah mengatur rencana dan siasat peperangan. Di samping itu dalam perjalanan pulang mereka ke Madinah, mereka berhasil pula menghasut suatu suku terbesar di antara suku-suku Arab yaitu kabilah Gathfan dan mencapai persetujuan untuk menggabungkan diri dengan tentara Quraisy.
Strategi peperangan telah diatur dan tugas serta peranan telah dibagi-bagikan. Quraisy dan Gathfan akan menyerang Madinah dengan tentera yang ramai, sementara orang-orang Yahudi akan melakukan penyerangan dan menghancurkan umat Islam dari dalam kota dan di sekelilingnya.
Setelah Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui permufakatan jahat ini, beliau mengambil langkah-langkah pengamanan. Dititahkannya menggali khandak iaitu parit perlindungan di sekeliling Madinah untuk membendung serbuan musuh. Di samping itu diutusnya Sa’ad bin Mu’az dan Sa’ad bin Ubadah kepada Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi suku Quraidha untuk menyelidiki sikap mereka, walaupun antara mereka dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenamya sudah ada beberapa perjanjian dan persetujuan damai.
Dan alangkah terkejutnya kedua-dua utusan Nabi, apabila pemimpin Bani Quraidha itu menjawab ”Tak ada persetujuan atau perjanjian antara Kami dengan Muhammad”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan amat berat memikirkan musibah perang yang akab dihadapi oleh rakyatnya. Baginda berfikir untuk memisahkan suku Gathfan dari Quraisy.
Siasat itu segera beliau laksanakan dengan mengadakan perundingan dengan para pemimpin Gathfan dan menawarkan agar mereka mengundurkan diri dari peperangan dengan imbuhan mereka akan beroleh sepertiga dari hasil pertanian Madinah. Tawaran itu disetujui oleh pemimpin Gathfan, dan tinggal lagi mencatat persetujuan itu hitam di atas putih ….
Sewaktu usaha Nabi sampai sejauh ini, beliau tertegun, karena menyadari tiadaiah sewajarnya ia memutuskan sendiri masalah tersebut. Maka dipanggilnyalah para shahabatnya untuk merundingkannya. Terutama Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah, buah fikiran mereka amat diperhatikannya, karena kedua mereka adalah pemuka Madinah, dan yang pertama kali berhak untuk membicarakan seal tersebut dan memilih langkah mana yang akan diambil Rasulullah menceritakan kepada kedua mereka peristiwa perundingan yang berlangsung antaranya dengan pemimpin-pemimpin Gathfan. Tak lupa ia menyatakan bahwa langkah itu diambilnya ialah karena ingin menghindarkan kota dan penduduk Madinah dari serangan dan pengepungan dahsyat.
Kedua pemimpin itu tampil mengajukan pertanyaan:
“Wahai Rasulullah, apakah ini pendapat anda sendiri, ataukah wahyu yang dititahkan Allah … ?”
Ujar Rasulullah: “Bukan, tetapi ia adalah pendapatku yang kurasa baik untuk tuan-tuan! Demi Allah, saya tidak hendak melakukannya kecuali karena melihat orang-orang Arab hendak memanah tuan-tuan secara serentak dan mendesak tuan-tuan dari segenap jurusan.
Maka saya bermaksud hendak membatasi kejahatan mereka sekecil mungkin.. !”
Sa’ad bin Mu’adz merasa bahwa nilai mereka sebagai laki-laki dan orang-orang beriman, mendapat ujian betapa juga coraknya.
Maka katanya: -
‘Wahai Rasulullah! Dahulu kami dan orang-orang itu berada dalam kemusyrikan dan pemujaan berhala, tiada mengabdikan diri pada Allah dan tidak kenal kepada-Nya, sedang mereka tak mengharapkan akan dapat makan sehutir kurma pun dari hasil bumi kami kecuali bila disuguhkan atau dengan cara jual beli …. Sekarang, apakah setelah kami beroleh kehormatan dari Allah dengan memeluk Islam dan mendapat bimbingan untuk menerimanya, dan setelah kami dimuliakan-Nya dengan anda dan dengan Agama itu, lain kami harus menyerahkan harta kekayaan kami …? Demi Allah, kami tidak memerlukan itu, dan demi Allah, kami tak hendak memberi kepada mereka kecuali pedang … hingga Allah menjatuhkan putusan-Nya dalam mengadili kami dengan mereka… !”
Tanpa bertangguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merubah pendiriannya dan menyampaikan kepada para pemimpin suku Gathfan bahwa sahabat-sahabatnya menolak rencana perundingan, dan bahwa beliau menyetujui dan berpegang kepada putusan shahabatnya….
Berselang beberapa hari, kota Madinah mengalami pengepungan ketat. Sebenarnya pengepungan itu lebih merupakan pilihannya sendiri daripada dipaksa orang, disebabkan adanya parit yang digali sekelilingnya untuk menjadi benteng perlindungan bagi dirinya. Kaum Muslimin pun memasuki suasana perang. Dan Sa’ad bin Mu’adz keluar membawa pedang dan tombaknya sambil berpantun:
“Berhentilah sejenak, nantikan berkecamuknya perang Maut berkejaran menyambut ajal datang menjelang … !”
Dalam salah satu perjalanan kelilingnya nadi lengannya disambar anak panah yang dilepaskan oleh salah seorang musyrik.
Darah menyembur dari pembuluhnya dan segera ia dirawat secara darurat untuk menghentikan keluamya darah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh membawanya ke mesjid, dan agar didirikan kemah untuknya agar ia berada di dekatnya selama perawatan.
Sa’ad, tokoh muda mereka itu dibawa oleh Kaum Muslimin ke tempatnya di mesjid Rasul. Ia menunjukkan pandangan matanya ke arah langit, lain mohonnya: -
“Ya Allah, jika dari peperangan dengan Quuaisy ini masih ada yang Engkau sisakan, maka panjangkanlah umurku untuk menghadapinya! Karena tak ada golongan yang diinginkan untuk menghadapi mereka daripada kaum yang telah menganiaya Rasul-Mu,telah mendustakan dan mengusirnya… !
Dan seandainya Engkau telah mengakhiri perang antara kami dengan mereka, jadikanlah kiranya musibah yang telah menimpa diriku sekarang ini sebagai jalan untuk menemui syahid … ! Dan janganlah aku dimatikan sebelum tercapainya yang memuaskan hatiku dengan Bani Quraidha … !”
Allah-lah yang menjadi pembimbingmu, wahai Sa’ad bin Mu’adz … ! Karena siapakah yang mampu mengeluarkan ucapan seperti itu dalam suasana demikian, selain dirimu …?
Dan permohonannya dikabulkan oleh Allah. Luka yang dideritanya menjadi penyebab yang mengantarkannya ke pintu syahid, karena sebulan setelah itu, akibat luka tersebut ia kembali menemui Tuhannya. Tetapi peristiwa itu terjadi setelah hatinya terobatil terhadap Bani Quraidha.
Kisahnya ialah setelah orang-orang Quraisy merasa putus asa untuk dapat menyerbu kota Madinah dan ke dalam barisan mereka menyelinap rasa gelisah, maka mereka sama mengemasi barang perlengkapan dan alat senjata, lalu kembali ke Mekah dengan hampa tangan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpendapat, mendiamkan perbuatan orang-orang Quraidha, berarti membuka kesempatan bagi kecurangan dan pengkhianatan mereka terhadap kota Madinah bilamana saja mereka menghendaki, suatu hal yang tak dapat dibiarkan berlalu! Oleh sebab itulah beliau mengerahkan shahabat-shahabatnya kepada Bani Quraidha itu. Mereka mengepung orang-orang Yahudi itu selama 25 hari. Dan tatkala dilihat oleh Bani Quraidha bahwa mereka tak dapat melepaskan diri dari Kaum Muslimin, mereka pun menyerahlah dan mengajukan permohonan kepada Rasulullah yang beroleh jawaban bahwa nasib mereka akan tergantung kepada putusan Sa’ad bin Mu’adz. Di masa jahiliyah dahulu, Sa’ad adalah sekutu Bani Quraidha ….
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim beberapa shahabat untuk membawa Saad bin Mu’adz dari kemah perawatannya di mesjid. Ia dinaikkan ke atas kendaraan, sementara badannya kelihatan lemah dan menderita sakit.
Kata Rasulullah kepadanya: “Wahai Sa’ad! Berilah keputusanmu terhadap Bani Quraidha … !” Dalam fikiran Sa’ad terbayang kembali kecurangan Bani Quraidha yang berakhir dengan perang Khandak dan nyaris menghancurkan kota Madinah serta penduduknya. Maka ujar Sa’ad: — “Menurut pertimbanganku, orang-orang yang ikut berperang di antara mereka hendaklah dihukum bunuh. Perempuan dan anak mereka diambil jadi tawanan, sedang harta kekayaan mereka dibagi-bagi … !” Demikianlah, sebelum meninggal, hati Sa’ad telah terobat terhadap Bani Quraidha….
Luka yang diderita Sa’ad setiap hari bahkan setiap jam kian bertambah parah …. Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguknya. Kiranya didapatinya ia dalam saat terakhir dari hayatnya. Maka Rasulullah meraih kepalanya dan menaruhnya di atas pangkuannya, lain berdu’a kepada Allah, katanya:
“Ya Allah, Sa’ad telah berjihad di jalan-mu ia telah membenarkan Rasul-Mu dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh… !”
Kata-kata yang dipanjatkan Nabi itu rupanya telah memberikan kesejukan dan perasaan tenteram kepada ruh yang hendak pergi. Dengan susah payah dicobanya membuka kedua matanya dengan harapan kiranya wajah Rasulullah adalah yang terakhir dilihatnya selagi hidup ini, katanya: “Salam atasmu, wahai Rasulullah… ! Ketahuilah bahwa aku mengakui bahwa anda adalah Rasulullah!”
Rasulullah pun memandangi wajah Sa’ad lalu katanya: “Kebahaggaan bagimu wahai Abu Amr … !”
Berkata Abu Sa’id al-Khudri: — “Saya adalah salah seorang yang menggali makam untuk Sa’ad · … Dan setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kesturi, hingga sampai ke liang lahat”.
Musibah dengan kematian Sa’ad yang menimpa Kaum Muslimin terasa berat sekali. Tetapi hiburan mereka juga tinggi nilainya, karena mereka dengar Rasul mereka yang mulia bersabda: “Sungguh, ‘Arasy Tuhan Yang Rahman bergetar dengan berpulangnya Sa’ad bin Mu’adz … !
Catatan pengalaman, pendapat dan curahan hati untuk dijadikan bacaan ringan sanak saudara dan kawan-kawan - tiada rahsia. Semua dijemput.
Showing posts with label Sahabat Rasulallah. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Rasulallah. Show all posts
05 March 2014
06 February 2014
Siapa Dia Saad Ibn Muaz
Pagi tadi semasa mendengar ceramah dari salah satu radio di Kuala Lumpur, saya teringin mengetahui secara lanjut kisah sahabat Rasulallah saw yang bernama Saad Ibn Muaz. Melalui beberapa blog saya memperolehi artikel ini.
Saad bin Muaz bin Nukman asal Madinah, suku Aus ini adalah seorang sahabat yang mempunyai jiwa patriot. Beliau adalah bangsawan suku Aus yang masuk Islam antara baiat Akabah I dan baiat Akabah II. Rasulullah pernah mengaplikasikan pendapatnya sekitar pembangkangan dan pembatalan perjanjian yang ditanda tangani Nabi dengan bani Quraizah yaitu membunuh kaum lelaki dan memperbudak kaum wanita dan anak-anak mereka. Beliau mati syahid dalam perang Khandak
Pada usia 31 tahun ia masuk Islam. Dan dalam usia 37 tahun ia pergi menemui syahidnya. Dan antara hari keislamannya sampai saat wafatnya, telah diisi oleh Sa’ad bin Muadz dengan karya-karya gemilang dalam berhakti kepada Allah dan Rasul-Nya… .
Lihatlah, Gambarkanlah dalam ingatan kalian laki-laki yang anggun berwajah tampan berseri-seri, dengan tubuh tinggi jangkung dan badan gemuk gempal …? Nab, itulah dia ..!
Bagai hendak dilipatnya bumi dengan melompat dan berlari menuju rumah As’ad bin Zurarah, untuk melihat seorang pria dari Mekah bernama Mush’ab bin Umeir yang dikirim oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan guna menyebarkan tauhid dan Agama Islam di Madinah ….
Memang, ia pergi ke sana dengan tujuan hendak mengusir perantau ini ke luar perbatasan Madinah, agar ia membawa kembali Agamanya dan membiarkan penduduk Madinah dengan agama mereka. Tetapi baru saja ia bersama Useid bin Zurarah sampai ke dekat majlis Mush’ab di rumah sepupunya, tiba-tiba dadanya telah terhirup udara segar yang meniupkan rasa nyaman. Dan belum lagi ia sampai kepada hadirin dan duduk di antara mereka memasang telinga terhadap uraian-uraian Mush’ab, maka petunjuk Allah telah menerangi jiwa dan ruhnya.
Demikianlah, dalam ketentuan taqdir yang mengagumkan, mempesona dan tidak terduga, pemimpin golongan Anshar itu melemparkan lembingnya jauh-jauh, lain mengulurkan tangan kanannya mengangkat bai’at kepada utusan Rasulullah …..
Dan dengan masuk Islamnya Sa’ad, bersinarlah pula di Madinah mata hari baru, Yang pada garis edarnya akan berputar dan beriringan qalbu yang tidak sedikit jumlahnya, dan bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan diri mereka kepada Allah Robbul’alamin . . . !
Sa’ad telah memeluk Islam, memikul tanggung jawab itu dengan keberanian dan kebesaran … Dan tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, maka rumah-rumah kediaman Bani Abdil Asyhal, yakni kabilah Sa’ad, pintunya terbuka lebar bagi golongan Muhajirin, begitu pula semua harta kekayaan mereka dapat dimanfa’atkan tanpa batas, pemakainya tidak perlu rendah diri dan jangan takut akan disodori bon perhitungan.
Saad bin Muaz bin Nukman asal Madinah, suku Aus ini adalah seorang sahabat yang mempunyai jiwa patriot. Beliau adalah bangsawan suku Aus yang masuk Islam antara baiat Akabah I dan baiat Akabah II. Rasulullah pernah mengaplikasikan pendapatnya sekitar pembangkangan dan pembatalan perjanjian yang ditanda tangani Nabi dengan bani Quraizah yaitu membunuh kaum lelaki dan memperbudak kaum wanita dan anak-anak mereka. Beliau mati syahid dalam perang Khandak
Pada usia 31 tahun ia masuk Islam. Dan dalam usia 37 tahun ia pergi menemui syahidnya. Dan antara hari keislamannya sampai saat wafatnya, telah diisi oleh Sa’ad bin Muadz dengan karya-karya gemilang dalam berhakti kepada Allah dan Rasul-Nya… .
Lihatlah, Gambarkanlah dalam ingatan kalian laki-laki yang anggun berwajah tampan berseri-seri, dengan tubuh tinggi jangkung dan badan gemuk gempal …? Nab, itulah dia ..!
Bagai hendak dilipatnya bumi dengan melompat dan berlari menuju rumah As’ad bin Zurarah, untuk melihat seorang pria dari Mekah bernama Mush’ab bin Umeir yang dikirim oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan guna menyebarkan tauhid dan Agama Islam di Madinah ….
Memang, ia pergi ke sana dengan tujuan hendak mengusir perantau ini ke luar perbatasan Madinah, agar ia membawa kembali Agamanya dan membiarkan penduduk Madinah dengan agama mereka. Tetapi baru saja ia bersama Useid bin Zurarah sampai ke dekat majlis Mush’ab di rumah sepupunya, tiba-tiba dadanya telah terhirup udara segar yang meniupkan rasa nyaman. Dan belum lagi ia sampai kepada hadirin dan duduk di antara mereka memasang telinga terhadap uraian-uraian Mush’ab, maka petunjuk Allah telah menerangi jiwa dan ruhnya.
Demikianlah, dalam ketentuan taqdir yang mengagumkan, mempesona dan tidak terduga, pemimpin golongan Anshar itu melemparkan lembingnya jauh-jauh, lain mengulurkan tangan kanannya mengangkat bai’at kepada utusan Rasulullah …..
Dan dengan masuk Islamnya Sa’ad, bersinarlah pula di Madinah mata hari baru, Yang pada garis edarnya akan berputar dan beriringan qalbu yang tidak sedikit jumlahnya, dan bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan diri mereka kepada Allah Robbul’alamin . . . !
Sa’ad telah memeluk Islam, memikul tanggung jawab itu dengan keberanian dan kebesaran … Dan tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, maka rumah-rumah kediaman Bani Abdil Asyhal, yakni kabilah Sa’ad, pintunya terbuka lebar bagi golongan Muhajirin, begitu pula semua harta kekayaan mereka dapat dimanfa’atkan tanpa batas, pemakainya tidak perlu rendah diri dan jangan takut akan disodori bon perhitungan.
30 September 2013
KENAPA PENGIKUT SYIAH MEMBENCI PARA SAHABAT?
Tentu kita merasa sangat hairan mengapa puak Syiah membenci para sahabat Rasulullah saw? apa yang menyebabkan perasaan marah mereka menjadi-jadi sehinggakan mereka mereka doa-doa semata-mata untuk mencerca sahabat-sahabat yang dikasihi oleh baginda Rasul. Di bawah ini adalah keterangan oleh YBhg Dr. Basit mengenai perkara tersebut.
Sebab utama mereka mengisytiharkan Saidina Abu Bakar, Umar dan Uthman sebagai kafir kerana mereka dianggap merampas jawatan khalifah daripada Saidina Ali. Para sahabat lain mengiktiraf kekhalifahan mereka juga turut diisytiharkan kafir.
Kedengkian mereka terhadap para sahabat Nabi membuatkan mereka mengutuk golongan yang dikasihi Nabi ini. Bahkan bagi mereka, salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan cara mengutuk para sahabat secara melampau.
Al-Mulla Kazim meriwayatkan daripada Abu Hamzah al-Tsumali atau nama samarannya Zainal Abidin. Dia mengatakan:
“Sesiapa mengutuk al-jibt adan al-thagut (maksudnya Abu Bakar dan Umar) dengan satu kutukan, maka Allah mencatat baginya tujuh puluh juta pahala, dan dihapus baginya tujuh puluh juta keburukan, serta dinaikkan darjatnya dengan tujuh puluh juta tingkat. Dan sesiapa mengutuk mereka berdua pada waktu petang dengan satu kutukan, maka Allah mencatatkan bagi mereka ganjaran yang sama.”
Mereka turut mengeluarkan kata-kata cacian dan laknat yang dijadikan dalam bentuk doa. Ia dinamakan “Doa Dua Berhala” yang melaknat Abu Bakar dan Umar sebagai dua pendusta dan dua anak perempuannya Aisyah dan Hafsah.
Seluruh Umat Islambahkan semua penganut agama samawi pasti mengetahui dengan jelas bahawa mengutuk dan melaknat bukan satu bentuk ibadah. Malah Allah tidak disembah dengan cara mengutuk iblis terkutuk yang telah diusir daripada rahmat Allah dalam bentuk wirid khusus. Namun, inilah yang dilakukan oleh kaum Syiah Rafidah ketika melaknat Abu Bakar dan Umar.
Sebab utama mereka mengisytiharkan Saidina Abu Bakar, Umar dan Uthman sebagai kafir kerana mereka dianggap merampas jawatan khalifah daripada Saidina Ali. Para sahabat lain mengiktiraf kekhalifahan mereka juga turut diisytiharkan kafir.
Kedengkian mereka terhadap para sahabat Nabi membuatkan mereka mengutuk golongan yang dikasihi Nabi ini. Bahkan bagi mereka, salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan cara mengutuk para sahabat secara melampau.
Al-Mulla Kazim meriwayatkan daripada Abu Hamzah al-Tsumali atau nama samarannya Zainal Abidin. Dia mengatakan:
“Sesiapa mengutuk al-jibt adan al-thagut (maksudnya Abu Bakar dan Umar) dengan satu kutukan, maka Allah mencatat baginya tujuh puluh juta pahala, dan dihapus baginya tujuh puluh juta keburukan, serta dinaikkan darjatnya dengan tujuh puluh juta tingkat. Dan sesiapa mengutuk mereka berdua pada waktu petang dengan satu kutukan, maka Allah mencatatkan bagi mereka ganjaran yang sama.”
Mereka turut mengeluarkan kata-kata cacian dan laknat yang dijadikan dalam bentuk doa. Ia dinamakan “Doa Dua Berhala” yang melaknat Abu Bakar dan Umar sebagai dua pendusta dan dua anak perempuannya Aisyah dan Hafsah.
Seluruh Umat Islambahkan semua penganut agama samawi pasti mengetahui dengan jelas bahawa mengutuk dan melaknat bukan satu bentuk ibadah. Malah Allah tidak disembah dengan cara mengutuk iblis terkutuk yang telah diusir daripada rahmat Allah dalam bentuk wirid khusus. Namun, inilah yang dilakukan oleh kaum Syiah Rafidah ketika melaknat Abu Bakar dan Umar.
25 September 2013
9 Kesesatan Syiah Menurut Syekh Yusuf Al Qaradhawi - Part 1
Oleh Pizaro — Ahad 17 Zulkaedah 1434 / 22 September 2013 15:17
DR Yusuf Al Qaradhawi dalam Fatawa Mu’ashirah, menjelaskan 9 perbedaan tajam antara Ahlus Sunnah yang moderat dengan Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariah/12 Imam. Berikut ini fatwa beliau:
1. Sikap Syi’ah terhadap Al Qur`an
Sikap mereka terhadap Al Qur`an seperti yang telah saya jelaskan berulang-ulang kali bahwa mereka tetap percaya dengan Al Qur`an yang kita hafal. Mereka berkeyakinan bahwa Al Qur`an adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mushaf yang dicetak di Iran dengan mushaf yang dicetak di Mekah, Madinah dan Kairo adalah sama. Al Qur`an ini dihafal oleh anak-anak Iran di sekolah-sekolah agama (madrasah/ pesantren) di sana. Para ulama Iran juga mengutip dalil-dalil Al Qur`an di dalam masalah pokok-pokok dan furu di dalam ajaran Syi’ah yang telah ditafsirkan oleh para ulama mereka di dalam kitab-kitabnya. Namun masih tetap ada di antara mereka yang berkata, “Sesungguhnya Al Qur`an ini tidak lengkap. Karena ada beberapa surat dan ayat yang dihilangkan dan akan dibawa oleh Al Mahdi pada saat dia muncul dari persembunyiannya.”
Mungkin saja sebagian besar ulama mereka tidak mempercayai hal ini. Sayangnya mereka tidak mengkafirkan orang yang telah mengatakan hal di atas. Inilah sikap yang sangat berbeda dengan sikap Ahlu Sunnah, yaitu barang siapa yang meyakini telah terjadi penambahan dan pengurangan terhadap Al Qur`an, maka dengan tidak ragu lagi, kami akan cap dia sebagai orang kafir.
Padahal keyakinan seperti ini terdapat di dalam kitab-kitab rujukan mereka, seperti AlKaafiy yang sebanding dengan kitab Shahih Al Bukhari bagi Ahlu Sunnah. Kitab ini telah dicetak dan diterjemahkan laludidistribusikan ke seluruh dunia tanpa ada penjelasan apa-apa di dalamnya. Ada pepatah di masyarakat, “Orang yang diam terhadap kebatilan, sama dengan orang yang membicarakannya.”
2. Sikap Syi’ah terhadap As Sunnah
Definisi As Sunnah menurut Ahlu Sunnah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah dimaksum oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Dia perintahkan umat Islam untuk menaati beliau di samping taat kepada-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah, Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk,” (QS An Nur [24]: 54). "dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat,” (QS An Nur [24]: 56). “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),” (QS An Nisa [04]: 59). “Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir,” (QS Ali Imran [03]: 32). “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka,” (QS An Nisa [04]: 80). “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” (QS An Najm [53]: 3-4) dan ayat-ayat yang lainnya.
Akan tetapi batasan As Sunnah menurut Syi’ah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para imam mereka yang maksum. Maksudnya,sunnah mencakup bukan hanya sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan jugasunnah kedua belas imam mereka. Imam mereka yang 12 orang tersebut wajib ditaati sebagaimana taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasul-Nya yang dikuatkan dengan wahyu. Mereka telah menambahkan perintah Al Qur`an untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasulNya yaitu agar taat kepada makhluk yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri tidak memerintahkannya. Lebih dari itu, kita mengkritik Syi’ah karena telah meriwayatkan sunnah dari orang-orang yang tidak tsiqah (terpercaya) karena tidak memenuhi unsur keadilan dan kesempurnaan hafalan.
Oleh karena itu, kitab-kitab rujukan Ahlu Sunnah tidak diterima oleh mereka. Mereka tidak mau menerima kitab Shahih Bukhari, Muslimdan Kutub Sittah lainnya, tidak mau menerima kitab Al Muwatha, Musnad Ahmad dan kitab-kitab yang lainnya.
3. Sikap Syi’ah terhadap Para Sahabat
Pandangan negatif mereka terhadap para sahabat merupakan pokok dan dasar ajaran Syi’ah. Sikap mereka itu adalah turunan dari pokok ajaran mereka yang meyakini bahwa, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat jika beliau wafat, maka Ali bin Abi Thalib adalah pengganti beliau. Akan tetapi para sahabat menyembunyikan wasiat ini dan mereka merampas hak Ali ini secara zalim dan terang-terangan. Para sahabat telah berkhianat terhadap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjadi wasilah mereka mendapatkan petunjuk dan mereka hidup di zaman beliau untuk menolongnya walaupun dengan nyawa dan segala yang mereka miliki.
Yang mengherankan, apakah mungkin para sahabat bersekongkol untuk melakukan hal ini, sementara Ali Radhiyallahu ‘Anh –sang pemberani hanya bisa diam saja tidak berani mengumumkan haknya ini. Justru Ali malah ikut membaiat Abu Bakar, Umar dan kemudian Utsman. Ali tidak berkata kepada salah seorang dari mereka itu, ”Sesungguhnya aku mempunyai wasiat dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Akan tetapi, mengapa kalian bersikap seolah-olah tidak tahu? Mengapa kalian hanya bermusyawarah dengan enam orang saja dan kalian menyibukkan diri kalian sendiri? Siapakah orangnya yang harus memilih sedangkan umat Islam telah menetapkan hal ini dengan wasiat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam?” Mengapa Ali tidak mau menjelaskan hal ini? Kemudian, jika memang Al Hasan bin Ali benar-benar telah tercatat sebagai khalifah setelah Ali karena ada wasiat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tapi mengapa justru Al Hasan mengalah dan memberikan jabatan khalifah ini kepada Mu’awiyah? Mengapa Al Hasan melakukan hal ini, padahal ini merupakan perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Dan mengapa justru Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya (hadits ramalan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam) memuji sikap Al Hasan ini?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab sama sekali oleh mereka.
Inilah tuduhan palsu mereka terhadap para sahabat yang tidak terbukti. Keterangan mereka ini sangat bertentangan dengan keterangan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan di dalam beberapa surat Al Qur`an. Seperti di akhir surat Al Anfal, surat At Taubah, surat Al Fath di pertengahan di akhirnya, surat Al Hasyr dan surat-surat lainnya.
Demikian pula As Sunnah telah memuji para sahabat baik secara umum maupun secara khusus. Juga zaman mereka itu dianggap sebagai sebaik-baik zaman setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Juga apa yang dicatat oleh sejarah tentang mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah menghafal Al Qur`an dan dari mereka lah umat menukilnya. Mereka juga adalah orang-orang yang telah menukil As Sunnah dan menyampaikan apa yang mereka nukil dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam baik perkataan, perbuatan maupun persetujuan beliau kepada umat ini.
juga adalah orang-orang yang telah melakukan futuh (pembebasan negeri lain dengan damai) dan membimbing umat ini menuju tauhid Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan risalah Islam. Mereka juga telah mempersembahkan kepada bangsa-bangsa yang dibebaskannya contoh-contoh teladan Qur’ani yang dijadikan sebagai petunjuk.
BERSAMBUNG
Sumber: http://www.islampos.com
DR Yusuf Al Qaradhawi dalam Fatawa Mu’ashirah, menjelaskan 9 perbedaan tajam antara Ahlus Sunnah yang moderat dengan Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariah/12 Imam. Berikut ini fatwa beliau:
1. Sikap Syi’ah terhadap Al Qur`an
Sikap mereka terhadap Al Qur`an seperti yang telah saya jelaskan berulang-ulang kali bahwa mereka tetap percaya dengan Al Qur`an yang kita hafal. Mereka berkeyakinan bahwa Al Qur`an adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mushaf yang dicetak di Iran dengan mushaf yang dicetak di Mekah, Madinah dan Kairo adalah sama. Al Qur`an ini dihafal oleh anak-anak Iran di sekolah-sekolah agama (madrasah/ pesantren) di sana. Para ulama Iran juga mengutip dalil-dalil Al Qur`an di dalam masalah pokok-pokok dan furu di dalam ajaran Syi’ah yang telah ditafsirkan oleh para ulama mereka di dalam kitab-kitabnya. Namun masih tetap ada di antara mereka yang berkata, “Sesungguhnya Al Qur`an ini tidak lengkap. Karena ada beberapa surat dan ayat yang dihilangkan dan akan dibawa oleh Al Mahdi pada saat dia muncul dari persembunyiannya.”
Mungkin saja sebagian besar ulama mereka tidak mempercayai hal ini. Sayangnya mereka tidak mengkafirkan orang yang telah mengatakan hal di atas. Inilah sikap yang sangat berbeda dengan sikap Ahlu Sunnah, yaitu barang siapa yang meyakini telah terjadi penambahan dan pengurangan terhadap Al Qur`an, maka dengan tidak ragu lagi, kami akan cap dia sebagai orang kafir.
Padahal keyakinan seperti ini terdapat di dalam kitab-kitab rujukan mereka, seperti AlKaafiy yang sebanding dengan kitab Shahih Al Bukhari bagi Ahlu Sunnah. Kitab ini telah dicetak dan diterjemahkan laludidistribusikan ke seluruh dunia tanpa ada penjelasan apa-apa di dalamnya. Ada pepatah di masyarakat, “Orang yang diam terhadap kebatilan, sama dengan orang yang membicarakannya.”
2. Sikap Syi’ah terhadap As Sunnah
Definisi As Sunnah menurut Ahlu Sunnah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah dimaksum oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Dia perintahkan umat Islam untuk menaati beliau di samping taat kepada-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah, Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk,” (QS An Nur [24]: 54). "dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat,” (QS An Nur [24]: 56). “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),” (QS An Nisa [04]: 59). “Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir,” (QS Ali Imran [03]: 32). “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka,” (QS An Nisa [04]: 80). “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” (QS An Najm [53]: 3-4) dan ayat-ayat yang lainnya.
Akan tetapi batasan As Sunnah menurut Syi’ah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para imam mereka yang maksum. Maksudnya,sunnah mencakup bukan hanya sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan jugasunnah kedua belas imam mereka. Imam mereka yang 12 orang tersebut wajib ditaati sebagaimana taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasul-Nya yang dikuatkan dengan wahyu. Mereka telah menambahkan perintah Al Qur`an untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasulNya yaitu agar taat kepada makhluk yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri tidak memerintahkannya. Lebih dari itu, kita mengkritik Syi’ah karena telah meriwayatkan sunnah dari orang-orang yang tidak tsiqah (terpercaya) karena tidak memenuhi unsur keadilan dan kesempurnaan hafalan.
Oleh karena itu, kitab-kitab rujukan Ahlu Sunnah tidak diterima oleh mereka. Mereka tidak mau menerima kitab Shahih Bukhari, Muslimdan Kutub Sittah lainnya, tidak mau menerima kitab Al Muwatha, Musnad Ahmad dan kitab-kitab yang lainnya.
3. Sikap Syi’ah terhadap Para Sahabat
Pandangan negatif mereka terhadap para sahabat merupakan pokok dan dasar ajaran Syi’ah. Sikap mereka itu adalah turunan dari pokok ajaran mereka yang meyakini bahwa, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat jika beliau wafat, maka Ali bin Abi Thalib adalah pengganti beliau. Akan tetapi para sahabat menyembunyikan wasiat ini dan mereka merampas hak Ali ini secara zalim dan terang-terangan. Para sahabat telah berkhianat terhadap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjadi wasilah mereka mendapatkan petunjuk dan mereka hidup di zaman beliau untuk menolongnya walaupun dengan nyawa dan segala yang mereka miliki.
Yang mengherankan, apakah mungkin para sahabat bersekongkol untuk melakukan hal ini, sementara Ali Radhiyallahu ‘Anh –sang pemberani hanya bisa diam saja tidak berani mengumumkan haknya ini. Justru Ali malah ikut membaiat Abu Bakar, Umar dan kemudian Utsman. Ali tidak berkata kepada salah seorang dari mereka itu, ”Sesungguhnya aku mempunyai wasiat dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Akan tetapi, mengapa kalian bersikap seolah-olah tidak tahu? Mengapa kalian hanya bermusyawarah dengan enam orang saja dan kalian menyibukkan diri kalian sendiri? Siapakah orangnya yang harus memilih sedangkan umat Islam telah menetapkan hal ini dengan wasiat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam?” Mengapa Ali tidak mau menjelaskan hal ini? Kemudian, jika memang Al Hasan bin Ali benar-benar telah tercatat sebagai khalifah setelah Ali karena ada wasiat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tapi mengapa justru Al Hasan mengalah dan memberikan jabatan khalifah ini kepada Mu’awiyah? Mengapa Al Hasan melakukan hal ini, padahal ini merupakan perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Dan mengapa justru Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya (hadits ramalan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam) memuji sikap Al Hasan ini?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab sama sekali oleh mereka.
Inilah tuduhan palsu mereka terhadap para sahabat yang tidak terbukti. Keterangan mereka ini sangat bertentangan dengan keterangan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan di dalam beberapa surat Al Qur`an. Seperti di akhir surat Al Anfal, surat At Taubah, surat Al Fath di pertengahan di akhirnya, surat Al Hasyr dan surat-surat lainnya.
Demikian pula As Sunnah telah memuji para sahabat baik secara umum maupun secara khusus. Juga zaman mereka itu dianggap sebagai sebaik-baik zaman setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Juga apa yang dicatat oleh sejarah tentang mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah menghafal Al Qur`an dan dari mereka lah umat menukilnya. Mereka juga adalah orang-orang yang telah menukil As Sunnah dan menyampaikan apa yang mereka nukil dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam baik perkataan, perbuatan maupun persetujuan beliau kepada umat ini.
juga adalah orang-orang yang telah melakukan futuh (pembebasan negeri lain dengan damai) dan membimbing umat ini menuju tauhid Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan risalah Islam. Mereka juga telah mempersembahkan kepada bangsa-bangsa yang dibebaskannya contoh-contoh teladan Qur’ani yang dijadikan sebagai petunjuk.
BERSAMBUNG
Sumber: http://www.islampos.com
14 September 2013
BIODATA ZUBAIR BIN AL-AWWAM
Nama lengkapnya Zubair bin Awwam bin Khuwailid Al-Quraisy Al Asadi, biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelar Hawari Rasulullah SAW. (teman setia nabi) Beliau merupakan antara 10 sahabat yang dijanjikan syurga.
Beliau dilahirkan tahun 28 hijrah. Nasabnya bertemu dengan Nabi pada Qushai. Ibunya adalah Shafiyah bt Absul Muthalib. Ia bernikah denga Asma’ Bt. Abu Bakar, dan antara anaknya adalah Abdullah B Zubair, Urwah B Zubair dan Ursa ibn Zubair.
Beliau merupakan salah seorang "mubasyirin bil-jannah" (sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga) dan merupakan salah seorang pejuang yang hebat. Bersama dengan Khalid Al-Walid, mereka berdua sahaja yang berkeupayaan untuk berperang dengan dua pedang dalam satu masa, walaupun ketika menunggang kuda.
Rasulullah pernah mempersaudarakannya dengan Salamah B Salamah. Tercatat 7 orang sahabat Nabi yang pernah berwasiat kepada Zubair untuk memelihara anak-anak mereka. Antaranya Uthman, Abdurrahman bin Auf, dan bin Ibn Masu'd. Zubair memelihara anak-anak mereka dan menafkahi mereka dari hartanya sendiri. Ia termasuk antara sahabat Nabi yang kaya raya. Ia meninggalkan harta sebanyak 40 juta dirham.
Ibunya pernah memukulnya, apabila ibunya ditegur, dia menjawab dengan melantunkan syair:
“Aku memukulnya agar ia tangkas menunggang kuda, memimpin prajurit dan menjadi orang yang berguna”
Harapan ibunya menjadi kenyataan. Zubair akhirnya menjadi seorang penunggang kuda yang hebat.
Ia meriwayatkan 38 hadits dari Nabi. Diantaranya, Abdullah bin Zubair berkata, “Aku pernah mengatakan kepada ayahku, Zubair, “Aku tidak mendengar meriwayatkan hadits dari Nabi sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat lain.” Zubair menjawab, “Aku adalah sahabat yang selalu menyertai Nabi dan aku pernah mendengar Beliau bersabda, “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Al-Bukhari).
Hadith tentang Zubair:
Nabi SAW pernah berkata “Thalhah dan Zubair, keduanya adalah tetanggaku di syurga” (HR Trimidzi)
“setiap nabi mempunya hawari (sahabat setia), dan sahabat setiaku adalah Zubair” (HR Bukhari)
Dirawikan daripada Abdullah B Zubair, ia berkata “ Pada Perang Azhab, aku melihat Zubair dengan menunggang kudanya mundar-mandir masuk ke pasukan Bani Quraizah 2 / 3 kali. Setelah pulang saya bertanya “ Wahai ayahku, dalam perang Azhab aku melihatmu mengekori pasukan Bani Quraizah” “ Apakah kamu melihatku, wahai anakku?” tanya Zubair. Abdullah mengiyakan. Zubair mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “ Siapa yang menyelediki berita tentang Bani Quraizah, hendaklah ia menyampaikan kepadaku berita tentang mereka”. Aku pergi menyeledikinya. Ketika aku kembali, Rasulullah SAW menghimpun untukku kedua orang tuanya dan berkata, “Ayah ibuku menebusmu (fadaka abi wa Ummu).”. (HR. Al-Bukhari).
Kisah tentang Zubair. Ia adalah orang pertama yang menghunus pedangnya setelah mendapat berita bahawa Nabi SAW terbunuh dalam perang Uhud. Kerana ia masuk Islam pakciknya pernah mengurungnya di sebuah rumah yang dipanasi api. Ia lalu berkata pada pakciknya, “Aku tidak akan murtad dari Islam untuk selama-lamanya” Ia ikut berhijrah ke Habsyah, yang pertama dan yang kedua. Ia sentiasa bersama mengikuti semua peperangan bersama Nabi.
Ia tidak pernah menjawat sebagai gabenor, hanya pernah menjawat sebagai panglima perang di jalan Allah. Pernah berhasil mencerai-beraikan antara pasukan Malik ibn Auf pemimpin Wilayah Hauzan, dengan panglima tentera orang-orang musyrik dalam perang Hunain. Pada gilirannya, kekuatan mereka menjadi kacau bilau dan akhirnya berhasil memukul mundur pasukan mereka.
Zubair adalah salah satu di antara enam orang (ashhab asy-syura’) yang di tunjuk Umar untuk memilih salah satu di antara mereka menjadi khalifah sepeninggalnya. Tatkala pasukan kaum muslimin sudah berada di depan benteng Babylon saat pembebasan wilayah Mesir dan pengepungan telah berlangsung selama tujuh bulan, Zubair meyampaikan kepada Amr bin Ash “Wahai Amr, aku serahkan diriku untuk Allah. Dengan itu aku berharap agar Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin” Amr menyetujui tindakan Zubair. Zubair maju dan meletakkan tangga lalu naik ke atas benteng seraya mengundangkan takbir. Takbir bergema dan diikuti seluruh pasukan kaum muslimin dan akhirnya benteng dapat dibuka.
Dalam perang Al-Jamal, ia mengundurkan diri dari barisan pasukan Muawiyah setelah diingatkan Ali dengan sabda Rasulullah SAW, “Wahai Zubair, tidakkah kamu mencintai Ali?” Zubair menjawab, “tidakkah aku mencintai putera pamanku sendiri dan orang seagama denganku?” beliau mengatakan “Wahai Zubair, demi Allah, kelak kamu akan memerangi (Ali) dan kamu berlaku aniaya terhadapnya” Mendengar hadith Nabi ini, ia langsung mengundurkan diri dari pasukan Mu’awiyah dan tidak mahu memerangi Ali.
Setelah menarik diri dari perang Jamal, Amr ibn Jurmuz mengekorinya, lalu membunuhnya pada saat ia sedang salat. Zubair meninggal pada tahun 36 H.
Sumber: 1001 Sirah Nabi Rasulallah saw
Beliau dilahirkan tahun 28 hijrah. Nasabnya bertemu dengan Nabi pada Qushai. Ibunya adalah Shafiyah bt Absul Muthalib. Ia bernikah denga Asma’ Bt. Abu Bakar, dan antara anaknya adalah Abdullah B Zubair, Urwah B Zubair dan Ursa ibn Zubair.
Beliau merupakan salah seorang "mubasyirin bil-jannah" (sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga) dan merupakan salah seorang pejuang yang hebat. Bersama dengan Khalid Al-Walid, mereka berdua sahaja yang berkeupayaan untuk berperang dengan dua pedang dalam satu masa, walaupun ketika menunggang kuda.
Rasulullah pernah mempersaudarakannya dengan Salamah B Salamah. Tercatat 7 orang sahabat Nabi yang pernah berwasiat kepada Zubair untuk memelihara anak-anak mereka. Antaranya Uthman, Abdurrahman bin Auf, dan bin Ibn Masu'd. Zubair memelihara anak-anak mereka dan menafkahi mereka dari hartanya sendiri. Ia termasuk antara sahabat Nabi yang kaya raya. Ia meninggalkan harta sebanyak 40 juta dirham.
Ibunya pernah memukulnya, apabila ibunya ditegur, dia menjawab dengan melantunkan syair:
“Aku memukulnya agar ia tangkas menunggang kuda, memimpin prajurit dan menjadi orang yang berguna”
Harapan ibunya menjadi kenyataan. Zubair akhirnya menjadi seorang penunggang kuda yang hebat.
Ia meriwayatkan 38 hadits dari Nabi. Diantaranya, Abdullah bin Zubair berkata, “Aku pernah mengatakan kepada ayahku, Zubair, “Aku tidak mendengar meriwayatkan hadits dari Nabi sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat lain.” Zubair menjawab, “Aku adalah sahabat yang selalu menyertai Nabi dan aku pernah mendengar Beliau bersabda, “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Al-Bukhari).
Hadith tentang Zubair:
Nabi SAW pernah berkata “Thalhah dan Zubair, keduanya adalah tetanggaku di syurga” (HR Trimidzi)
“setiap nabi mempunya hawari (sahabat setia), dan sahabat setiaku adalah Zubair” (HR Bukhari)
Dirawikan daripada Abdullah B Zubair, ia berkata “ Pada Perang Azhab, aku melihat Zubair dengan menunggang kudanya mundar-mandir masuk ke pasukan Bani Quraizah 2 / 3 kali. Setelah pulang saya bertanya “ Wahai ayahku, dalam perang Azhab aku melihatmu mengekori pasukan Bani Quraizah” “ Apakah kamu melihatku, wahai anakku?” tanya Zubair. Abdullah mengiyakan. Zubair mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “ Siapa yang menyelediki berita tentang Bani Quraizah, hendaklah ia menyampaikan kepadaku berita tentang mereka”. Aku pergi menyeledikinya. Ketika aku kembali, Rasulullah SAW menghimpun untukku kedua orang tuanya dan berkata, “Ayah ibuku menebusmu (fadaka abi wa Ummu).”. (HR. Al-Bukhari).
Kisah tentang Zubair. Ia adalah orang pertama yang menghunus pedangnya setelah mendapat berita bahawa Nabi SAW terbunuh dalam perang Uhud. Kerana ia masuk Islam pakciknya pernah mengurungnya di sebuah rumah yang dipanasi api. Ia lalu berkata pada pakciknya, “Aku tidak akan murtad dari Islam untuk selama-lamanya” Ia ikut berhijrah ke Habsyah, yang pertama dan yang kedua. Ia sentiasa bersama mengikuti semua peperangan bersama Nabi.
Ia tidak pernah menjawat sebagai gabenor, hanya pernah menjawat sebagai panglima perang di jalan Allah. Pernah berhasil mencerai-beraikan antara pasukan Malik ibn Auf pemimpin Wilayah Hauzan, dengan panglima tentera orang-orang musyrik dalam perang Hunain. Pada gilirannya, kekuatan mereka menjadi kacau bilau dan akhirnya berhasil memukul mundur pasukan mereka.
Zubair adalah salah satu di antara enam orang (ashhab asy-syura’) yang di tunjuk Umar untuk memilih salah satu di antara mereka menjadi khalifah sepeninggalnya. Tatkala pasukan kaum muslimin sudah berada di depan benteng Babylon saat pembebasan wilayah Mesir dan pengepungan telah berlangsung selama tujuh bulan, Zubair meyampaikan kepada Amr bin Ash “Wahai Amr, aku serahkan diriku untuk Allah. Dengan itu aku berharap agar Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin” Amr menyetujui tindakan Zubair. Zubair maju dan meletakkan tangga lalu naik ke atas benteng seraya mengundangkan takbir. Takbir bergema dan diikuti seluruh pasukan kaum muslimin dan akhirnya benteng dapat dibuka.
Dalam perang Al-Jamal, ia mengundurkan diri dari barisan pasukan Muawiyah setelah diingatkan Ali dengan sabda Rasulullah SAW, “Wahai Zubair, tidakkah kamu mencintai Ali?” Zubair menjawab, “tidakkah aku mencintai putera pamanku sendiri dan orang seagama denganku?” beliau mengatakan “Wahai Zubair, demi Allah, kelak kamu akan memerangi (Ali) dan kamu berlaku aniaya terhadapnya” Mendengar hadith Nabi ini, ia langsung mengundurkan diri dari pasukan Mu’awiyah dan tidak mahu memerangi Ali.
Setelah menarik diri dari perang Jamal, Amr ibn Jurmuz mengekorinya, lalu membunuhnya pada saat ia sedang salat. Zubair meninggal pada tahun 36 H.
Sumber: 1001 Sirah Nabi Rasulallah saw
Subscribe to:
Posts (Atom)



