29 April 2013

Nabi Salleh as dan Unta Betina - Part 1

Bismillahirrahmanirrahim...

Mari kita berkisahkan cerita Nabi Saleh as kerana keadaan ceritanya seperti dah terjadi di negara kita. Jadi sebelumnya menjadi bertambah buruk, ada baiknya jika kita muhasabah diri, pemimpin dan komuniti kita.

Cuba buka Al-Quran, Surah Al-Qamar ayat 25 hingga ayat 32 yang bermaksud :

"Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Pastilah dia (Nabi Saleh as) seorang yang sangat pendusta dan sombong. (25)

Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta dan sombong itu. (26)

Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cubaan bagi mereka, maka tunggulah mereka dan bersabarlah (wahai Saleh).(27)

Dan beritahulah kepada mereka bahawa air itu dibahagi di antara mereka (dengan unta betina itu); setiap orang berhak mendapat giliran minum.(28)

Maka mereka memanggil kawannya lalu dia menangkap (unta itu) dan memotongnya.(29)

Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku. (30)

Kami kirimkan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk. (31) dan

Sungguh telah Kami Mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mahu mengambil pelajaran? (32) Sodaqallahullazim... benarlah kata-kata Allah.

Kisah Nabi Saleh sebenarnya banyak diceritakan di dalam Al-Quran, ianya tertulis di dalam 72 ayat iaitu. dalam 11 surah. Antaranya Surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79; Surah Hud ayat 61 hingga ayat 68; Surah Al-Hijr; Surah Al-Fajr; Surah Asy-Syams; Surah Qaf; Surah Al-Israa’; Surah Adz-Dzariyaat; Surah Fussilat; Surah Al-Haaqqah dan banyak lagi.

Siapa dia Nabi Saleh?

Menurut salasilah, Nabi Saleh Alaihissalam adalah putra kepada 'Ubaidah bin Tsamud bin 'Amir bin Iram bin Sam bin Nuh AS. Baginda diutuskan kepada kaum Tsamud yang hidup di atas bekas runtuhan kaum Ad (kaum Nabi Hud). Nama kaum Thamud ni diambil daripada name moyang diorang seperti yang saye nyatakan kat atas tadi (Ubaidah bin Thamud). Bangsa Tsamud ni sebenarnya lebih pandai daripada kaum Aad. Setelah kaum Aad binasa, negeri mereka menjadi tandus dan kering. Kemudian negeri ini dibangun kembali oleh kaum Tsamud, sehingga menjadi negeri yang hijau dan makmur.

Akan tetapi, same macam kaum Ad yang terdahulu, kaum Tsamud pun menjadi sombong dan lupa diri dengan kehebatan yang mereka miliki tu..macam biaselaa..bile kuat, mereka yang kuat akan menekan mereka yang lemah atau yang xde pengaruh ni. Mereka pun tidak mau mendengarkan dakwah Nabi Saleh AS.

Manakala perkataan Tsamud pula adalah nama suatu suku yang dimasukkan bahagian dari bangsa Arab oleh ahli sejarah dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama " Alhijir " terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Ad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang dikirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud A.S. Anda boleh merujuk peta di atas, di mana letaknya Hijaz tu...

Sumber-sumber sejarah ada mengungkap, sekelompok orang yang disebut dengan Tsamud ini benar-benar wujud. Masyarakat al-Hijr (batu) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran adalah sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab al-Hijr. Kata ‘Tsamud’ adalah nama dari suatu kaum, sedangkan kata al-Hijr adalah salah satu di antara beberapa kota yang dibangun oleh orang tersebut. Seperti umat Nabi Hud yaitu kaum ‘Ad, ahli geografi Yunani yang bernama Pliny menggambarkan bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat tinggal kaum Tsamud. Tempat tersebut hingga kini dikenal dengan nama Kota Al-Hijr.

Sumber tertua yang berkaitan dengan kaum Tsamud adalah hikayat kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan orang-orang ini dalam pertempuran di Arabia selatan. Bangsa Yunani juga menghubungkan kaum ini sebagai ‘Tamudaei’, yakni ‘Tsamud’ sebagaimana ditulis Aristoteles, Ptolomeus, dan Pliny. Kaum Tsamud ini diperkirakan hidup pada abad ke-8 Sebelum Masehi, sekitar tahun 800an SM.

Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud. Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang rata dan dipahatnya dari gunung. Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram, sejahtera, dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan alam dan mengaku bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berkorban, tempat mereka meminta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan. Mereka tidak dapat melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dapat mereka jangkau dengan pancaindera.

Sumber: dari blog seseorang yang saya terlupa namanya, Al-Quran dan beberapa buku Islam.

No comments: